Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Sumenep

Pingsan, Hingga Anak Nyaris Tertinggal, Keberangkatan Kapal Dramatis

Empat Hari Tertunda, Dua Kapal Diberangkatkan

09 Januari 2020, 16: 51: 36 WIB | editor : Abdul Basri

HISTERIS: Seorang perempuan menangis saat anaknya nyaris tertinggal karena belum naik ke atas kapal kemarin.

HISTERIS: Seorang perempuan menangis saat anaknya nyaris tertinggal karena belum naik ke atas kapal kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Ratusan penumpang tujuan kepulauan Sumenep yang tertahan di Pelabuhan Kalianget sejak Minggu (5/1) bisa pulang ke kampung halaman kemarin (8/1). Dua kapal diberangkatkan setelah Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kalianget mengizinkan berlayar.

Sebelumnya, sejumlah keberangkatan kapal ditunda akibat cuaca buruk. Sebab, gelombang tinggi berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) cukup membahayakan bagi keselamatan pelayaran. Karena itu, KSOP Kalianget mengeluarkan surat peringatan cuaca buruk dan merekomendasi untuk penundaan seluruh pelayaran kapal pada 5–9 Januari 2020.

Setelah cuaca diprediksi membaik, Kapal Motor Penumpang Dharma Bahari Sumekar (KMP DBS) I dan KMP DBS III diberangkatkan. Proses keberangkatan kapal berlangsung dramatis. Ratusan penumpang sudah memenuhi dermaga pelabuhan sejak sekitar pukul 05.00. Padahal keberangkatan pertama KMP DBS III pukul 09.00.

Kapal milik PT Sumekar (Line) yang bersandar ke dermaga Pelindo III Kalianget sekitar pukul 06.30 itu langsung diserbu calon penumpang. Praktis, warga yang sudah menunggu lama rela berdesak-desakan untuk naik ke atas kapal. Penumpukan terjadi di luar maupun di dalam area dermaga.

Sekitar dua jam secara berangsur penumpang naik. Namun, penumpukan tetap terjadi. Bahkan, satu calon penumpang atas nama Sela, warga asal Desa Pabian, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, harus dibopong keluar dermaga. Remaja putri 13 tahun itu pingsan dan harus dibawa ke ruang kesehatan terminal Pelindo III. Gadis tersebut diduga kelelahan setelah lama berdiri dan berdesak-desakan dengan calon penumpang lain.

”Anak saya, Pak!” teriak seorang perempuan dari atas kapal sembari menangis. Ibu itu histeris karena anaknya masih berada di dermaga. Sementara tangga kapal sudah dinaikkan. Petugas bersama warga kemudian membantu mengangkat anak tersebut ke atas kapal disambut pelukan sang ibu.

Di sisi lain, beberapa penumpang harus mengurungkan niatnya berlayar bersama KMP DBS III. Tiket yang dibelinya di loket pelabuhan ditolak. Petugas melarang calon penumpang naik ke atas kapal karena tiket yang dipegang dianggap tidak sesuai.

”Padahal saya beli di loket resmi. Kata petugasnya tiket ini tidak sama. Saya beli Rp 130 ribu. Banyak yang ditolak,” keluh Suraini, 30, warga asal Desa Kolo-Kolo, Kecamatan Arjasa.

Meski tak bisa berlayar dengan KMP DBS III, dia berharap tiket tersebut tetap bisa digunakan untuk ikut dalam pelayaran kapal berikutnya. Sebab, dia bersama beberapa rekannya sudah mengantre lama. Bahkan, tidak sedikit rupiah yang dilkeluarkan selama menanti keberangkatan kapal.

”Berdiri lama di loket, berdiri lama di dekat tangga kapal, mau naik malah tidak boleh. Kecewa sudah pasti. Ini pertama kalinya saya punya tiket tapi ditolak,” ujarnya.

Direktur PT Sumekar (Line) Akhmad Zainal Arifin menjelaskan, penolakan pada sejumlah calon penumpang dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya, kondisi kapal sudah penuh. Selain itu, ada beberapa tiket penumpang yang sudah disobek oleh petugas sebagai tanda telah diperiksa. Setelah itu, dialihkan kembali kepada calon penumpang lain yang tidak memiliki tiket.

”Kalau yang belum disobek, kami pastikan bisa ikut pelayaran dengan KMP DBS I. Yang penting punya tiket. Karena DBS III sudah penuh,” jelasnya. Penjelasan Zainal tidak seperti tiket yang dipegang Suraini. Sebab, tiket yang dipegang Suraini belum ada tanda disobek. Masih utuh.

Zainal mengungkapkan, KMP DBS III total memuat sekitar 500 penumpang. Jumlah tersebut diakui melebihi kapasitas yang semestinya hanya 400 penumpang. Namun, menurutnya, kelebihan tersebut sudah dipertimbangkan dengan mengurangi beban muatan barang dan mengosongkan dek kendaraan. Dengan demikian, kapasitas untuk penumpang bisa ditambah pada tempat-tempat yang biasa digunakan untuk barang dan kendaraan.

”Barang kami batasi karena mendahulukan penumpang. Kami juga tidak mengangkut kendaraan agar bisa digunakan untuk penumpang,” terang Zainal.

Sementara KMP DBS I memuat sekitar 300 penumpang. Artinya, dalam sehari PT Sumekar (Line) telah membawa sekitar 800 penumpang tujuan Kalianget–Kangean dan Sapeken menggunakan dua armada kapalnya. Ratusan penumpang tersebut memenuhi setiap sisi kapal setelah empat hari pelayaran ditunda karena cuaca buruk.

”Semua penumpang bertiket. Karena ini menyangkut manifes. Kalau cuaca terus membaik, kami akan tetap melayani pelayaran hingga Jumat (10/1) ini,” ucapnya.

Sementara itu, Petugas Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhan KSOP Kalianget Edy Sucipto mengatakan, penundaan keberangkatan pelayaran kapal dari Pelabuhan Kalianget semula diberlakukan mulai tanggal 5–9 Januari. Namun, informasi terbaru dari BMKG terjadi penurunan gelombang laut Selasa (7/1). Dari 2,75 meter turun menjadi 2,25 meter. Karena itu, pihaknya mengizinkan pemberangkatan KMP DBS III.

Karena penumpang membeludak, pihaknya kemudian berkoordinasi dengan PT Sumekar (Line) untuk menambah armada. Setelah disetujui, KMP DBS I kemudian ikut melayani pelayaran Kalianget–Kangean. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Kalianget sekitar pukul 13.00.

”Alhamdulillah, cuaca sudah membaik. Semoga aktivitas pelayaran ke depan terus diberikan kelancaran, agar tidak lagi terjadi penumpukan penumpang dengan jumlah besar,” tukasnya.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia