Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Nur Anisa Maharani, Penderita Lymphangioma, Usai Operasi Perdana

08 Januari 2020, 12: 56: 46 WIB | editor : Abdul Basri

TERLELAP: Nur Anisa Maharani tertidur usai menjalani operasi perdana di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Senin (6/1).

TERLELAP: Nur Anisa Maharani tertidur usai menjalani operasi perdana di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Senin (6/1). (HALIM FOR RadarMadura.id)

Share this      

Operasi tahap awal Nur Anisa Maharani di RSUD dr Soetomo, Surabaya, berjalan lancar, tapi baru 20 persen. Bocah tujuh bulan itu masih harus menjalani operasi lanjutan.

PASANGAN suami istri Abd. Ra'uf dan Khoirotun Nisa bisa sedikit bernapas lega. Anak semata wayangnya memiliki harapan besar hidup normal. Lymphangioma yang menjangkiti kaki kiri anaknya kemungkinan besar sembuh.

Bocah yang lahir pada 20 Mei 2019 itu menjalani operasi perdana di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Senin (6/1). Tindakan medis itu berjalan lancar sesuai yang diharapkan.

Kesehatan bocah yang biasa dipanggil Rani itu membaik. Senyumnya kembali tersungging menyertai senyum kedua orang tuanya. Namun, entah apa yang dirasakan, Rani sering menangis.

Halim, kakek Rani, menuturkan, operasi tahap awal berjalan sukses. Rani masuk ruang operasi sekitar pukul 12.00. Dua jam kemudian, pukul 14.00, serangkaian operasi selesai.

Bocah asal Gang V, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, itu semakin membaik. Bahkan, bocah malang itu bisa tidur lelap. ”Alhamdulillah kondisinya membaik,” ucapnya kemarin (7/1).

Halim mengutarakan, tingkat operasi 20 persen. Ke depan akan digelar operasi lanjutan. Namun, keluarga belum mengetahui jadwal operasi lanjutan tersebut.

Pria yang menggemari fotografi itu berterima kasih kepada donatur. Sumbangan dari para dermawan sangat meringankan keluarga dalam memenuhi biaya akomodasi.

Keluarga Rani nyaris putus asa lantaran keterbatasan ekonomi. Namun, berkat bantuan masyarakat, semangat kembali bersemi. ”Terima kasih atas bantuan masyarakat,” ucap Halim.

Keluarga berharap kondisi Rani terus membaik. Masih ada sejumlah tahapan operasi yang harus dijalani. Butuh biaya dan tenaga untuk menjalankan seluruh tahapan medis tersebut.

Khoirotun Nisa, ibunda Rani, terharu atas suksesnya operasi itu. Dia menyampaikan terima kasih kepada para dermawan atas kerelaannya menyumbang biaya pengobatan.

Tanpa uluran tangan masyarakat, beban biaya yang harus ditanggung cukup berat. Bantuan yang diterima sangat membantu dalam penyembuhan bocah malang itu.

Nisa menceritakan, kelainan pada Rani muncul sejak lahir. Bahkan, pada usia tiga bulan, kaki bagian kiri membesar, hingga sekarang terus membesar seperti ukuran betis orang dewasa.

Siapa pun yang melihat kondisi Rani akan terharu. Sebab, bocah sekecil itu harus melawan penyakit ganas. ”Semoga operasi ini menjadi jalan kesembuhan bagi anak saya,” doanya.

Untuk diketahui, sejak mencuatnya informasi mengenai kondisi Rani, gelombang donasi membeludak. Dermawan, komunitas masyarakat, bahkan mahasiswa turut membantu meringankan biaya pengobatan.

Berbagai cara dilakukan masyarakat dalam upaya membantu penyembuhan Rani. Di antaranya, menggalang dana di jalanan hingga meminta donasi melalui perseorangan.

Donasi terus berjalan. Keluarga Rani masih butuh uluran tangan. Sebab, masih ada serangkaian operasi yang harus dijalani. Penyembuhan itu butuh biaya. Sementara orang tua Rani hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan.

(mr/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia