Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Mohammad Ali, Bayi Mungil yang Lahir tanpa Tempurung Kepala Sempurna

07 Januari 2020, 18: 37: 31 WIB | editor : Abdul Basri

SEMOGA DIMUDAHKAN: Moh. Ali digendong neneknya di lorong RSUD dr Soetomo, Surabaya, kemarin.

SEMOGA DIMUDAHKAN: Moh. Ali digendong neneknya di lorong RSUD dr Soetomo, Surabaya, kemarin. (ROHMAN FOr RadarMadura.id)

Share this      

Orang tuanya berharap Mohammad Ali hidup normal. Bayi mungil yang lahir dengan tempurung kepala tidak sempurna itu segera dioperasi.

ANGIN segar menerpa Habiburrahman dan Imrotul Hasanan. Pasangan suami istri (pasutri) muda asal Dusun Tengah Satu, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, itu memiliki harapan anak semata wayangnya bisa hidup normal meski dengan tempurung kepala buatan.

Impitan ekonomi nyaris membuat Habiburrahman putus asa. Bekerja sebagai kuli jahit, dia hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Gaji yang didapat setiap hari kisaran Rp 30 ribu.

Dia mendapat cobaan berat dari Sang Pencipta. Imrotul Hasanah, istri tercintanya, melahirkan bayi dalam kondisi tidak sempurna. Hampir separo tempurung kepalanya tidak ada. Bahkan, hidung dan mata kiri tidak ada.

Keinginan Habiburrahman melihat anaknya berwajah sempurna sangat tinggi. Upaya datang ke rumah sakit dilakukan. Tapi, bayi mungil yang lahir pada 13 November 2019 itu tidak bisa ditangani di Pamekasan.

Bayi berjenis kelamin laki-laki itu harus ditangani di rumah sakit Surabaya. Meski Habiburrahman mendapat fasilitas kesehatan gratis, biaya akomodasi tinggal di Kota Pahlawan tidak sedikit. Kondisi itu yang nyaris membuat keinginannya terkubur.

Namun, berkat donasi dari para dermawan, harapan itu kembali bersemi. Pundi rupiah berhasil dikumpulkan sejumlah komunitas dan perseorangan. Hasilnya, proses medis bisa dilanjutkan.

Anton, 39, kerabat Habiburrahman, mengaku bersyukur atas donasi yang diberikan masyarakat. Berbagai komunitas dan instansi turut membantu penyembuhan Mohammad Ali. Biaya akomodasi keluarga terpenuhi.

Dengan demikian, penanganan medis bisa dilanjutkan. Pekan depan tim dokter di RSUD dr Soetomo akan melakukan CT scan. Yakni, proses diagnosis kondisi kepala bayi mungil tak berdosa itu.

Dari hasil diagnosis itu, akan diketahui langkah medis apa yang akan dilakukan. Kemudian, benjolan di dahi Mohammad Ali bakal diketahui. Sebab, selama ini, benjolan itu diprediksi gumpalan otak.

Butuh proses panjang dalam penyembuhan bayi mungil tersebut. Menurut tim dokter, harus dilakukan beberapa tahap medis. Di antaranya, operasi saraf untuk menyelamatkan fungsi saraf yang terdapat pada wajah Mohammad Ali.

Lalu, harus operasi bedah untuk membuat tempurung kepala. Sebab, anak pertama dari Habiburrahman dan Imrotul Hasanah itu tidak memiliki tempurung kepala sempurna. ”Masih banyak proses medis yang harus dilakukan,” katanya kemarin (6/1).

Anton berharap, bayi mungil itu memiliki wajah sempurna layaknya manusia biasa. Proses medis juga diharapkan berjalan lancar. ”Semoga masih ada harapan untuk hidup sempurna,” doanya.

Anton menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur. Tanpa bantuan masyarakat, Mohammad Ali akan sulit dibawa ke rumah sakit. Sebab, kondisi ekonomi orang tuanya sangat pas-pasan.

Ketua Komisi III DPRD Pamekasan Ismail mengatakan, Mohammad Ali butuh uluran tangan masyarakat. Kondisi ekonomi keluarganya tergolong lemah. Sementara itu, biaya hidup di Surabaya mahal.

Beberapa sumbangan dermawan sangat membantu keluarga. Uluran tangan itu diharapkan tetap mengalir. Mengingat, penyembuhannya butuh waktu lama. ”Semoga terus ada dermawan yang membantu,” harapnya.

 

(mr/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia