Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Keluh Kesah Anggota Satpam Perempuan di HUT Ke-39

Sering Dipandang Sebelah Mata

31 Desember 2019, 16: 23: 26 WIB | editor : Abdul Basri

TEKUNI PEKERJAAN: Tiga perempuan yang memilih menjadi anggota satpam saat diwawancarai di Mapolres Pamekasan kemarin.

TEKUNI PEKERJAAN: Tiga perempuan yang memilih menjadi anggota satpam saat diwawancarai di Mapolres Pamekasan kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Satuan pengamanan (satpam) merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-39. Banyak keluh kesah selama menjalankan tugas. Terutama bagi anggota perempuan.

HALAMAN Mapolres Pamekasan sesak kemarin (30/12). Petugas satpam dengan pakaian putih hitam khas seragam kebesarannya berjejer rapi. Mereka menggelar upacara perayaan HUT.

Korps yang bertugas menjaga keamanan di lingkungan instansi tertentu itu berusia 39 tahun. Dalam kurun waktu hampir empat dekade banyak cerita dan godaan dalam menjalankan tugas.

Seperti diceritakan anggota satpam perempuan kepada RadarMadura.id. Gender masih menjadi celah bagi masyarakat memandang sebelah mata. Bahkan, imbauannya kadang tak digubris.

Lailatin Nisfi, 30, anggota satpam yang bertugas di RSUD dr H Slamet Martodirjo, mengaku kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Misalnya, ketika menegur agar tidak merokok, tegurannya tidak digubris.

Dia sadar, teguran itu tidak digubris lantaran dirinya perempuan. Tetapi, meski mendapat perlakuan kurang baik, Nisfi tidak patah arang. Biasanya, dia mendekati perokok tersebut, lalu menyampaikan aturan yang berlaku.

Pendekatan secara persuasif itu mendapatkan hasil positif. Teguran yang disampaikan akhirnya diindahkan. ”Warga tidak boleh merokok di area rumah sakit. Meski ditegur biasanya tidak didengarkan, mungkin karena saya perempuan,” tuturnya.

Nisfi sudah menginjak tahun ketiga menjadi petugas satpam. Dia harus membagi waktu antara menjalankan tugas dengan keluarga. Apalagi, telah hadir buah hati dari hasil pernikahannya. Dia harus benar-benar mampu mengatur waktu.

Perempuan berhijab itu mengatakan, menjadi anggota satpam cukup berat. Tetapi, sedikit pun dia tidak pernah berpikir mengakhiri karirnya dan mencari pekerjaan baru. ”Saya sudah nyaman menjadi satpam,” ucapnya.

Beberapa harapan ditengadahkan Nisfi di momen HUT satpam. Di antaranya, kesejahteraan. Sampai sekarang, petugas satpam di Pamekasan belum mendapat honor sesuai upah minimum kabupaten (UMK) terbaru.

Keinginan sama disampaikan Kartikawati. Perempuan yang juga bertugas sebagai satpam di rumah sakit pelat merah itu juga berharap ada kenaikan kesejahteraan. Upah yang diterima sekarang sebenarnya cukup. Fasilitas jaminan kesehatan juga diberikan kepadanya.

Namun, jika memungkinkan upah tersebut ditambah. Harapannya, kesejahteraan mereka semakin meningkat. ”Alhamdulillah kami mendapat jaminan kesehatan,” ungkap Kartikawati.

Petugas satpam perempuan lainnya yang berbagi keluh kesah yakni Erika S. Perempuan yang bertugas di salah satu perbankan itu baru tiga bulan menjadi satpam. Tetapi, dia merasa nyaman menjalani pekerjaan tersebut.

Menurut Erika, pekerjaan apa pun jika dijalani dan ditekuni akan berdampak baik. Dia tidak pernah bercita-cita menjadi penjaga keamanan. Tetapi, takdir membawanya pada pekerjaan yang lazimnya dilakukan laki-laki itu. ”Saya nyaman dengan pekerjaan ini,” tandasnya.

(mr/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia