Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Vihara Avalokitesvara yang Selalu Ramai pada Libur Akhir Tahun

Jadi Tempat Belajar Sejarah hingga Wisata 

29 Desember 2019, 16: 38: 33 WIB | editor : Abdul Basri

LIBURAN: Sejumlah pelajar foto selfie di depan Vihara Avalokitesvara di Desa Polagan, Kecamatan Galis, kemarin.

LIBURAN: Sejumlah pelajar foto selfie di depan Vihara Avalokitesvara di Desa Polagan, Kecamatan Galis, kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Ratusan warga mengunjungi Vihara Avalokitesvara setiap harinya. Selain menikmati keindahan bangunan, sebagian wisatawan datang untuk belajar sejarah.

BANGUNAN megah dengan warna merah mencolok terlihat gagah di Desa Polagan, Kecamatan Galis. Bangunan itu tidak hanya menyimpan sejarah. Tapi, juga menjadi saksi peradaban.

Sejumlah tiang bercat merah berukuran besar berada di setiap sudut bangunan. Replika ular naga dengan sirip hijau kombinasi kuning yang melilit membuat tiang penyangga itu terlihat kian kukuh.

Keunikan ornamen bangunan menjadi daya tarik. Banyak wisatawan lokal, regional, bahkan nasional menghabiskan waktu santai di sana. Terlebih, di kompleks vihara yang menghadap selatan itu terdapat sejumlah tempat peribadatan sejumlah agama.

Mulai dari Islam, Buddha hingga Hindu ada di area kelenteng. Masyarakat muslim yang berkunjung tidak repot mencari tempat salat karena tersedia musala lengkap dengan air untuk bersuci.

Ketersediaan tempat ibadah itu membuat warga nyaman berwisata ke Vihara Avalokitesvara. Libur panjang akhir tahun menjadi momen paling ramai dikunjungi berbagai pemeluk agama.

Dwi Putri, 23, pengunjung asal Sumenep mengaku senang berwisata di tempat ibadah itu. Suasananya asri, penjaganya pun ramah terhadap tamu. Banyak ilmu sejarah yang bisa diperoleh dari kunjungan itu.

Sejumlah tempat ibadah yang ada di kelenteng itu menjadi daya tarik tersendiri. Keberadaan tempat ibadah beberapa agama itu menjadi simbol toleransi dan kerukunan umat beragama.

Masyarakat bisa mencontoh kerukunan yang disimbolkan tempat ibadah itu. Generasi muda bisa ditanamkan toleransi melalui simbol tersebut. ”Saya sangat tertarik berkunjung ke vihara ini,” katanya kemarin (28/12).

Menurut Putri, sangat baik jika peninggalan sejarah itu bisa jadi bahan edukasi bagi masyarakat. Secara rutin, lembaga pendidikan bisa mengarahkan anak didiknya berkunjung dan belajar di tempat bersejarah itu.

Koordinator Keamanan Vihara Avalokitesvara Novem mengatakan, pada musim libur sangat banyak warga yang berkunjung. Tujuannya beragam. Mulai belajar sejarah hingga sekedar bersantai.

Pengunjung vihara dari berbagai usia. Mulai orang tua, anak, dewasa hingga remaja. Setiap hari, sekitar 500 orang berkunjung ke kelenteng terbesar di Madura itu. ”Kalau hari Minggu sampai sesak,” katanya.

Novem mengatakan, wihara boleh dikunjungi siapa pun. Hanya, ada batas tertentu yang tidak boleh sembarang orang masuk. Khusus area halaman bisa dikunjungi warga meski sekadar foto selfie.

Pada awal musim libur sekolah, beberapa lembaga pendidikan membawa anak didiknya berkunjung ke wihara. Mereka belajar sejarah dan beberapa materi kebudayaan.

Menurut Novem, ada sejumlah barang bersejarah di kelenteng tersebut. Di antaranya, gamelan dan wayang kulit yang usianya ratusan tahun. ”Benda bersejarah ini bisa jadi bahan edukasi,” katanya.

Kemudian, ada beberapa benda bersejarah lain yang juga bisa jadi bahan edukasi bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Wihara siap memberi edukasi kepada masyarakat yang ingin belajar.

(mr/pen/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia