Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Puluhan Tahun Jadi Pemulung, ACT Bantu Guru Honorer di Malang

29 Desember 2019, 10: 17: 59 WIB | editor : Haryanto

DEMI KELUARGA: Dwi menarik gerobak dan mencari sampah di sebuah pemukiman di Malang.

DEMI KELUARGA: Dwi menarik gerobak dan mencari sampah di sebuah pemukiman di Malang. (ACR for RadarMadura.id)

Share this      

MALANG – Dwi Hariyadi sudah puluhan tahun menekuni profesinya sebagai guru honorer. Untuk menambah penghasilan, Dwi Hariyadi juga menjadi pemulung sampah.

Setiap pagi, Dwi menuju tempat pembuangan sampah sementara di samping Velodrom Malang. Penghasilannya rendah, namun rasa syukur membuatnya cukup.

Pria asal Probolinggo itu merantau ke Malang sejak tahun 1990-an. Kuliah di salah satu kampus pendidikan di Malang. Sejak semester dua, Dwi telah menjadi tukang sampah demi memenuhi kebutuhan.

TELATEN: Dwi saat mengajar bahasa Inggris di salah satu sekolah dasar negeri di Malang.

TELATEN: Dwi saat mengajar bahasa Inggris di salah satu sekolah dasar negeri di Malang. (ACT for RadarMadura.id)

"Karena jadi pemulung sampah, saya bisa lulus kuliah. Akhirnya saya teruskan sampai sekarang," kata Dwi kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Saat ini, Dwi menjadi guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri di Malang. Menjadi seorang guru adalah cita-citanya. Tapi, dia tidak bisa melepaskan pekerjaan sampingan sebagai tukang sampah.

Setiap hari, mengumpulkan sampah di pemukiman warga dan dibawa ke TPS. Setelah itu, Dwi bergegas mengajar ke sekolah. Dwi tidak malu menjadi guru sekaligus tukang sampah.

Honor sebagai guru yang kecil membuat Dwi tetap mempertahankan pekerjaannya sebagai tukang sampah. Dwi bisa menghidupi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.

Menurut Dwi, menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Walau digaji rendah, Dwi tetap bersyukur. Menjadi guru dianggap sebagai tabungan amal dan ibadahnya.

"Guru dan tukang sampah memang tidak ada hubungan. Saya menjadi guru secara professional dan menjadi tukang sampah sebagai tambahan pendapatan bagi keluarga," jelas Dwi.

Dwi berharap ribuan guru honorer lainnya bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. "Tidak ada orang hebat tanpa jasa guru. Kepada semua guru yang masih bergaji rendah, tetaplah berjuang di jalan pendidikan," pungkasnya.

Dwi merupakan guru yang turut menerima bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia prakarsa Global Zakat-ACT ini. Salurkan donasi anda melalui https://www.indonesiadermawan.id/campaign/70/untuk-guru-yang-tak-lelah-mengajar-meski-upah-di-bawah-standar

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia