Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Achmad Maghfur Bangun Kafe Literasi Ber-Password Puisi

Suka Lihat Orang Membaca, Saut Diberi Celurit

25 Desember 2019, 20: 53: 29 WIB | editor : Abdul Basri

KHAS MADURA: Saut Situmorang menerima cenderamata celurit Madura dari Ketua Pelaksana Festival Aksara Manifesco Ahmad Maghfur di Kafe Manifesco, Desa Jalmak, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu malam (21/12).

KHAS MADURA: Saut Situmorang menerima cenderamata celurit Madura dari Ketua Pelaksana Festival Aksara Manifesco Ahmad Maghfur di Kafe Manifesco, Desa Jalmak, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu malam (21/12). (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

Achmad Maghfur senang melihat orang membaca buku. Suatu ketika seorang teman bertanya tema kafe yang hendak dibangun. Dia memutuskan memilih tema kafe literasi.

ONGKY ARISTA UA, RadarMadura.id

HALAMAN Kafe Manifesco cukup ramai oleh anak-anak muda pada Sabtu malam (21/12). Tampak sebuah banner berukuran besar dipampang menghadap timur. Bertulis Festival Aksara Manifesco; Bintang Kugalah Bulan Kudapat.

Malam Minggu itu merupakan akhir acara festival tersebut. Mendengar festival, beberapa peserta merasa familier. Tetapi, penyelenggaraan festival di kafe itu baru pertama di Madura.

Achmad Maghfur selaku ketua pelaksana festival sekaligus pemilik kafe tersebut menuturkan, inisiatif menggelar festival karena ingin menumbuhkan atmosfer literasi. ”Membaca buku tidak hanya di perpustakaan, kami coba di kafe, meletakkan beberapa buku dan menggelar acara festival ini,” terangnya.

Dia begitu suka melihat orang membaca buku, baik di kafe atau di tempat saat sedang menunggu sesuatu. Karena itu, festival tersebut akhirnya digelar. Tidak lain juga karena didukung oleh teman-temannya yang ikut menjadi partner diskusi seperti Edy Firmansyah, Royyan Julian, dan Novie Kamelia. ”Akhirnya jadi,” tuturnya.

Budayawan D. Zawawi Imron dihadirkan. Dua kiai Muda, M. Faizi dan A. Dardiri Zubairi juga didatangkan untuk meramaikan kegiatan tersebut. Satu lagi, pria yang kesohor kritik pedasnya, Saut Situmorang, diundang untuk memberikan kritik tentang sastra.

Saut datang ke Madura pada Sabtu (21/12). Kedatangan kali pertamanya itu untuk mengisi ceramah seputar sastra di Festival Aksara Manifesco yang berlokasi di Desa Jalmak, Kecamatan Kota Pamekasan.

Usai memberikan ceramahnya di depan puluhan peserta yang hadir, Saut diberi cenderamata oleh Achmad Maghfur. Pemberian tersebut diniatkan untuk terus mengangkat marwah Madura yang identik dengan celurit.

”Yang pertama itu identitas Madura sebagai identitas senjata tradisional Madura. Dan kedua dia memang seorang kolektor senjata-senjata tradisional,” ungkap Maghfur.

Saut mengaku kerap mengoleksi senjata-senjata tradisional Nusantara. ”Saya sudah kode-kode kepada panitia, kalau ada celurit saya mau,” terangnya.

Sebelumnya Saut mendapat dua celurit dari D. Zawawi Imron. ”Fungsi senjata bukan hanya untuk membunuh, tetapi senjata menjadi karakter dari budayanya,” ucapnya.

Dia menyebut senjata berupa celurit melengkung karena ada hubungannya dengan sapi. Dia juga mengatakan bahwa senjata selalu khas karena berhubungan dengan kultur masyarakatnya. Karena itu, dia tertarik mengoleksi beragam senjata tradisonal Nusantara.

Sebelum datang ke Madura, Saut memandang masyarakat Madura itu tertinggal dan pelosok. Namun, pandangan itu meleset. ”Kaget sekali ketika ke sini, kotanya besar dan kegiatan masyarakatnya berkemajuan. Ada kegiatan sastra,” ujarnya.

Dia melanjutkan, sastra Madura menarik karena karya-karya berdiksi Madura seperti karya D. Zawawi Imron tetap dijaga. Penggunaan diksi kedaerahan itu bisa membuka lorong pada realitas budaya kemaduraan.

Seperti kafe pada umumnya yang menyediakan wifi, Kafe Manifesco juga demikian. Tapi, sandinya masih tetap berhubungan dengan literasi: puisidulu.

(mr/bam/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia