Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Sumenep

Kangean Memendam Jejak Prasejarah

Telah Dihuni 4.000 Tahun sebelum Masehi

11 Desember 2019, 15: 26: 59 WIB | editor : Abdul Basri

AKAN DILANJUTKAN: Tim peneliti dari Balai Arkeologi Jogjakarta melakukan penggalian di mulut Gua Arca, Desa Daandung, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, Sumenep, April 2019.

AKAN DILANJUTKAN: Tim peneliti dari Balai Arkeologi Jogjakarta melakukan penggalian di mulut Gua Arca, Desa Daandung, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, Sumenep, April 2019. (RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Sumenep tidak hanya kaya sumber daya alam, wisata, dan seni budaya. Kota Keris juga memiliki jejak peninggalan prasejarah.

Tim Balai Arkeologi Jogjakarta menemukan banyak bukti peninggalan prasejarah di Pulau Kangean. Penelitian di Pulau Kangean dimulai 2018. Penelitian kedua dilakukan 2019. Difokuskan di Gua Arca Dusun Bantilan, Desa Daandung, Kecamatan Kangayan, Kangean.

Tahun 2018, upaya ekskavasi menemukan sisa aktivitas manusia masa lalu berupa artefak (batu dan gerabah), ekofak (fragmen tulang binatang, gigi binatang, cangkang kerang laut, arang, biji tumbuhan), serta fitur lapisan abu dan arang. Temuan tersebut mengindikasikan pemanfaatan sumber daya laut oleh manusia masa lalu yang tinggal di pulau ini.

Penelitian berlanjut pada 2019 untuk mengetahui lebih jauh mengenai kehidupan di wilayah tersebut serta pemanfaatan sumber daya alam di laut dan daratan. Beberapa analisis menghasilkan informasi berkaitan kehidupan masa lampau di Gua Arca dan Kangean pada umumnya.

Ketua Tim Penelitian Balai Arkeologi Jogjakarta Alifah menyampaikan, penelitian dilakukan pada Gua Arca 2 dan Gua Arca 3. Pihaknya membuka satu kotak pada masing-masing gua berukuran 1x1 meter dengan sistem spit menggunakan interval 10 sentimeter. Kedua gua ini dipilih karena masih satu bukit dengan Gua Arca.

Penggalian arkeologi di Gua Arca untuk menindaklanjuti test pit yang dilakukan tahun sebelumnya. Tahun 2018, timnya behasil menemukan data yang cukup beragam, baik secara artefaktual maupun ekofaktual.

Hasil analisis temuan cangkang kerang dan tulang binatang menunjukan adanya pola subsistensi. Dari temuan tersebut diketahui jika pada lapisan budaya akhir, penghuni gua lebih banyak bergantung pada sumber daya laut. Sementara pada lapisan budaya di bawahnya, sumber daya darat lebih berperan.

Temuan didominasi artefak litik. Temuan tersebut berupa artefak batu yang di antaranya menunjukan jejak pakai sebagai lancipan, serut, dan bilah. Terdapat dua artefak litik yang menunjukkan ciri teknologis sangat spesifik. Jika bentuk dan teknologi tersebut belum bisa diperbandingkan dengan teknologi litik lain yang berkembang di Indonesia seperti Toalian maupun Pacitanian.

Juga ditemukan artefak lain seperti fragmen gerabah serta cangkang kerang dari berbagai spesies. Termasuk temuan sisa organ manusia berupa tulang jari dan gigi taring juga diperoleh dari hasil ekskavasi. Setelah dianalisis, sisa organ manusia tersebut merupakan manusia modern (homo sapiens). Hanya, tim belum dapat mengetahui lebih lanjut mengenai afiliasi rasnya.

”Hasil ekskavasi dan survei dapat diperoleh gambaran sementara mengenai kehidupan masa prasejarah. Gua telah dimanfaatkan manusia sebagai hunian dan tempat beraktivitas sejak masa prasejarah di pulau ini,” jelas perempuan berkacamata itu.

Alifah mengatakan, manusia masa prasejarah menghuni Pulau Kangean memanfaatkan sumber daya laut seperti kerang, ikan, kepiting, dan bulu babi. Juga sumber daya darat seperti berbagai jenis binatang dan tanaman. Manusia prasejarah di Kangean telah mengembangkan teknologi alat batu yang cukup intens dan penggunaan gerabah sebagai pengolahan makanan pada akhir hunian gua. Berdasarkan hasil analisis, kehidupan tersebut telah berlangsung sekitar 6.211 cal before present (BP) dan berakhir pada 900 BP.

”Bukti temuan kehidupan yang lebih tua masih sangat mungkin ditemukan. Karena penelitian yang kami lakukan belum mencapai lapisan steril,” ujar Alifah.

Hingga penelitian terakhir, tim peneliti belum bisa memastikan mengenai genetik manusia yang menghuni Kangean, khususnya Gua Arca. Temuan tulang jari dan gigi taring belum memberikan informasi cukup untuk mengetahui keberadaan afiliasi rasnya. Namun jika dilihat kronologisnya, diperkirakan jika manusia yang telah menghuni Gua Arca merupakan manusia modern dengan ras Austromelanesid. Sehingga untuk sementara, ras ini ditengarai menjadi tokoh utama yang telah menghuni gua dan mengembangkan berbagai teknologi dan subsistensi yang ada. Ras Austromelanesid bisa ditemui seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kemungkinan tersebut masih perlu penelitian lebih lanjut. Yang jelas, papar Alifah, penduduk di Pulau Kangean saat ini merupakan ras mongoloid. Sebab, banyak kelompok masyarakat yang berbeda-beda, di antaranya dari Jawa, Madura, dan Sulawesi. Sedikit berbeda dengan yang ditemukan tim. Tahun 2020, tim penelitian menjadwalkan kembali untuk melakukan ekskavasi ke Gua Arca. Mengingat, pada penggalian terakhir baru sampai kedalaman 95 sentimeter dan masih ditemukan data arkeologi.

Tidak menutup kemungkinan masih ada data arkeologi lain yang bisa mendukung penelitian untuk mengetahui kapan tempat tersebut dihuni dari temuan paling bawah. ”Dia datang dari mana dan pindah ke mana, kami masih akan melanjutkan penelitian lagi,” jelasnya.

Sebelum itu, sejak 2018 tim peneliti sudah melakukan survei di Pulau Kangean. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan ekskavasi selama 18 hari pada April–Mei 2018. Tahun ini, penelitian dilakukan lebih intensif. Penggalian arkeologi dilakukan selama 21 hari pada Maret–April. ”Kami lakukan ekskavasi yang tahun lalu sudah kami survei dan test pit,” kata Alifah.

Untuk mengetahui umur, lanjut dia, beberapa sampel temuan, di antaranya cangkang kerang, dikirim ke laboratorium Waikato University di New Zealand dan Beta Analytic, Miami, USA. Setelah diketahui, data tersebut digunakan untuk mengetahui umur yang selevel dengan temuan lainnya. ”Kami memperoleh umur yang cukup tua. 6.000 BP atau bisa dihitung 4.000 sebelum masehi (SM),” terang Alifah.

Setelah di Pulau Kangean, tim penelitian akan lanjut melakukan survei ke Pulau Raas dan Sapudi. Untuk mengetahui kemungkinan migrasi tersebut juga terjadi pada pulau-pulau lain di Sumenep. Selama penelitian dua tahun terakhir, tim terdiri atas 10 orang dari berbagai instansi. Antara lain dari Balai Arkeologi Jogjakarta, BPJB, dan departemen arkeologi UGM.

”Orang belum banyak mengetahui kalau Kangean memiliki potensi prasejarah. Memiliki peran pada masa prasejarah. Kangean menjadi tempat yang seksi untuk ditempati sejak jaman dahulu,” tukasnya.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia