Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Perkara Dugaan Penyerobotan Tanah Dulu Divonis, Kini Tersangka Lagi

06 Desember 2019, 10: 15: 54 WIB | editor : Abdul Basri

BERKEMBANG: Anggota Reskrim Polres Sampang memasang garis polisi di tanah sengketa beberapa waktu lalu.

BERKEMBANG: Anggota Reskrim Polres Sampang memasang garis polisi di tanah sengketa beberapa waktu lalu. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Kasus penyerobotan tanah milik Haryani Mulyawati mulai menemui titik terang. Polres Sampang sudah menetapkan satu tersangka bernama Jumalin, warga Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Sampang, kemarin (5/12).

Kasatreskrim Polres Sampang AKP Subiantana melalui penyidik Bripka Chairur Rachman membenarkan penetapan tersangka itu. Menurut dia, Jumalin sudah dua kali ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dan objek yang sama. ”Iya, sudah kami tetapkan tersangkanya bernama Jumalin,” katanya.

Menurut dia, Jumalin telah terbukti menguasai tanah milik Haryani Mulyawati tanpa izin dan masuk pekarangan orang sesuai pasal 385 KUHP dan pasal 167 KUHP. Jumalin telah menyewakan tanah tersebut untuk lahan parkir, tempat pasar malam, dan bercocok tanam.

”Ini kedua kalinya Jumalin jadi tersangka. Dulu, pada 2017 dan sekarang 2019. Kasusnya sama,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kasus penyerobotan tanah tersebut berkaitan dengan kebijakan dari kepala Desa Bira Tengah. Sebab, tanah tersebut merupakan hasil tukar guling pada 1964. Akan tetapi, oleh kepala desa yang saat ini masih menjabat tanah diklaim sebagai tanah percaton.

Padahal, tanah tersebut sudah atas nama Mitoek Moh. Hadai yang tak lain orang tua Haryani Mulyawati. Parahnya, kata dia, atas pengajuan kepala desa, SPPT tanah persil 32 yang sudah atas nama P Mitoek Moh. Hadai diubah tanpa sepengetahuan dari ahli waris, yaitu Haryani Mulyawati. Maka, pada 2018, tanah persil 32 berubah menjadi tanah percaton.

”Ada dua laporan atas tanah persil 32 itu, penyerobotan tanah dan pemalsuan dokumen. Kedua laporan sedang diproses di kami,” terangnya.

Namun pihaknya menegaskan, meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, Jumalin tidak memenuhi panggilan. Dia tidak hadir pada panggilan pertama sebagai tersangka.

Rencananya, pihaknya akan melakukan pemanggilan lagi kepada Jumalin sebagai tersangka. Jika sampai tiga kali tidak memenuhi panggilan, akan dilakukan penjemputan paksa. ”Dulu Jumalin pada 2017 hanya divonis percobaan selama 3 bulan dan tidak dipenjara,” paparnya.

Sementara itu, Haryani Mulyawati selaku pemilik tanah berharap agar polisi segera menangkap tersangka. Menurut dia, jika tidak diberi hukuman yang setimpal, tersangka tidak akan berhenti untuk melakukan aksi kriminalnya. ”Jika tidak, tersangka itu akan terus mengulangi perbuatannya,” pintanya.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia