Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Sampang

Dua Kali Gagal Ajukan Wisata Mandangin

Pemkab Prioritas Wisata Mangrove Sreseh

06 Desember 2019, 10: 04: 46 WIB | editor : Abdul Basri

MEMESONA: Wisatawan berkunjung ke salah satu tempat wisata Pantai Candin di Desa/Pulau Mandangin, Sampang.

MEMESONA: Wisatawan berkunjung ke salah satu tempat wisata Pantai Candin di Desa/Pulau Mandangin, Sampang. (AGUS WEDI FOR RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Rencana pengembangan destinasi wisata di Pulau Mandangin, Sampang, tidak bisa direalisasikan tahun ini. Pasalnya, pengajuan bantuan kepada pemerintah pusat ditolak.

Kabid Budaya Pariwisata (Budpar) Disporabudpar Sampang Lilis Listiawati mengatakan, saat ini pihaknya berencana mengembangkan beberapa tempat pariwisata. Di antaranya, destinasi di Pulau Mandangin dan pembangunan wisata mangrove di Kecamatan Sreseh. Namun, hal itu tidak bisa direalisasikan secara bersamaan.

Pengembangan wisata di Desa Mandangin dipastikan tidak direalisasikan tahun ini. Pemerintah pusat menolak pengajuan dari Disporabudpar Sampang. Hal itu disebabkan, grand design pariwisata belum dibuat. Di samping itu, status kepemilikan tanah bukan milik pemkab. ”Dua poin ini merupakan syarat utama untuk mendapatkan bantuan dari kementerian,” katanya kemarin (5/12).

Lilis menyampaikan, pihaknya sudah dua kali mengajukan bantuan pengembangan destinasi wisata di Pulau Mandangin. Namun, semua sia-sia. Kendati begitu, pihaknya berjanji tetap melakukan pembinaan.

Pihaknya sudah membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) untuk pengelolaan tempat wisata. Melalui pokdarwis, pihaknya memberikan pembinaan pengelolaan pariwisata. ”Sementara kami hanya melakukan pembinaan saja,” ujarnya.

Dalam pengembangan pariwisata, disporabudpar mengacu pada rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan rencana induk pembangunan pariwisata kabupaten (ripparkab). Dengan begitu, pengembangan pariwisata di Kota Bahari memprioritaskan partisipasi masyarakat.

Sesuai perintah Bupati Slamet Junaidi, terdapat dua lokasi wisata yang dikembangkan. Selain wisata Nepa, pihaknya akan mengembangkan potensi wisata mangrove di Sreseh. ”Memang ada perintah bupati untuk pengembangan Nepa, kemudian mangrove di Desa Marparan. Bapak Kadis (Disporabudpar) dan DPMD sudah rapat dengan Kemendes untuk membahas progres tempat wisata di desa seperti apa,” ungkapnya.

Pengembangan wisata mangrove di Kecamatan Sreseh sudah dilakukan uji kelayakan. Di samping itu, pihaknya sedang mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang akan mengelola. ”Kalau SDM-nya tidak siap, pariwisatanya sulit untuk berkembang,” terangnya.

Pembina Pokdarwis Pesona Mandangin Agus Wedi menyampaikan, di Pulau Mandangin ada beberapa potensi wisata yang layak dipromosikan. Di antaranya Pantai Candin di ujung timur pulau. Di daerah tersebut terdapat batu atau gundukan tanah yang terpisah dari pulau.

”Jaraknya dekat, sekitar 15 hingga 20 meter dari pulau dan bisa dilalui dengan jalan kaki. Pantai ini kalau saya ibaratkan seperti Tanah Lot di Bali,” ujarnya.

Wisata pasir putih di ujung barat Mandangin juga tidak kalah menarik. Makam Bangsacara dan Ragapadmi di Dusun Kramat juga layak menjadi destinasi wisata. Wisata bawah laut juga berpotensi untuk dimanfaatkan wisatawan yang suka snorkeling dan diving.

”Pemerintah harus benar-benar serius menggarap potensi wisata di Pulau Mandangin. Tokoh masyarakat dan pemuda juga harus dilibatkan. Saya optimistis mindset dan persepsi negatif masyarakat tentang pengembangan wisata akan berubah kalau kita bergerak bersama,” harapnya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia