Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Idap Leukemia, Pengobatan Jibril Butuh Peran Dermawan

30 November 2019, 13: 27: 49 WIB | editor : Abdul Basri

AYO DONASI: Jibril saat dirawat di RS dr Soetomo Surabaya beberapa waktu lalu dan Jibril saat masih dalam kondisi sehat. .

AYO DONASI: Jibril saat dirawat di RS dr Soetomo Surabaya beberapa waktu lalu dan Jibril saat masih dalam kondisi sehat. . (MOH. RAMDAN FORRadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Anak seusia Ananda Jibril Maulana semestinya bermain dengan teman sebaya. Namun, penyakit leukemia yang diderita memaksanya terbaring di ranjang rumah sakit. Menjalani perawatan bertahun-tahun dan harus menelan pil pahit.

”Saya harus tetap tersenyum di depan anak saya,” ujar Moh. Ramdan, ayah Ananda Jibril Maulana kepada RadarMadura.id kemarin (29/11). Warga Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, itu tak ingin memperlihatkan kepiluan yang dirasakan. Sebab, Jibril harus tetap ceria selama menjalani masa perawatan. Jika drop bisa berdampak buruk pada kondisi kesehatannya.

Juli 2019 lalu, bocah TK yang masih berusia 6 tahun tersebut terpaksa berhenti sekolah. Dia masuk dalam salah satu daftar pasien di RS dr Soetomo Surabaya. Hari-harinya kembali bergelut dengan obat dan terapi. Masa kecil Jibril tak seceria anak-anak lain pada umumnya.

Namun, Ramdan mengakui jika anaknya merupakan sosok yang tegar. Pantang patah semangat melawan penyakit yang diderita. Mengingat, masuk rumah sakit bukan pertama kalinya bagi Jibril. Sejak 2016 lalu, anak kelahiran 18 Agustus 2013 tersebut mengidap penyakit kanker darah. Empat bulan Jibril harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit.

Kemudian, dokter mempersilakan pulang setelah kondisinya mulai membaik. Namun selama dua tahun, dari Altaf itu harus bergantung pada obat-obatan kemoterapi. Untuk menghilangkan sel kanker, setiap bulan Jibril mengontrol perkembangan kesehatannya satu hingga dua kali.

Dua tahun berlalu, Ramdan dan Khotimah Sari mendapat kabar gembira. Dokter menyatakan Jibril sembuh dari penyakitnya. Leukemia jenis ALL itu tidak lagi terdeteksi. ”Setelah itu dinyatakan bisa bebas obat. Anak saya kembali sekolah dan beraktivitas seperti anak-anak lainnya,” kata Ramdan.

Keceriaan itu bertahan hingga 16 bulan. Juni 2019 lalu Jibril kembali mengeluh sakit. Menangis kesakitan. Sakit perut, nyeri pada bagian sendi tulang belakang, merasa lelah, dan wajahnya pucat.

Khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya, Ramdan kemudian membawa Jibril ke RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Dokter menyarankan agar dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitas kesehatannya. Ramdan memutuskan untuk membawa anaknya ke Surabaya.

Setelah diambil sumsum tulang belakang, sel kanker darah ditubuh Jibril kembali menggerogoti dan sudah mencapai 80 persen. Senyum Ramdan dan Khotimah kembali redup. Namun, mereka tetap tak ingin memperlihatkan kesedihan itu di depan Jibril. Agar mental dan semangat sang buah hati tetap kuat selama menjalani masa perawatan.

Perawatan yang harus dilalui Jibril kali ini kini lebih berisiko. Sebab, dosis yang diberikan juga lebih tinggi. Mengingat hasil perawatan sebelumnya tidak mempan dan kanker darah tersebut kembali tumbuh. Tubuh mungil Jibril sempat tidak mampu menerima dosis obat yang diberikan. Bahkan, sempat mengalami radang paru-paru.

Jibril harus kembali menjalani kemoterapi dari awal hingga 2,5 tahun ke depan. Perjuangan untuk menyembuhkan anaknya diakui saat ini semakin berat. Sebab, Jibril tak ingin ditinggal sang ayah. Terpaksa, Ramdan harus berhenti bekerja menjadi seorang kernet pengiriman barang.

”Sekarang sudah lumayan kondisinya mulai membaik. Bulan lalu sangat drop. Wajahnya pucat, lemas, dan nangis karena kesakitan,” ujar Ramdan saat menemani anaknya menjalani perawatan di RS dr. Soetomo Surabaya melalui sambungan telepon.

Tak bisa memeras keringat untuk biaya perawatan Jibril, Ramdan kini berharap uluran tangan para dermawan. Sumbangan dari para dermawan sangat dibutuhkan. Mengingat, biaya pengobatan butuh rupiah dengan nilai besar. Biaya pengobatan untuk upaya penyembuhan sebelumnya diakui menghabiskan biaya Rp 45 juta. Hingga Jibril dinyatakan bebas obat kemoterapi.

Untuk perawatan kali ini, Ramdan tak tahu berapa biaya yang akan dihabiskan. Yang jelas, bapak dua anak ini akan berjuang untuk memastikan kesembuhan buah hatinya. Di sisi lain, dia juga berharap bantuan untuk biaya pengobatan Jibril. ”Sudah saya usahakan untuk meminta bantuan kepada komunitas-komunitas sosial. Semoga anak saya segera sembuh. Bisa kembali bermain dan sekolah,” harapnya.

Ramdan membuka ruang donasi Perjuangan Jibril Melawan Leukemia di laman https://www.pedulisehat.id.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia