Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Produksi Garam Lampaui Target Harga Tak Berpihak kepada Petani

29 November 2019, 23: 21: 09 WIB | editor : Abdul Basri

SIAP PANEN: Petani mengeruk garam di area tambak garam Desa Aeng Sareh, Kecamatan Sampang, kemarin.

SIAP PANEN: Petani mengeruk garam di area tambak garam Desa Aeng Sareh, Kecamatan Sampang, kemarin. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Produksi garam rakyat di wilayah Sampang cukup tinggi. Hingga saat ini produksi yang dicapai sudah di atas 300 ribu ton. Angka tersebut melampaui target tahun ini.

Kabid Perikanan dan Budi Daya Dinas Perikanan Sampang Moh. Mahfud mengatakan, pada musim produksi 2019 ini, pihaknya menetapkan target produksi garam sebanyak 285 ribu ton. Target ini lebih tinggi dibanding 2018 lalu, yakni 270 ribu ton.

”Sampai sekarang produksi garam rakyat di Sampang sudah mencapai 317 ribu ton. Capaian ini sudah lebih dari target,” kata Mahfud kemarin (28/11).

Bila dibandingkan dengan produksi tahun lalu, angka capaian saat ini masih kalah. Pada 2018 lalu, produksi garam rakyat di Sampang mencapai 346,6 ribu ton. Produksi ini dicapai dari luas lahan tambak garam sekitar 2.814 hektare.

Namun, capaian produksi tahun lalu masih bisa dikejar. Sebab, saat ini para petambak garam belum berhenti memproduksi. Di berbagai lokasi, petambak masih menggarap lahannya.

Karena itulah Mahfud optimistis bahwa hingga musim panen berakhir, capaian produksi garam bisa lebih tinggi dari tahun sebelumnya. ”Kalau sampai Desember bisa mencapai 350 ribu ton,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang petambak garam di Desa Aeng Sareh Muzari, 60, mengatakan bahwa produksi garam saat ini memang tinggi. Namun, harganya kurang berpihak kepada petani. Pasalnya, untuk kualitas 1 (k-1) garam rakyat hanya terjual sekitar Rp 340 ribu per ton.

Menurut dia, harga tersebut terlalu murah. Sebab, biaya produksi garam cukup tinggi. Baik mulai dari pengolahan tambak hingga proses panen. ”Murah sekali harga garam sekarang,” tuturnya.

Tak heran manakala saat ini banyak garam rakyat yang tidak dijual. Petambak lebih memilih menyimpan. Petani berharap agar ke depan harga garam bisa lebih berpihak kepada mereka. ”Banyak garam yang disimpan karena harganya murah. Petani berharap agar bisa naik,” ujarnya. 

(mr/mam/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia