Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

IAIN Madura Lakukan Penguatan Pemahaman Antiradikalisme

Deteksi Dini melalui Perguruan Tinggi

29 November 2019, 08: 38: 29 WIB | editor : Abdul Basri

BERWIBAWA: Narasumber Seminar Penguatan Kelembagaan IAIN Madura bertema Pencegahan Dini Radikalisme PTKI Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. (enam dari kiri) didampingi Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim (tengah).

BERWIBAWA: Narasumber Seminar Penguatan Kelembagaan IAIN Madura bertema Pencegahan Dini Radikalisme PTKI Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. (enam dari kiri) didampingi Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim (tengah). (IAIN Madura FOR RadarMadura.id)

Share this      

Virus radikalisme bisa muncul di mana-mana. Pencegahan harus dimulai sejak dini. Salah satunya dengan cara melihat majelis-majelis agama yang sering tidak membawa pesan Islam rahmatan lil alamin.

AUDITORIUM Center Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura begitu ramai kemarin (28/11). Ratusan peserta yang terdiri atas dosen dan segenap karyawan turut hadir.

Di muka ruangan terbesar milik PTKIN satu-satunya di Madura tersebut terpampang banner besar. Tertulis Penguatan Kelembagaan; Pencegahan Dini Radikalisme di PTKI Bersama Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. Dia adalah direktur Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

BERSINERGI: Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim (kanan) memberikan sertifikat kepada Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. sebagai narasumber dalam Seminar Penguatan Kelembagaan IAIN Madura.

BERSINERGI: Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim (kanan) memberikan sertifikat kepada Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. sebagai narasumber dalam Seminar Penguatan Kelembagaan IAIN Madura. (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Penguatan kelembagaan dimaksudkan agar tidak boleh ada satu pun unsur civitas academica IAIN Madura yang terpapar paham radikalisme. Radikalisme akan terus menjadi musuh bersama. Radikalisme bisa menyulut kekacauan. Karena itu, pertumbuhannya di Indonesia harus dicegah agar negara ini tetap aman dan damai.

Dalam rangka pencegahan inilah IAIN Madura menyelenggarakan penguatan kelembagaan anti radikalisme. Tujuannya, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

”Tugas utama PTKIN adalah menerapkan Islam moderat, Islam ramah, Islam rahmatan lil alamin. Bahkan, setiap perguruan tinggi diminta mendirikan rumah moderasi beragama,” terang Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim.

Upaya pemerintah untuk mencegah radikalisme dilakukan sejak dini. Pihaknya betul-betul bersemangat mendorong ke arah perguruan tinggi yang sama sekali bebas virus radikalisme yang mengancam negara. ”Bahkan, kemudian diikuti oleh surat keputusan bersama sebelas kementerian. Di antaranya, mencegah berkembangnya radikalisme,” lanjut pria kelahiran Sampang tersebut.

Dengan latar belakang itulah IAIN mendatangkan Direktur Bidang Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. ”Beliau kami undang karena sangat tepat mengisi seminar kali ini. Kehadiran beliau ini untuk memaparkan dan menjelaskan potensi radikalisme yang berkembang dan bagaimana cara mengatasinya,” lanjutnya.

Seluruh dosen IAIN Madura diharapkan memahami betul paham radikalisme itu tumbuh dan dapat diatasi. Sebab, dosen inilah yang akan menyampaikan pesan-pesan Islam kepada mahasiswa yang kurang lebih sepuluh ribu.

Brigjen Pol. Ir. Hamli memaparkan fakta-fakta radikalisme yang sering berwujud pada aksi-aksi terorisme. Menurut pria yang juga kelahiran Sampang tersebut, paham radikalisme ini bisa muncul di mana-mana. ”Di Pamekasan dan Sumenep sudah mulai dimasuki paham-paham radikalisme. Dua tahun lalu ada tokoh teroris Indonesia masuk ke sebuah lembaga pendidikan, habis Subuh keluar, mau ditangkap tidak bisa karena tidak ada bukti, tapi dia tokoh,” terangnya.

Hamli terus menyampaikan bahwa potensi menjadi terorisme itu bisa muncul kapan saja bila seseorang tidak menerapkan moderasi beragama. Dia mulai bercerita negara-negara yang berkonflik di Timur Tengah seperti Suriah dan Yaman.

Direktur Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/BNPT tersebut juga menjelaskan bahwa paparan paham radikalisme di universitas, terutama yang umum, lebih banter. Menurut dia, hampir semua universitas di Indonesia ini tidak steril dengan radikalisme walau dalam bentuk kecil.

Dia mengharapkan, setiap pemegang otoritas kampus memantau gerak-gerik dosen dan mahasiswanya. Pemantauan itu bagian dari upaya mencegah radikalisme sejak dini. Pemantauan itu utamanya dalam agenda-agenda pengajian. Sebab, banyak pengajian yang tidak memberikan pesan Islam yang rahmatan lil alamin.

Kondisi tersebut bisa memicu tumbuh kembangnya paham radikal di Indonesia. ”Hati-hati, saya tidak melarang orang pengajian, tapi kalau pengajiannya tidak mau nasionalisme, keberagaman, tidak mau kebinekaan, dan tidak mau Pancasila dan NKRI, jangan diteruskan,” tandasnya.(c2)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia