Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Buek Bual Sumber Kehidupan Masyarakat Pulau Sabuntan

Sekaligus Tempat Mandi Laki-Perempuan

28 November 2019, 19: 00: 17 WIB | editor : Abdul Basri

TUMPUAN: Warga menimba air di sumber Buek Bual, Pulau Sabuntan, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Minggu (24/11).

TUMPUAN: Warga menimba air di sumber Buek Bual, Pulau Sabuntan, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Minggu (24/11). (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Sumber Buek Bual jadi tumpuan masyarakat Pulau Sabuntan. Terlebih pada musim kemarau. Berikut cerita warga kepada wartawan RadarMadura.id BADRI STIAWAN yang berkunjung ke pulau di Kecamatan Sapeken itu akhir pekan lalu.

SECARA umum akses di Pulau Sabuntan tergolong tidak bagus. Kondisi jalan tersebut mulai dari pelabuhan setempat. Jalan ke perkampungan warga juga demikian. Hanya sebagian yang lumayan bagus untuk dilintasi kendaraan.

Menuju titik Sumber Air Buek Bual, pengendara akan dihadapkan dengan jalanan berdebu dan berbatu. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari pelabuhan. Butuh waktu sekitar 10 menit menggunakan roda dua.

Suhu di pulau ini bisa mencapai 31 derajat Celsius. Namun sesampainya di sumber air, suasana berubah seketika menjadi sejuk. Dua pohon besar di antara tiga kubangan sumber melindungi kulit dari sengatan sinar matahari.

Warga silih berganti menimba air. Air di satu kubangan sumber yang lebih banyak diambil warga. Dikelilingi akar dua pohon besar. Jernih. Satu kubangan lain juga berisi air, tapi dihuni banyak ikan. Sedangkan satu kubangan lain mengaliri saluran di sekitar Sumber Buek Bual.

Saluran ini mengaliri sawah-sawah warga. Namun saat musim kemarau, debit air dari sumber tidak mampu sampai ke lahan pertanian. Karena itu, mata air tersebut hanya dimanfaatkan untuk mandi dan kebutuhan lain warga.

Ada sumber air berbeda untuk konsumsi. Jariangau. Begitulah warga menyebut sumber yang berjarak sekitar 300 meter dari Buek Bual. Airnya baik untuk dikonsumsi. Layaknya air mineral. Menurut penuturan warga, sumber-sumber air di Pulau Sabuntan pernah diteliti terkait dengan kandungan zat kapur.

Dari sekian banyak sumber, hanya Jariangau yang nihil zat kapur sehingga sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan. Namun, debit airnya kecil. Dengan demikian, warga harus mengambil air dengan gayung dari kubangan.

Kembali ke Sumber Buek Bual sumber air alami ini tidak pernah kering meski musim kemarau. Jika musim penghujan, Sumber Buek Bual mampu menyuplai air ke ladang pertanian warga. Bahkan, dalam satu musim dengan sumber tersebut, warga bisa panen padi selama dua kali.

”Dari besarnya sumber ini, semua lahan masyarakat airnya pakai sumber ini,” kata Rasyid, warga Pulau Sabuntan, di lokasi sumber kepada RadarMadura.id Minggu (24/11).

Kelestarian mata air ini terjaga. Salah satunya berkat cerita yang mengitarinya. Masyarakat tidak seenaknya memperlakukan sumber air. Di balik banyaknya manfaat sumber tersebut, tersimpan cerita tutur masyarakat.

Konon, jika terdapat orang asing yang berniat buruk datang ke sumber tersebut, akan bertemu dengan ikan tanpa ekor. Bahkan bisa diterpa musibah atau penyakit.

Versi lain menyebutkan, pengunjung yang datang dengan niat jahat akan diikuti makhluk gaib penghuni sumber. Santernya cerita itu membuat warga Pulau Sabuntan tak henti memberikan peringatan bagi pendatang baru. Mengingatkan agar tak melakukan hal tidak senonoh di lokasi sumber.

”Biasa dibuat mandi laki-laki maupun perempuan. Tapi, jangan melakukan hal macam-macam,” sarannya.

Cerita mengenai ikan tanpa ekor dan penyakit yang akan diderita pengunjung asing yang berniat jahat sudah lama beredar. Secara turun-temurun di masyarakat. Hanya, cerita mengenai gangguan makhluk astral bagi pengunjung yang berbuat maksiat di tempat tersebut baru tersebar sekitar tahun 2000.

Ceritanya, tutur pria 51 tahun itu, seorang pekerja perusahaan migas di Kecamatan Sapeken datang ke sumber tersebut. Sepulang dari Sumber Buek Bual, pekerja asal Jepang tersebut bercerita sering diganggu makhluk gaib.

Berdasar cerita yang beredar, orang Jepang tersebut kencing berdiri. Dari kepercayaan masyarakat, buang air kecil berdiri merupakan sikap tak terpuji. ”Benar tidaknya saya tidak memastikan,” ujar pria kelahiran 1968 itu.

Dua pohon besar di sekitar Sumber Buek Bual sejak lama memiliki cerita mistis. Namun, masyarakat tidak ingin menyebut sumber itu sebagai tempat angker. Cerita itu mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Di antaranya, pengunjung yang datang tidak sembarangan bersikap maupun berperilaku buruk.

”Nilai positifnya itu agar kita menjaga etika. Bukan soal benar dan tidaknya (mitos). Tapi, pesan yang terkandung dalam cerita ini,” tutupnya. 

(mr/luq/bad/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia