Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Kekerasan pada Anak 47 Persen di Sekolah

Kasus yang Menjerat Guru Bikin Resah

28 November 2019, 18: 54: 03 WIB | editor : Abdul Basri

ANTUSIAS: Ipda Sugeng memaparkan materi dalam seminar perlindungan hukum bagi guru di Sampang kemarin.

ANTUSIAS: Ipda Sugeng memaparkan materi dalam seminar perlindungan hukum bagi guru di Sampang kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Kasus hukum yang menimpa guru selalu menjadi sorotan publik. Sebab, tenaga pendidik selalu berujung pada meja hijau. Hal itu membuat guru di Sampang berada dalam posisi dilematis.

Plt Kepala Disdik Sampang Nor Alam mengatakan, dalam dua tahun terakhir terjadi dua kasus yang menimpa guru. Pertama, penganiayaan yang berujung maut menimpa Achmad Budi Cahyono tahun lalu. Kasus tersebut bermula saat Budi memberikan sanksi kepada siswanya.

Tahun ini kasus hukum yang menyeret tenaga pendidik kembali terjadi. Hairul Anam, guru agama di SDN Gunung Sekar 1, harus berusan dengan hukum karena menjewer muridnya. ”Mungkin waktu menjewer kuping anak didiknya kena kukunya. Waktu dijewer, anaknya bergerak. Sekarang masih proses hukum di pengadilan negeri,” katanya kemarin (27/11).

Kasus tersebut berdampak pada image Sampang. Persepsi masyarakat selalu negatif terhadap Kota Bahari. Sementara itu, indeks pembangunan manusia (IPM) masih rendah. ”Kami berharap, semua ini tidak mengurangi semangat kita sebagai tenaga pendidik. Tugas kita bukan hanya mengajar, tetapi mendidik. Mendidik kita butuh kesabaran,” tuturnya.

Nor Alam menyampaikan, menjadi guru harus memiliki jiwa pahlawan. Yakni, jiwa pengabdian, pengorbanan, dan keikhlasan. ”Walaupun sekolahnya jauh, guru harus tetap semangat. Jiwa pengorbanan dalam mendidik siswa. Sebab, semua itu butuh kesabaran. Yang terpenting juga jiwa keikhlasan,” ucapnya.

Wabup Sampang Abdullah Hidayat mengajak semua pendidik tetap semangat memberikan ilmu dan didikan kepada siswa. Sebab, guru memiliki peran penting dalam mencerdaskan generasi bangsa.

Mantan ketua asosiasi kepala desa (AKD) Sampang itu menilai, saat ini banyak guru resah karena beberapa kasus hukum yang menimpa mereka. Dia berharap, guru ikut andil memperbaiki image Sampang. Yakni, dengan memberikan pendidikan moral kepada siswa. Sebab, pembelajaran saat ini berkembang pesat.

”Kalaupun sudah ada undang-undang perlindungan guru, kami berharap kejadian yang menjerat guru tidak terulang kembali,” harapnya.

Sekretaris Lembanga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur M. Isa Ansori menuturkan, kasus kekerasan di sekolah terjadi karena miskomunikasi pengelola sekolah dengan wali siswa dan siswa. Akhirnya, mereka memiliki persepsi masing-masing tentang pendidik.

Berdasar data LPA Jatim 2018, kekerasan pada anak berjumlah 563 kasus. Sementara 47 persen atau lebih dari 200 kasus terjadi di sekolah. Sebanyak 20 persen kekerasan dilakukan tenaga pendidik. ”Ini menunjukkan bahwa sekolah kita belum ramah anak,” tuturnya.

Pemerintah harus bisa menyediakan sekolah layak anak untuk menghindari masalah tersebut. Layanan sekolah ramah anak berfungsi mengukur sejauh mana setiap pihak patuh terhadap aturan.

Untuk membangun sekolah ramah anak, harus ada ketegasan dari pihak sekolah. Sekolah harus tegas membangun pemahaman bersama bagaimana mendidik anak didik. Termasuk sanksi jika terjadi pelanggaran. ”Di Madura hanya Bangkalan yang punya sekolah ramah anak sebanyak 20 sekolah,” jelasnya.

Saat ini fungsi guru harus berubah. Jika selama ini guru merupakan satu-satunya sumber pelajaran, diubah sebagai pendamping. Dengan begitu, pembelajaran akan lebih menyenangkan. ”Informasi yang diterima anak bisa lebih luas dari guru. Yang harus dilakukan guru menyesusaikan dengan perkembangan zaman dan terbuka,” jelasnya.

Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur itu mengungkapkan, ada beberapa peraturan pelindungan guru. Di antaranya, PP 74/2008 tentang Guru, Permendikbud 10/207 tentang Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Pendidik. ”Guru boleh memberikan sanksi, tapi harus jelas yang dibentuk oleh sekolah. Sanksi itu harus diberi tahu kepada orang tua,” tukasnya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia