Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Jumlah Guru Honorer di Indonesia Sejuta Lebih, Upah Sebulan Segini

Rayakan Hari Guru, ACT Launching Program SGI

26 November 2019, 12: 55: 29 WIB | editor : Haryanto

SIMAK CURHATAN: Petinggi ACT mendengarkan cerita guru honorer.

SIMAK CURHATAN: Petinggi ACT mendengarkan cerita guru honorer. (ACT for RadarMadura.id)

Share this      

JAKARTA - Mengabdi sebagai guru terkadang bukan pilihan yang mudah. Utamanya, bagi para guru yang kondisi ekonominya terbatas. Misalnya, guru honorer dan guru tahfidz berpenghasilan di bawah UMR.

Menurut Data Pokok Pendidikan Nasional (Dapodik) Dirjen Dikdasmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, ada 1.070.662 guru berstatus honorer. Pendapatan di bawah UMR karena rata-rata Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu sebulan.

Fakta tersebut mendorong Aksi Cepat Tanggap (ACT) menghadirkan program Sahabat Guru Indonesia (SGI). Program bantuan beaguru untuk guru prasejahtera yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Guru Nasional, Senin (25/11).

BERBAGI KEBAHAGIAAN: Guru honorer penerima bantuan foto bareng.

BERBAGI KEBAHAGIAAN: Guru honorer penerima bantuan foto bareng. (ACT for RadarMadura.id)

Ahyudin selaku Ketua Dewan Pembina ACT menuturkan, tujuan utama program SGI adalah untuk membantu memperbaiki permasalahan pendidikan di Indonesia. Salah satunya, kesejahteraan para guru.

"Program ini sebagai medium untuk menyemangati guru-guru prasejahtera. Guru merupakan elemen penting dalam menentukan kualitas pendidikan. Peran guru cukup sentral membangun karakter anak bangsa," ujarnya.

Dijelaskan, ACT ingin menebar manfaat dan menjadi jembatan para dermawan. "Barang siapa yang memberi kemudahan (membantu, Red) saudara yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat," imbuhnya.

Wahyu Novyan selaku Direktur Program ACT menambahkan, guru di berbagai pelosok negeri banyak yang berpendapatan sangat kecil. "Misalnya, salah satu guru di Sikakap digaji Rp 500 ribu per bulan. Itu pun tidak dibayar setiap bulan karena keuangan sekolah tidak menentu,” ungkapnya.

Melalui program SGI, katanya, para guru prasejahtera di Indonesia akan menerima beaguru untuk menunjang ekonominya. Kriteria penerima program SGI, mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz).

"Termasuk, berasal dari wilayah prasejahtera, dan memiliki dedikasi mengajar yang tinggi untuk muridnya," ulasnya.

Sementara itu, tantangan untuk terus memajukan pendidikan anak bangsa pun terus muncul. Misalnya, sulitnya akses menuju sekolah, fasilitas sekolah yang belum memadai, hingga minimnya pendapatan para guru.

Salah satu cerita pengalaman menjadi guru honorer selama 10 tahun di MI Al-Huda Rancapinang, diungkap M. Ramsudin Fajri. Pada tahun 2009, dia mengajar dengan sukarela alias tidak dibayar satu rupiah pun.

Tapi, aktifitasnya terhenti di tengah jalan karena MI Al-Huda Rancapinang belum mendapat izin operasional dari Departemen Agama Kabupaten Pandeglang. Baru pada tahun 2010, mengantongi izin operasional dari instansi terkait.

"Jumlah murid sebanyak 21 orang. Bangunan sekolah masih terbuat dari gubuk yang terdiri dari dua ruang belajar berukuran 3x3 meter persegi," ungkap Fajri.

Biaya operasional sekolah hasil swadaya masyarakat. Pada tahun 2010, para guru diupah Rp 100 ribu per bulan dan dibayar setiap tiga bulan sekali. Pada tahun 2013 sampai dengan saat ini, diberi Rp 300 ribu per bulan dan dibayar setiap tiga bulan sekali.

"Kegiatan belajar mengajar terus berlangsung walau kami bergantian dengan guru lainnya untuk menafkah istri dan anak-anak. Kami yakin suatu saat Allah SWT akan memberi kemudahan,” tambah Fajri.

Lukman, guru honorer di SMP Terbuka 17 Bekasi sepulang mengajar harus bekerja menjadi pengemas produk madu. Pekerjaan sampingan itu dilakukan demi mencukupi kebutuhan keluarganya."Kalau mengandalkan honor mengajar tidak cukup," tuturnya. (*)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia