Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Penarikan Fee Proyek Terkumpul Rp 1,2 M

Terkuak dari Buku Catatan Ach. Rojiun

19 November 2019, 18: 41: 42 WIB | editor : Abdul Basri

MEGAH: Mobil tahanan diparkir di halaman kantor Kejari Sampang usai mengangkut tahanan yang akan diperiksa kemarin.

MEGAH: Mobil tahanan diparkir di halaman kantor Kejari Sampang usai mengangkut tahanan yang akan diperiksa kemarin. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang mendapatkan petunjuk dari buku cacatan Ach. Rojiun. Daftar penerima dan penarikan fee proyek dana alokasi khusus (DAK) 2018 dan program bantuan pemerintah 2019 di lingkungan dinas pendidikan (disdik) tertulis lengkap di catatan tersebut.

Total penarikan fee ke sejumlah sekolah kurang lebih Rp 1,2 miliar. Kejari juga sudah mengantongi dalang yang memerintahkan penarikan fee proyek tersebut.

Kasipidsus Kejari Sampang Edi Sutomo mengungkapkan, dalam kasus tersebut pihaknya hanya mengamankan barang bukti berupa uang cash Rp 75 juta. Fee ini ditarik dari proyek bantuan pemerintah 2019 untuk pembangunan ruang kelas baru (RKB) SDN Banyuanyar 2.

Kemudian, tim kejari melakukan pengembangan dengan melihat sejumlah petunjuk dari barang bukti yang diamankan. Salah satunya dari buku catatan fee proyek.

Hasilnya, penarikan fee proyek DAK 2018 cukup fantastis. Angkanya mencapai Rp 1,1 miliar. ”Total hasil penarikan fee proyek DAK 2018 dan bantuan pemerintah 2019 lebih kurang Rp 1,2 miliar,” ungkap Edi kemarin (18/11).

Uang Rp 1,1 miliar hasil penarikan fee proyek DAK 2018 itu telah dinikmati para pejabat yang terlibat. ”Kalau fee DAK 2018 tentu sudah dinikmati oleh mereka. Yang berhasil kami amankan dan jadi barang bukti hanya Rp 75 juta itu,” ujarnya.

Edi menegaskan, perincian daftar penarikan fee proyek DAK 2018 tercatat lengkap di buku catatan milik Ach. Rojiun tersebut. Fee yang ditarik ke sekolah khusus penerima DAK 2018 beragam.

”Kisaran fee yang diminta ke masing-masing sekolah antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta,” bebernya.

Fakta lain yang terkuak adalah dalang penarikan fee proyek DAK tersebut. Namun, Edi enggan menyampaikan secara detail mengenai sosok dalang itu.

”Dalang yang mengendalikan perintah untuk melakukan penarikan fee proyek sudah kami ketahui. Keterangan dari semua saksi dan tersangka mengarah ke satu nama itu pokoknya,” ujarnya.

Dalang yang disebut-sebut dalam keterangan saksi belum ditetapkan sebagai tersangka. Saat ini statusnya masih saksi. ”Jika alat buktinya sudah lengkap dan kuat, baru kami naikkan statusnya,” janjinya.

Berkaitan dengan fee proyek DAK yang sudah dinikmati pelaku itu, menunggu keputusan Pengadilan Tipikor Surabaya. Sebab, temuan fakta tersebut sudah dijelaskan secara detail dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

”Pengadilan nanti yang memutuskan, apakah uang itu dikembalikan atau bagaimana,” terangnya.

Sampai saat ini, tersangka yang ditetapkan dalam perkara tersebut hanya tiga orang. Dua tersangka, Ach. Rojiun dan Moh. Edi Wahyudi, sudah menjalani tahap dua.

Sementara berkas tersangka Edi Purnawan sedang dilengkapi. Sejak awal, ketiga tersangka dititip di Rutan Kelas II-B Sampang.

Bupati Sampang H Slamet Junaidi menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin ada lagi pejabat yang terjerat kasus korupsi. Seluruh pejabat diimbau bisa mengambil hikmah dan pelajaran.

”Selalu saya imbau berulang-ulang kepada seluruh pegawai supaya jangan korupsi, jangan korupsi, jangan korupsi, dan bekerja dengan hati,” imbaunya.

Untuk diketahui, kasus penarikan fee proyek di Disdik Sampang terungkap kali pertama di SDN Banyuanyar 2. Saat itu kejari mengamankan dua tersangka yang baru saja selesai menarik fee proyek di SDN Banyuanyar 2.

(mr/rus/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia