Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Tim Ahli ITS Respons Permintaan Kejari

Untuk Survei Proyek Saluran Irigasi

18 November 2019, 13: 28: 23 WIB | editor : Abdul Basri

Tim Ahli ITS Respons Permintaan Kejari

Share this      

SAMPANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang terus mendalami dugaan korupsi pembangunan saluran irigasi yang besumber dari dana desa (DD) Rp 589 juta. Korps Adhyaksa juga meminta bantuan tim ahli Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk menyurvei pelaksanaan proyek di Dusun Lebak, Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah tersebut.

Proyek itu dilaporkan ke Kejari Sampang karena diduga dikerjakan tidak sesuai rencana anggaran biaya (RAB). Kualitasnya juga rendah. Saat ini statusnya masih penyelidikan.

Penyidik kejari telah memanggil dan meminta keterangan pihak terkait. Di antaranya, kepala Desa Sokobanah Daya, camat Sokobanah, pendamping desa dan kecamatan, dinas terkait, pengawas, serta pelaksana.

Kasipidsus Kejari Sampang Edi Sutomo mengaku pihaknya menemui beberapa kendala dalam menangani perkara tersebut. Di antaranya, tim ahli dari kabupaten tidak mau dimasukkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

Kejari lalu mengajukan surat permohonan tim ahli ke ITS Surabaya. ”Surat permohonan kami sudah diterima oleh ITS. Bahkan, surat tugas tim ahli dari ITS sudah turun,” ungkap dia kemarin (17/11).

Edi belum bisa memastikan kapan tim ahli dari ITS Surabaya akan turun dan survei ke lapangan. ”Kami juga menunggu kabar dari tim ahli ITS kapan akan survei ke lapangan,” ujarnya.

Tim ahli dari ITS Surabaya itu yang akan menghitung harga satuan material yang digunakan untuk proyek tersebut. Dengan demikian, nanti akan diketahui berapa kerugian negara. ”Perkara ini akan kami ekspose lagi setelah tim ahli dari ITS turun lapangan,” janjinya.

Edi menegaskan, tahapan penyelidikan sedang dijalani. Menurut Edi, kasus tersebut bisa dinaikkan statusnya jika ditemukan alat bukti yang kuat saat penyelidikan berjalan.

”Setelah ekspose dengan pimpinan, baru bisa diputuskan apakah perkara dilanjutkan atau dinaikkan statusnya ke penyidikan, tergantung nanti petunjuk dari pimpinan,” terangnya.

Edi mengaku, menangani perkara korupsi tidak mudah. ”Jika kerugian negara hanya sepuluh juta atau tidak sampai, masak layak dinaikkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya,” katanya.

Pihaknya meminta kepada semua pihak untuk bersabar dan menghargai seluruh tahapan penanganan perkara. ”Biarkan kami bekerja optimal dan maksimal dulu, karena tidak hanya satu perkara yang kami tangani,” pintanya.

Sementara itu, Ketua Jaka Jatim Korda Sampang Sidik mendesak kejari harus bisa menjaga kepercayaan masyarakat. ”Kejaksaan telah berhasil memberikan shock therapy kepada para pejabat dan rekanan di Sampang supaya melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai aturan,” ucapnya.

(mr/rus/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia