Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Para Perajin Mencari Desain Batik Khas Sampang

16 November 2019, 15: 37: 04 WIB | editor : Abdul Basri

MENGANDUNG SEJARAH: Aminatuttaqiyah menunjukkan hasil produksi Batik Trunojoyo, Kamis (14/11).

MENGANDUNG SEJARAH: Aminatuttaqiyah menunjukkan hasil produksi Batik Trunojoyo, Kamis (14/11). (AMINATUTTAQIYAH FOR RadarMadura.id)

Share this      

Pemerintah Kabupaten Sampang memiliki ciri khas batik yang kental dengan sejarah. Saat ini desain batik tersebut dijadikan pakaian dinas. Batik tersebut dikenal dengan nama Trunojoyo.

DESAIN batik yang dikembangkan perajin Sampang bervariasi. Menyesuaikan dengan potensi di sekitar perajin. Benda-benda yang kental dengan sejarah Kota Bahari juga dituangkan.

Penamaan batik Trunojoyo tidak terlepas dari motif yang diramu oleh perajin. Terdapat empat benda yang mengandung makna sejarah. Kemudian, dituangkan dalam batik Trunojoyo. Di antaranya, tombak, anyaman daun pandan, daun kelor, dan daun jambu air.

”Batik Trunojoyo memang mengangkat motif benda-benda yang berkaitan dengan sejarah Pangeran Trunojoyo. Makanya, pemerintah menetapkan batik tersebut sebagai pakaian dinas,” terang perajin batik asal Kecamatan Camplong Aminatuttaqiyah, Kamis (14/11).

Pemilik usaha batik Al-Qomari itu menjelaskan, tombak merupakan pusaka andalan Raden Trunojoyo. Setiap bepergian, tombak tersebut tidak pernah lepas dari genggamannya.

Daun kelor di samping tombak memiliki cerita tersendiri. Pada saat Raden Trunojoyo berkeliling ke daerah utara, gagang tombaknya patah. Sebagai pengganti, raden yang bergelar Panembahan Maduretno itu mengambil daun kelor.

Di bagian bawah tombak terdapat anyaman pandan. Hal itu untuk membedakan antara batik yang berasal dari luar dan Madura. ”Biasanya batik yang berasal dari Madura menggunakan anyaman pandan,” jelasnya.

Di samping itu, di tengah Batik Trunojoyo terlihat motif daun agak lebar. Daun tersebut mewakili ciri khas buah-buahan di Sampang. Buah-buahan yang dimiliki masyarakat Sampang adalah jambu air.

Amina menuturkan, sebagian perajin menambahkan atau mengganti salah satu benda yang ada dalam batik Trunojoyo. Biasanya benda penggantinya merupakan ciri khas daerah masing-masing. Seperti di daerah perkotaan yang menggunakan daun lamtoro.

”Motif utama Batik Trunojoyo tidak berubah. Hanya saja terkadang perajin menambah kombinasi sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya,” ujarnya.

Istri Qomaruddin itu menambahkan, desain batik yang dikembangkan di masing-masing kabupaten di Madura memiliki ciri khas masing-masing. Sementara kombinasi yang digunakan perajin Sampang lebih banyak didominasi motif hewan dan bunga-bunga. Ada juga mengangkat motif pohon mangrove.

”Insyaallah saya akan membuat motif baru yang akan mengangkat labang Rato Ebu. Menurut sejarah yang saya ketahui, labang rato ebu kental dengan sejarah Kerajaan Mataram waktu ada di Sampang,” ungkapnya.

Pj Sekkab Sampang Yuliadi Setiawan mendukung pelestarian benda bersejarah dalam desain batik. Menurutnya, banyak benda-benda bersejarah yang belum diketahui masyarakat. Hal itu perlu diangkat agar nilai sejarahnya tidak hilang.

Pihaknya mengusulkan beberapa tempat berkaitan dengan sejarah Kota Bahari. Selain tombak, situs Rato Ebu di Madegan, Kelurahan Polagan, juga perlu diangkat. Selain itu, Kera Nepa juga memiliki sejarah panjang di Sampang.

”Saya kira benda-benda itu perlu diangkat sebagai representasi sejarah Sampang. Ini penting agar makna sejarahnya tidak hilang. Utamanya untuk generasi setelah kita,” tukasnya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia