Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Cegah Antrean Panjang, SPBU Tolak Pembelian Solar untuk Nelayan

15 November 2019, 13: 52: 39 WIB | editor : Abdul Basri

NIHIL: Plang pemberitahuan ketersediaan solar kosong terpasang di SPBU di Jalan Arya Wiraraja Sumenep kemarin.

NIHIL: Plang pemberitahuan ketersediaan solar kosong terpasang di SPBU di Jalan Arya Wiraraja Sumenep kemarin. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi sejak Senin (11/11). Kondisi itu berdampak buruk kepada nelayan. Mereka menelan kenyataan pahit karena ditolak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Penolakan pembelian solar itu dialami nelayan Desa Pagagan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan. Beberapa dari mereka tidak bisa melaut lantaran tidak mendapat jatah solar di SPBU terdekat. Mereka terpaksa kecele saat menyodorkan jeriken untuk mengisi solar.

Fatha, nelayan asal Dusun Sorok, Desa Pagagan, adalah salah satu korbannya. Dia mengaku kesal karena petugas SPBU tidak memperbolehkan dirinya mengisi solar memakai jeriken. Menurut dia, saat itu solar ada. Hanya ke para nelayan yang tidak keluar.

”Kalau motor diperbolehkan. Saya tidak dapat jatah dan akhirnya pulang,” ungkapnya. Peristiwa itu terjadi Rabu malam (13/11) di SPBU 54.693.07 Larangan Tokol.

Dalam situasi solar langka, tidak semua masyarakat bisa mengisi memakai jeriken. Nelayan saja harus memiliki surat rekomendasi pembelian BBM. Surat itu dikeluarkan oleh Dinas Perikanan Pamekasan.

Fatha mengantongi surat rekomendasi itu. Berdasarkan rekomendasi itu, dirinya boleh mengisi solar di SPBU bernomor lembaga penyalur 54.693.07. Lokasinya di Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan.

”Apa mungkin nelayan diminta untuk tidak bekerja dulu, soalnya sudah tiga hari ini saya tidak mendapatkan solar,” terangnya kemarin (14/11).

Pengawas SPBU 54.693.07 Larangan Tokol Sutrisno mengakui sebelumnya memang menunda masyarakat dan nelayan yang ingin mengisi solar dengan jeriken. Apalagi pada Rabu (13/11) antrean pembeli solar luar biasa. ”Memang saya pending dulu,” terangnya.

Dia mengaku bahwa sebelumnya petugas SPBU Larangan Tokol tidak memberikan jatah kepada nelayan yang membawa jeriken. Keputusan itu diambil untuk mencegah antrean panjang kendaraan. Saat itu antrean sangat panjang. Para sopir kendaraan sudah bergejolak karena kesal.

Setelah antrean sudah mulai habis, datang lagi antrean baru. Jadi, nelayan tidak kebagian. ”Saya tunda dulu, saya utamakan kendaraan,” terangnya.

Dia mengimbau nelayan untuk mengisi dexlite selama solar masih langka. Harga per liter solar Rp 5.150. Sementara dexlite hampir dua kali lebih mahal, yakni Rp 10.200.

Kuota solar bersubsidi tahun ini turun dibandingkan dengan tahun lalu. Beberapa SPBU kosong karena masih ada pengendalian pendistribusian. Tahun 2018 lalu 15,4 juta kiloliter (kl) dan tahun 2019 sebanyak 14,4 juta kl secara nasional.

Kuota solar 2019 untuk Pamekasan 27.500 kl. Penyaluran sampai awal November ini sudah mencapai 28.500 kl. Total kuota 2019 untuk Madura 98.600 kl dan hingga awal November terealisasi 109.000 kl. Dengan demikian, pemakaian solar se-Madura 10.400 kl melebihi kuota.

Sebelumnya, Pengurus DPC Hiswana Migas Madura Artha menjelaskan, stok di TBBM Pertamina Camplong menipis. Tapi, masih aman. Masih menunggu kedatangan tanker kiriman BBM. Sambil menunggu situasi normal, masih ada produk solar lainnya seperti dexlite dan pertamina dex di SPBU.

Unit Manager Communication & CSR MOR V Jatimbalinus Rustam Aji menjelaskan, Pertamina akan menyalurkan solar sesuai kebutuhan. Mulai Rabu (13/11) akan dikirim sekitar 80.000 liter per hari untuk Pamekasan.

Sementara itu, Pemkab Sumenep memastikan ketersediaan solar subsidi di daerahnya aman. Kasubbag Sumber Daya Energy dan Panas Bumi Setkab Erwin Hendra mengaku tidak menerima laporan resmi. Baik dari manajemen SPBU maupun Pertamina selaku penyedia BBM tentang kelangkaan solar.

Hendra mengklaim pihaknya sudah melakukan pemantauan langsung di beberapa SPBU. Hendra tidak menemukan kelangkaan. ”Saya sudah melakukan pemantauan langsung di SPBU Kalianget dan Kolor, tadi ada kok,” ucapnya.

Kekosongan solar di beberapa SPBU hanya karena keterlambatan pengiriman dari TBBM Pertamina Camplong. Kuota solar 2019 untuk Sumenep 27.000 kl. Agar pasokan aman, pihaknya mengajukan kenaikan kuota 2020 sepuluh persen dari jatah tahun ini.

Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari meminta pemerintah menyikapi keterlambatan pendistribusian BBM. Keterlambatan pengiriman solar sangat berdampak luas. Apalagi, Kota Keris menjadi transit angkutan antarkota antarprovinsi.

Selain itu, minimnya pasokan BBM akan berdampak besar kepada nelayan. ”Kalau solarnya tidak ada, mereka tidak melaut, lalu mau makan apa?” tanyanya. (c2/jup)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia