Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

AKP Musihram Berbagi Pengalaman pada HUT Ke-74 Brigade Mobil

15 November 2019, 13: 41: 31 WIB | editor : Abdul Basri

TEGAS: Kapolsek Tragah AKP Musihram saat berada di ruang kerjanya kemarin.

TEGAS: Kapolsek Tragah AKP Musihram saat berada di ruang kerjanya kemarin. (MUSIHRAM FOR RadarMadura.id)

Share this      

Hari Ulang Tahun (HUT) Brigade Mobil (Brimob) Polri diperingati setiap 14 November. Dari ratusan personel kepolisian di Bangkalan, Musihram merupakan salah satu anggota Brimob.

PERWIRA pertama itu kini mengemban amanah sebagai Kapolsek Tragah. AKP Musihram pernah menjabat Komandan Peleton (Danton) Brimob Malang pada 2008, Wakil Kepala Subdetasemen (Wakasubden) Antianarkis di Den Gegana Polda Jatim pada 2011.

Selain itu juga menjabat Komandan Kompi 3 Rayon A Pamekasan pada 2014–2015. Di samping itu, Wakasubden Antiteror Den Gegana Polda Jatim pada 2016. Dia pernah bertugas ke daerah konflik dan menangani unjuk rasa besar-besaran.

Musihram pernah membebaskan penyanderaan anak terhadap orang tuanya di Kecamatan Proppo, Pamekasan. Perintah Kapolda disuruh tembak mati. Cuma, dia sampaikan kepada anggota kalau bisa jangan sampai ada nyawa yang melayang.

”Sebab yang disandera keluarganya sendiri. Seandainya orang lain yang disandera, saya jelas perintahkan untuk eksekusi,” jelasnya kepada momen HUT Ke-74 Brimob kemarin (14/11).

Mantan Kasat Sabhara Polres Bangkalan itu menambahkan, penyanderaan dilakukan oleh satu keluarga. Yakni, oleh anak kepada orang tuanya, sehingga dalam eksekusi diulur. Eksekusi dimulai pagi hingga petang, sekitar pukul 17.00.

Pihaknya mencari celah dan langsung menembak tangan yang memegang pisau. Setelah itu baru terlepas. ”Saya yang pimpin dan yang menembak anggota,” imbuh warga Pamekasan 50 tahun itu, yang sudah 30 tahun tinggal di Surabaya.

Musihram juga pernah mengamankan pilkades dan unjuk rasa besar-besaran. Utamanya pemilihan kepala desa (pilkades) di Madura. Pada waktu itu, dia bertugas memberikan pengamanan di Desa Blu’uran, Kecamatan Karang Penang, Sampang.

Anak salah satu calon datang ke lokasi pemilihan. Lalu mengeluarkan celurit di depan panggung. Mau mengamuk. Oleh anggota langsung diamankan. Anggota menembak ke atas. Namun, beredar informasi di luar bahwa orang itu yang ditembak. ”Diperkirakan pada tahun 2014,” timpalnya.

Pada masa mudanya, Musihram tidak ingin menjadi anggota Brimob. Dulu hanya ingin menjadi polisi. Tidak mengenal istilah Brimob. Pada saat pendaftaran hanya ada dua pilihan. Airud dan Brimob. Pendidikan Airud di Jakarta. Brimob di Watukosek, Pasuruan.

Saat diterima menjadi anggota Brimob, Airud ditempatkan di Kompi Tandes Brimob Surabaya. Setelah daftar pada 1989 baru diterima 1990.

”Kalau polisi umum kan setiap Polda pendidikan ada. Kalau di Brimob hanya satu pendidikannya, yaitu di Watukosek, Pasuruan,” jelasnya. ”Sampai ada istilah kalau Brimob pasti polisi, kalau polisi belum tentu Brimob,” imbuhnya.

Selain kekompakan, menjadi Brimob juga bisa tahu nusantara. Bisa ke Aceh, Timor Timur, dan Papua. Saat penugasan ke Aceh berhadapan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dia ditugaskan ke Aceh pada masa pemulihan keamanan. Ikut Operasi Rencong dan Cinta Meunasah tahun 2002.

”Di Brimob tidak ada yang dilihat. Kalau polisi umum Sabhara bisa melihat satlantas, bisa ngelirik intel, bisa ngelirik wartawan. Kan gitu?” ujarnya lantas tertawa.

”Kalau di Brimob tidak ada yang dilirik. Makan tidak makan kumpul satu profesi. Satu sakit ya sakit semua,” imbuh ayah dua anak tersebut.

Musihram aktif di Brimob 1990–2016. Pada momentum HUT Ke-74 Brimob ini, Musihram berpesan agar juniornya kerja dengan semangat. Ikuti perintah pimpinan sesuai dengan UU. ”Brimob semangat. Obro markoto (tidak boleh padam),” pungkasnya.

(mr/rul/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia