Selasa, 10 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Klaim Asuransi Nelayan Tak Dicairkan Gara - Gara Ini

14 November 2019, 11: 03: 44 WIB | editor : Abdul Basri

TAK DIVISUM: Jenazah Mudhar, nelayan asal Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, saat ditemukan oleh tim SAR gabungan, Rabu (23/10).

TAK DIVISUM: Jenazah Mudhar, nelayan asal Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, saat ditemukan oleh tim SAR gabungan, Rabu (23/10). (BPBD FOR RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Mudhar, 65, meninggal saat melaut pada 20 Oktober lalu. Pria asal Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, ternyata terdaftar sebagai penerima asuransi nelayan dalam program bantuan premi asuransi nelayan (BPAN) 2019.

Dia masuk dalam daftar 951 penerima program BPAN yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kendati terdaftar sebagai peserta asuransi, Mudhar tidak bisa menerima klaim kecelakaan lantaran terganjal visum dokter.

Sampai saat ini belum ada proses atau berkas visum yang dikeluarkan oleh pihak medis atas jasad Mudhar. Visum tersebut diperlukan untuk mendeteksi penyebab kecelakaan yang menimpa Mudhar.

Pada 23 Oktober lalu, Mudhar dinyatakan tidak berhak menerima klaim kecelakaan karena kartu asuransi mandiri yang dimilikinya masa berlakunya telah habis. Kartu tersebut berlaku sampai 24 Mei 2019.

Namun, dia dinyatakan terdaftar sebagai peserta BPAN 2019. Bahkan, kartu penerima asuransi tersebut sudah keluar akhir Oktober lalu. Pihak keluarga dan Dinas Perikanan Pamekasan pun berupaya mengajukan klaim.

Kepala Seksi Pengendalian dan Perlindungan Nelayan Kecil Dinas Perikanan Pamekasan Bambang Budi Santoso membenarkan hal tersebut. ”Ternyata Mudhar terdata di daftar penerima asuransi dari BPAN yang kartunya telah turun pada akhir Oktober lalu,” terangnya kemarin (13/11).

Pihaknya sudah mengupayakan pengajuan kepada KKP untuk mendapatkan klaim kecelakaan laut tersebut. ”Semua berkas pengajuan sudah lengkap. Hanya terkendala satu persyaratan, yakni belum adanya visum dokter,” katanya.

Menurut Budi, visum itu tidak dilakukan ketika jasad Mudhar yang sempat hilang tersebut sudah ditemukan tiga hari pasca dinyatakan hilang. Jasadnya langsung dikebumikan. ”Kalau persyaratan lengkap, insyallah akan mendapatkan (asuransi),” sambungnya.

Sementara ini Mudhar belum bisa mendapatkan klaim kecelakaan tersebut. Besaran klaim kecelakaan sekitar Rp 200 juta.

Sementara itu, Kepala Desa Padelegan Ibnu Hajar mengatakan, jasad Mudhar tidak divisum lantaran tidak diperbolehkan oleh pihak keluarga. ”Sudah ada yang mengusulkan dari polsek untuk divisum, tapi pihak keluarga tidak memperbolehkan,” tuturnya.

Padahal, berkas dan kronologi kecelakaannya sudah lengkap dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan. Termasuk keterangan kepolisian serta surat kematian dari kepala desa. (c2)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia