Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Membesuk Abd. Malik, Siswa Cerdas Pengidap Gizi Buruk

14 November 2019, 10: 28: 20 WIB | editor : Abdul Basri

MULAI MEMBAIK: Abd. Malik ditemani ayah angkatnya, Nasirudin, di ruang privasi anak lantai 3 RSUD Syamrabu Bangkalan kemarin siang.

MULAI MEMBAIK: Abd. Malik ditemani ayah angkatnya, Nasirudin, di ruang privasi anak lantai 3 RSUD Syamrabu Bangkalan kemarin siang. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Harapan sembuh dari penyakit yang diderita Malik datang dari banyak pihak. Siswa SMP yatim piatu itu kini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Kesehatan remaja 15 tahun itu semakin membaik.

AWAN gelap masih menyelimuti Kota Bangkalan kemarin (13/11). Hujan deras baru mengguyur. Namun, niat RadarMadura.id untuk membesuk Abd. Malik tidak pupus. Sebelum menemui Malik, JPRM menunggu di pusat informasi RSUD Syamrabu.

Setelah 25 menit, perempuan berhijab datang. Yakni, Kasi Keperawatan RSUD Syamrabu Tanty. Setelah menyampaikan tujuan, dia mengajak wartawan naik ke lantai 3 menggunakan lift.

Kami langsung menuju ke kamar inap Malik di ruang privasi anak. Siswa kelas 3 SMP yang terkenal cerdas itu sedang duduk bermain handphone (HP) di atas kasur. Dua pria dewasa duduk di lantai. Sesekali Malik melihat ke arah wartawan yang ngobrol dengan Nasirudin, ayah angkatnya.

Nasirudin yang juga paman Malik itu menceritakan, kondisi keponakannya itu drop selama sepuluh hari. Badannya panas. Dirinya tidak mengetahui apa sebab musabab penyakitnya. ”Saya kira sakit biasa,” katanya.

Pria 38 tahun itu menambahkan, meskipun sakit, keponakannya tetap masuk sekolah usai dijenguk teman dan gurunya. Setelah itu, atas inisiatif gurunya dibawa ke Puskesmas Klampis supaya mendapat perawatan. ”Kepala sekolah yang membawanya. Cuma kontrol saja waktu itu. Katanya karena tidak bisa dahak,” ungkapnya. ”Setelah itu dibawa ke RSUD,” imbuhnya.

Warga Dusun Trubungan, Desa Tenggun, Kecamatan Klampis, itu menjelaskan, kondisi keponakannya memang kurus. Sebelumnya tidak pernah sakit separah ini.

Nasirudin menjadikan Malik sebagai anak angkat ketika berusia dua tahun. Sebab, kedua orang tuanya meninggal. Terakhir, orang tua perempuannya meninggal. ”Kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu. Mohon doanya semoga lekas sembuh dan sehat,” harapnya.

Kepala TU SMP Al Fadlaly Ahmad Kholiq yang saat itu juga menjaga mengatakan, awal November Malik tidak masuk sekolah. Infonya Malik sakit. Sebab, selama seminggu tidak masuk sekolah. ”Dia (Abd. Malik) anaknya memang pendiam, tapi berprestasi. Aktif dalam pelajaran,” katanya.

Setelah dijenguk, lanjut Kholiq, Malik tetap masuk sekolah meskipun kondisinya tidak pulih. Setelah itu, kondisinya kembali drop. Lalu dibawa ke Puskesmas Klampis. Keluarga tidak membawanya berobat karena faktor biaya dan bingung untuk menjaga.

”Setelah dirembuk sama Kasek (kepala sekolah) dan wali murid dibawa ke RSUD. Untuk biayanya tidak dipikirkan, yang penting mendapatkan penanganan medis dulu,” jelasnya.

Pihaknya bersyukur kondisi Malik semakin membaik meskipun berat badan (BB) naik turun. Awalnya 25 kilogram, turun 22 kilogram, dan terakhir 18 kilogram. Penanganan kesehatan Malik dilakukan sambil lalu Kholiq mengurus beberapa persyaratan. ”Semoga terus pulih supaya bisa beraktivitas kembali,” harapnya.

Kepala Ruangan Anak RSUD Syamrabu Halimatus Sakdiyah mengatakan, Malik masuk Selasa (5/11) sekitar pukul 18.15. Kondisinya memang lemas, anemia, dan tidak bisa duduk. ”Setelah diperiksa, hemoglobinnya rendah. Anaknya memang kurus. Sangat pucat ketika dibawa,” ungkapnya.

Sebelum dirujuk ke RSUD Syamrabu, berat badan Malik 25 kilogram. Sesampainya di RSUD menjadi 18 kilogram. Saat ini kondisinya sudah membaik. Bisa diajak komunikasi dan makan sudah mulai enak.

”Setiap saat dikontrol. Selain mendapatkan makanan, kami juga kasih susu penambah gizi. Sehari enam kali selain makanan tambahan,” jelasnya.

Hasil diagnosis dokter, lanjut Halimatus, pasien mengidap gizi buruk. Jika dibandingkan dengan pertama masuk, saat ini sudah membaik. Jika kondisinya terus membaik, estimasi 3–4 hari sudah bisa pulang. ”Tergantung dari dokter,” ujarnya.

Selain Malik, ada pasien yang juga mengidap gizi buruk. Yakni Muhammad Syaifullah, warga Jalan Ki Lemah Duwur, Pejagan, Bangkalan. Pasien masih berumur 10 bulan. Pertama masuk langsung ke ruang ICU. ”Awal masuk diare sampai dehidrasi berat. Masuknya Senin (4/11),” jelasnya lagi.

Berat badan Syaiful 5,2 kilogram. Kondisinya sudah membaik dan dokter sudah memperbolehkan pulang. ”Hari ini (kemarin, Red) rencananya pulang. BB 7 kilogram saat ini,” pungkasnya.

(mr/rul/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia