Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Aspulla-Munarya, Pasutri Sangat Miskin yang Tak Kebagian Bantuan

Jika Hujan Tidur di Langgar atau Rumah Famili

12 November 2019, 06: 10: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TERABAIKAN: Munarya, warga miskin yang terabaikan pemerintah berada di kediamannya Dusun Temor Jalan, Desa Ambender, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, kemarin.

TERABAIKAN: Munarya, warga miskin yang terabaikan pemerintah berada di kediamannya Dusun Temor Jalan, Desa Ambender, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Pendataan warga miskin mengecewakan. Banyak penduduk miskin tidak terdata. Salah satunya pasangan Aspulla dan Munarya. Pasutri paro baya itu sudah puluhan tahun hidup dikungkung kemiskinan.

DUSUN Temor Jalan, Desa Ambender, Kecamatan Pegantenan, termasuk kawasan gersang. Panas menyengat. Sangat sedikit tumbuhan.

Jalanan naik turun. Kondisinya rusak parah. Batu bahan jalan aspal nyembul, membuat laju kendaraan sangat pelan. Bahkan, banyak kerikil lepas. Jalan di dusun tersebut lebih cocok jadi arena balap motor trail.

Di antara jalanan rusak itu, terdapat gubuk reyot terbuat dari anyaman bambu (tabing). Dari kejauhan, rumah tersebut lebih mirip tempat penyimpanan barang rongsokan. Bahkan, ketika RadarMadura.id masuk ke dalam rumah, memang banyak barang-barang menumpuk.

Kondisinya mirip gudang. Tapi, gubuk itu bukan tempat penyimpanan barang. Gubuk berukuran 2 x 4 meter itu merupakan ”istana” bagi pasangan suami istri (pasutri) Aspulla dan Munarya.

Selama 30 tahun lebih mereka berteduh dari sengat matahari dan dinginnya angin malam di gubuk itu. Meski puluhan tahun menjalin kasih dalam ikatan pernikahan, namun keduanya belum dikaruniai anak. Cobaan paling menyedihkan bagi pasangan suami istri. Tapi, cobaan yang harus dilalui tidak berhenti di situ saja.

Sang Pencipta memberi cobaan berupa hidup serba kekurangan. Setiap hari mereka harus tidur di rumah tidak layak huni. Aspulla yang usianya menginjak 62 tahun harus tetap semangat mencari nafkah.

Bahkan, dia terpaksa jarang pulang karena bekerja menjadi tukang cangkul di kecamatan tetangga. Ketika JPRM berkunjung ke kediamannya, Aspulla tidak ada di rumah kemarin (11/11).

Menurut Munarya, suami tercintanya itu jadi kuli cangkul di Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar. Selama tiga hari dia tidak bertemu dengan sang pujaan hati. ”Biasanya setengah bulan baru pulang. Tidak bisa pulang setiap hari, mau naik apa,” katanya.

Pasutri itu sangat miskin. Di dalam gubuk yang ditempati, nyaris tidak ada barang berharga. Rumahnya sangat sempit. Tidak ada ruang bercengkerama.

Lencak bambu dilengkapi kasur kempis pemberian tetangga menjadi tempat tidur paling nyaman bagi pasutri itu. Lubang-lubang menganga dari atap rumah. Jika hujan, air masuk dari berbagai sisi. Mulai dari atap, dinding, hingga dari amper.

Perempuan 62 tahun itu mengatakan, saat hujan turun, rumah itu tidak bisa ditempati. Dia harus mengungsi ke rumah sanak famili. ”Basah semua kalau hujan. Kalau hujan, tidur di langgar atau rumah famili,” katanya.

Meski hidup miskin selama puluhan tahun, pasutri itu tidak pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Bantuan raskin hanya menjadi cerita tetangga. Mereka tidak pernah mencicipi.

Kemudian, jaminan kesehatan gratis juga tidak pernah menyentuh keluarga sangat miskin itu. Program keluarga harapan (PKH) yang menjadi andalan pemerintah pusat juga tidak pernah menyentuh.

Aspulla dan Munarya benar-benar menghadapi cobaan kemiskinan itu secara mandiri, tanpa bantuan pemerintah. ”Saya tidak pernah mendapat bantuan apa pun. Tidak tahu kenapa,” kata Munarya dengan nada polos.

Perempuan berkerudung itu mengharap belas kasih pemerintah. Minimal, ada bantuan pembangunan rumah. Sebab, gubuk yang ditempati sangat tidak layak huni. Kondisinya reyot, hampir roboh.

Saat musim hujan, Munarya bukan hanya takut basah. Tapi, juga takut gubuk yang ditempati itu sekaligus menjadi kuburan. Pada saat angin kencang, rumah itu dikhawatirkan roboh dan menimpanya.

Sementara untuk kebutuhan biaya makan, Munarya bisa mencari sendiri. Dia kerap membantu suaminya dalam mencari nafkah. Caranya, jadi buruh tani. ”Bagi saya yang penting punya rumah,” katanya.

Ketua BPD Ambender Masudi membenarkan Aspulla dan Munarya tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Beberapa waktu lalu di desa tersebut ada bantuan jalin matra berupa ternak kambing. Tapi, lagi-lagi pasutri paro baya itu luput dari bantuan tersebut.

Masudi mengaku heran dengan kondisi tersebut. Pihak desa konsultasi dengan pemerintah daerah, jawabannya, data penerima bantuan itu hasil statistik nasional. ”Masak orang sangat miskin seperti ini tidak masuk statistik,” katanya.

BPD mengusulkan agar pasutri itu mendapat bantuan pangan nontunai (BPNT). Tapi, usulan itu mental lantaran data penerima tidak bisa berubah. ”Sama sekali tidak pernah mendapat bantuan,” katanya.

Kabid Penanganan Fakir Miskin Dinsos Pamekasan Taufikur Rachman belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi terkait Aspulla dan Munarya. Sebelumnya dia menjelaskan bahwa bansos harus diberikan kepada warga yang masuk basis data terpadu (BDT).

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia