Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Hujan Sudah Turun, 82 Desa Masih Kekeringan

11 November 2019, 11: 42: 29 WIB | editor : Abdul Basri

TUNGGU GILIRAN: Warga terdampak kekeringan menerima bantuan air bersih dari BPBD di Desa/Kecamatan Konang, Bangkalan, Kamis (7/11).

TUNGGU GILIRAN: Warga terdampak kekeringan menerima bantuan air bersih dari BPBD di Desa/Kecamatan Konang, Bangkalan, Kamis (7/11). (HASBUL FOR RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Hujan sudah mengguyur beberapa wilayah Madura. Namun, hingga saat ini badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) belum menghentikan distribusi air bersih. Pasalnya, puluhan desa masih mengalami kekeringan.

Dampak kekeringan musim kemarau masih dirasakan sebagian besar masyarakat Bangkalan wilayah utara. Laporan BPBD Bangkalan, sejak Sabtu (9/11) pihaknya kembali menerima permintaan pengiriman air bersih dari dua kecamatan. Yaitu dari Kecamatan Kokop dan Kecamatan Geger.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangkalan Agus Sugiharto menyampaikan, badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) memprediksi November memasuki musim hujan. Namun, hujan di Kota Salak belum merata. ”Bahkan, di pelosok belum hujan sama sekali,” katanya.

Akibat hujan yang belum merata tersebut, hingga kini pihaknya terus mengirim pasokan air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan. Terutama desa yang meminta dikirim air bersih. ”Terakhir ngirim itu Kamis (7/11). Senin (11/11) kami akan kirim lagi,” ucapnya.

BPBD memetakan wilayah kekeringan dalam dua kriteria. Yaitu, kering langka dan kering kritis. Sebanyak 56 desa masuk kering langka dan 26 desa kering kritis. Sebanyak 82 desa itu tersebar di 12 kecamatan.

Sementara BPBD Pamekasan memastikan akan mengakhiri tanggap darurat kekeringan air bersih akhir bulan ini. Padahal, sampai saat ini masih banyak warga yang tidak kedapatan air bersih.

”Kondisional saja. Jika di beberapa desa sudah mulai turun hujan bisa kita hentikan pengirimannya,” terang Kepala BPBD Pamekasan Akmalul Firdaus.

Firdaus tidak bisa memastikan bantuan air jika setelah November belum juga turun hujan. Kemungkinan besar perpanjangan suplai air tidak bisa dilakukan. Jika darurat, pengiriman air hanya bersifat insidental. ”Tapi akan berkoordinasi dengan BMKG dulu. Jika warga masih membutuhkan, kami masih punya program reguler.” terangnya.

Program tanggap darurat pengiriman air bersih tahap pertama dilakukan Agustus– September. Setelah itu, diperpanjang Oktober–November karena masih terjadi musim kemarau. ”Musim kemarau berdampak terhadap kekeringan 325 dusun di 80 desa,” tukasnya. (c1)

(mr/sin/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia