Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Pilkades Juruan Laok Seret Dua Tersangka

Dorong Usut Dalang Kerusuhan

10 November 2019, 01: 38: 57 WIB | editor : Abdul Basri

TAK BERKUTIK: Tersangka kerusuhan pilkades di Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, diamankan polisi.

TAK BERKUTIK: Tersangka kerusuhan pilkades di Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, diamankan polisi. (POLRES SUMENP FOR RadarMadura.id)

Share this      

Kerusuhan saat pencoblosan di Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, menggelinding ke ranah hukum. Polres Sumenep telah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Warga meminta korps baju cokelat mengusut semua yang terlibat.

DUA orang yang ditetapkan tersangka itu ialah Surato, 31, dan Tolak Ahmad, 25. Mereka merupakan warga desa setempat. Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Widiarti menyampaikan, dari hasil pemeriksaan, mereka mengakui telah merusak properti pemilihan kepala desa (pilkades).

Saat itu polisi mendatangi lokasi setelah mendengar informasi kerusuhan. Kedua pelaku diamankan polisi saat terjadi kerusuhan. Tindakan itu juga didasari laporan warga nomor LP/190/XI/2019/JATIM/RES SMP tanggal 7 November 2019.

Barang bukti yang diamankan dari peristiwa tersebut di antaranya, rekaman video, potongan kursi plastik, potongan kursi kayu, meja kayu, sobekan kertas suara, bilik suara, dan kotak suara. ”Sedang diamankan dalam rangka pengembangan,” jelasnya.

Pilkades serentak di Sumenep belum seluruhnya selesai. Masyarakat diimbau menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran supaya kejadian serupa tidak terulang kembali saat pilkades di kepulauan.

Pihaknya akan terus melakukan pengembangan dari dua tersangka tersebut. Pastinya, penyidik akan terus mengembangkan. Bukan tidak mungkin apabila ada tersangka berikutnya. ”Kalau dari hasil pengembangan terbukti ada tersangka lain, pasti juga kami amankan,” tegasnya.

Ms (inisial), warga Desa Juruan Laok, mendukung langkah polisi untuk mengusut kasus tersebut. Kericuhan saat pemilihan kalebun itu tidak hanya dilakukan dua orang. Dia yakin ada yang memobilisasi massa.

Karena itu, dalang atau aktor utama peristiwa tersebut. Kericuhan tersebut diduga ada peran warga masing-masing berinisial Sm, Mr, Hn, Ss, Ms, dan It. Dua orang terakhir ini merupakan saudara kandung Sm. ”Polisi harus bekerja profesional mengusut semua yang terlibat. Termasuk yang memprovokasi warga hingga melakukan perusakan di TPS,” kata Ms.

Kericuhan berawal saat massa mendatangi TPS. Mereka diduga sebagai pendukung salah satu bakal calon kepala desa (bacakades) yang tidak lolos tahap pencalonan. Massa meminta pilkades ditunda.

Namun, panitia pemilihan kepala desa (P2KD) tetap kukuh melanjutkan tahapan tersebut. Sebab, tidak ada perintah dari tim kabupaten untuk melakukan penundaan. Massa yang tidak terima kemudian langsung merusak fasilitas pemilihan. (c3)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia