Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Keluarga Matsuri Tempati Gubuk Berdinding Kain dan Terpal

Boleh Miskin Harta, tapi Harus Kaya Hati

07 November 2019, 11: 08: 39 WIB | editor : Abdul Basri

TAWAKAL: Matsuri beserta istri dan anaknya berada di pintu rumah yang dindingnya dari kain dan terpal di Dusun Jaah, Desa Tampojung Pregi, Kecamatan Waru, Pamekasan, Selasa (5/11).

TAWAKAL: Matsuri beserta istri dan anaknya berada di pintu rumah yang dindingnya dari kain dan terpal di Dusun Jaah, Desa Tampojung Pregi, Kecamatan Waru, Pamekasan, Selasa (5/11). (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Peningkatan kesejahteraan yang dijanjikan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam belum merata. Masih ditemukan warga sangat miskin. Bahkan, tidak tersentuh bantuan pemerintah.

LANGIT Dusun Jaah, Desa Tampojung Pregi, Kecamatan Waru, sangat cerah, Selasa (5/11). Hilir mudik kendaraan bermotor menyesaki jalan berliku itu. Sesekali debu beterbangan mengikuti arah angin.

Di atas bukit, terlihat kain warna warni membungkus gubuk. Kain warna putih ikut melambai. Mirip bendera tanda menyerah dalam gelanggang perang. Tapi, kain itu bukan pertanda penghuni gubuk menyerah. Justru, semangat hidup berkobar.

Tidak ada akses jalan yang bisa dilalui kendaraan menuju gubuk itu. Pengunjung harus jalan kaki. Jalanan sempit. Hanya pas untuk satu orang. Tidak bisa berpapasan. Maklum, jalan itu bukan dibuat pemerintah. Tapi, dibuat dari tangan Matsuri, 75, si penghuni gubuk menggunakan cangkul.

Dari kejauhan, gubuk itu mirip tempat penyimpanan hasil tani di daerah bukit. Atap gubuk pakai asbes. Dindingnya memprihatinkan. Sekeliling dinding menggunakan beragam potongan kain. Sebagian menggunakan kain putih lusuh penuh noda tanah.

Bagian lain menggunakan seprai kasur. Pada bagian lain ditutup terpal. Kain itu tidak bisa membungkus gubuk dengan sempurna.

Terdapat celah angin masuk. Penghuni gubuk mengakali dengan menutup pakai seng, sisa asbes, dan bekas pintu. Usahanya tidak sepenuhnya berhasil. Masih ada celah lubang yang mudah diakses hewan liar.

Letak gubuk itu berada di atas bukit. Ular, kodok, tikus, dan hewan liar lain seolah menjadi teman. Bahkan, hewan-hewan itu kerap keluar masuk rumah yang dihuni Matsuri beserta istri dan kedua anaknya.

Ironisnya, kondisi ekonomi yang memprihatinkan itu harus ditanggung sendiri. Beragam bantuan yang diprogram pemerintah tidak menyentuh keluarga serba kekurangan itu.

Pengakuan kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Matsuri tidak pernah mendapat bantuan beras. Dia juga tidak mengenal bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) yang dibanggakan pemerintah pusat.

Padahal, dua anaknya yakni Ahmad Ropiqi, 10, dan Rohematul Aliyah, 5, sama-sama sekolah. Anak pertamanya duduk di bangku kelas 5 madrasah ibtidaiyah (MI). Sementara anak bungsunya duduk di kelas 1.

Hidup mereka serba keterbatasan. Ditambah kondisi kesehatan Matsuri terganggu. Dia tidak bisa kerja berat. Tugas sebagai tulang punggung keluarga diambil alih Sami, 35, istri tercintanya dengan cara kerja serabutan.

Sami juga menggembalakan sapi milik tetangga. Hasilnya dibagi dua. Setiap hari, perempuan berkerudung itu harus menyabit rumput untuk sapi yang digembalakan. Hasil kerja perempuan tangguh itu digunakan untuk biaya hidup sehari-hari.

Terkadang, ada tetangga berbelas kasih memberi makanan. Matsuri harus benar-benar hemat menggunakan uang. Bahkan, air untuk keperluan mandi bergantung pada hujan. Sementara untuk kebutuhan konsumsi, menimba di sumur yang jaraknya cukup jauh.

Matsuri menempati gubuk itu kurang lebih 25 tahun. Semula, ”istana” itu terbuat dari gedek. Namun, beberapa tahun lalu ambruk dimakan usia. Gedek hancur lebur tidak tersisa dimakan rayap. Akhirnya, diputuskan menggunakan kain.

Meski dalam kondisi serba kekurangan, Masturi beserta keluarga tetap tegar. Bagi dia, kemiskinan hanya cobaan yang harus diterima dengan ikhlas. Dia selalu berdoa kepada Sang Pencipta agar segera ditolong dari cobaan itu.

Salat lima waktu dan ibadah sunah lain menjadi media Masturi mengadu kepada Tuhan. Dia yakin, suatu saat Sang Pencipta akan memberi kebahagiaan yang sempurna. ”Boleh miskin harta, tapi harus kaya hati,” katanya.

Ketegaran menghadapi cobaan kemiskinan juga disampaikan Sami. Perempuan berbadan tinggi itu sama sekali tidak mengeluhkan kondisinya yang serba kekurangan. Bahkan, dia tidak pernah iri meski tidak pernah kebagian bantuan dari pemerintah.

Sami mengatakan, tetangganya banyak yang memperoleh bantuan seperti raskin. Tetapi, dia tidak pernah dapat. Beruntung, tetangga mengasihani dengan memberi sebagian beras bantuan itu. ”Kalau PKH saya tidak pernah dapat,” jelasnya.

Perempuan berbaju merah itu berharap suatu saat bisa hidup dengan kondisi ekonomi cukup. Dia bercita-cita ingin menyekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan tinggi. Harapannya, kedua buah hatinya itu bisa mengangkat harkat dan derajat keluarga.

Koordinator PKH Pamekasan Hanafi mengatakan, pihaknya hanya bisa membantu mengecek apakah yang bersangkutan masuk basis data terpadu (BDT) atau tidak. Sementara pihaknya belum ada kewenangan mengusulkan tambahan keluarga penerima manfaat (KPM).

Dengan demikian, mereka hanya bisa membantu kroscek dan asistensi untuk melaporkan ke pemerintah pusat. Hanafi berjanji akan mengunjungi yang bersangkutan untuk dikonfirmasi ke pemerintah desa setempat. ”Khawatir tidak masuk BDT,” katanya.

Kabid Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan Taufikur Rachman mengatakan, di desa ada petugas fasilitator SIKS-NG yang mendata dan memproses status dan data diri orang miskin. Kemudian, petugas tersebut juga memperbaiki data-data yang sebelumnya kurang tepat sasaran.

Perbaikan data itu bisa dilakukan melalui musyawarah desa yang dipimpin Kades dengan mengundang tokoh masyarakat. Hasil rapat dituangkan dalam formulir format khusus. Isi formulir tersebut yakni KPM yang dikeluarkan dan KPM yang dimasukkan sebagai penganti.

Data tersebut diinput ke SIKS-NG dan dimpan ulang. Lalu, dikirim ke koordinator kecamatan dan dilaporkan ke Pusdatin Kementerian Sosial (Kemensos). ”Kita tunggu hasil keputusan pusdatin. Penerima bantuan sosial harus masuk BDT,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia