Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Baju Sakera dan Marlena Bukan Produk Lokal

07 November 2019, 11: 03: 49 WIB | editor : Abdul Basri

BAJU ADAT: Pedagang Pasar Srimangunan Abdul Majid menunjukkan baju pesa’ yang dijualnya kemarin.

BAJU ADAT: Pedagang Pasar Srimangunan Abdul Majid menunjukkan baju pesa’ yang dijualnya kemarin. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Ada yang berbeda di lingkungan Pemkab Sampang kemarin (6/11). Seluruh aparatur sipil negara (ASN) mengenakan pakaian adat Madura. Yang laki-laki mengenakan baju pesa’ gombor, sedang yang perempuan baju marlena.

Kabag Humas dan Protokol Setkab Sampang Yulis Juwaidi juga memakai pakaian adat itu. Biasanya, pria yang sering memberikan informasi agenda pemkab itu mengenakan pakaian dinas harian, pakaian sipil harian, atau lainnya.

Menurutnya, selama tiga hari para ASN memang diwajibkan untuk mengenakan pakaian adat Madura hingga hari ini (7/11). ”Bapak Bupati melalui Pak Sekkab telah mengirimkan surat edaran agar seluruh ASN mengenakan baju adat,” tambahnya.

Dijelaskan, yang dikirimi surat edaran bukan hanya kantor pemerintahan. Perguruan tinggi serta organisasi kemasyarakatan juga dianjurkan untuk mengenakan pakaian adat. Tetapi, yang paling diutamakan di lingkungan pemkab.

Menurut Yulis, pemakaian baju adat ini juga sebagai bentuk edukasi kepada generasi muda. Bahwa, Madura memiliki pakaian adat yang juga keren. Baju tersebut perlu dilestarikan agar karakter dan budaya lokal tidak lenyap ditelan zaman yang bergerak cepat.

Pakaian adat Madura saat ini dihadapkan dengan perkembangan mode dan tren busana, baik nasional atau internasional. Karena itulah, tugas generasi muda mempertahankan agar baju ini tidak usang. Baik dengan cara memodifikasi atau menyesuaikan dengan selera zaman tanpa harus menghilangkan karakter dari pakaian adat itu sendiri.

”Generasi harus ikut andil dan turut serta dalam pembangunan ke depan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal,” tukasnya.

Bupati Sampang Slamet Junaidi menegaskan, memakai baju tradisional sebagai bentuk rasa cinta dan memiliki terhadap kekayaan lokal Madura, khususnya Sampang. Dengan jiwa dan rasa memiliki inilah semua pihak diharapkan ikut andil dalam pembangunan. ”Hal ini juga sebagai cara kita mengajarkan kebudayaan dan pakaian adat kepada generasi penerus,” katanya.

Pemkab Sampang mengeluarkan surat edaran tentang kewajiban memakai pakaian adat selama tiga hari pada 5–7 November 2019. Perintah memakai baju adat itu dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-396 Kabupaten Sampang.

Tetapi kewajiban memakai baju baju pesa’ untuk laki-laki dan marlena bagi perempuan ini tidak terlalu menguntungkan bagi warga Sampang. Pasalnya, pakaian ini tidak diproduksi di Sampang.

Pedagang di Pasar Srimangunan Abdul Majid mendatangkan baju marlena dari Surabaya. Dia hanya memberikan contoh model pakaian yang dibutuhkan. Setelah selesai dibuat di Surabaya, dia kemudian menjualnya di Pasar Srimangunan.

”Tidak ada di sini yang bikin kayak gini,” kata pria yang akrab disapa Haji Madi itu saat ditemui di Blok A II/170 Pasar Srimangunan kemarin (6/11).

Untuk pakaian adat pria, tidak semuanya beli di Surabaya. Untuk celana dan baju pesa’, dia bikin sendiri di rumah. Hanya, bahan kain yang mendatangkan dari Surabaya. Untuk odheng Madura juga telah banyak diproduksi, baik di Sampang atau di Bangkalan.

Tetapi untuk sabuk dan kaus dengan garis merah putih horizontal membeli di Surabaya. ”Kalau kaus yang merah putih itu, yang sering disebut baju sakera, belinya di Surabaya,” tegas pria 54 tahun itu.

Plt Kepala Disperdagprin Sampang Abd Hannan menyebut sudah ada yang memproduksinya di tingkat lokal. Hanya, dia tidak bisa menyebut di mana saja sentra produksi dari pakaian adat tersebut. ”Itu sudah ada di Sampang. Saya saja membelinya di Sampang kok,” kata mantan kepala DPRKP tersebut.

(mr/mam/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia