Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Politik Pemerintahan

Perombakan Kurikulum Jangan Abaikan Kearifan Lokal

05 November 2019, 14: 21: 30 WIB | editor : Abdul Basri

MUDA: Anggota DPR RI asal Sampang, Madura, Slamet Ariyadi saat berada di ruang kerjanya kemarin.

MUDA: Anggota DPR RI asal Sampang, Madura, Slamet Ariyadi saat berada di ruang kerjanya kemarin. (RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Presiden Joko Widodo meminta Mendikbud Nadiem Makarim melakukan evaluasi kurikulum pendidikan secara besar-besaran. Sebab, saat ini perkembangan pendidikan melaju pesat. Selain itu, ilmu pengetahuan keterampilan juga mudah usang.

Perintah evaluasi kurikulum pendidikan besar-besaran ini mendapat tanggapan dari anggota DPR RI asal Sampang, Madura, Slamet Ariyadi. Menurut dia, evaluasi memang penting dilakukan agar pendidikan berdaya saing. Akan tetapi, evaluasi bukan berarti melenyapkan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam dunia pendidikan, terutama terkait kearifan lokal.

”Perombakan kurikulum pendidikan harus betul-betul melihat segala aspek yang tentunya bisa bernilai dan berdampak dalam kemajuan pendidikan skala nasional,” kata Slamet kemarin (4/11).

Mantan aktivis PMII Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu juga memberikan beberapa catatan. Pertama, meskipun Mendikbud saat ini berlatar belakang pengusaha, bukan berarti pendidikan harus menghasilkan tenaga kerja. Sebab, pendidikan bukanlah pencetak robot yang tugasnya setelah lulus hanya bekerja.

”Pendidikan juga perlu dimaknai secara filosofis. Yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa dan memanusiakan manusia,” jelasnya.

Memperhatikan nilai-nilai budaya lokal juga penting. Sebab, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya, adat istiadat, dan semacamnya. Harus ada ruang yang luas agar kearifan lokal itu bisa terserap oleh kurikulum pendidikan nasional.

Hal lain yang perlu dievaluasi juga mata pelajaran yang diterima oleh siswa. Berdasarkan aspirasi dari bawah, saat ini mata pelajaran di tingkat dasar dan menengah terlalu banyak. Akibatnya, siswa tidak bisa menguasai dari sekian banyak mata pelajaran yang berjubel itu.

”Mata pelajaran jangan terlalu banyak. Tetapi, harus berjenjang sesuai dengan daya tangkap dan nalar siswa,” paparnya. ”Kemendikbud juga harus punya lompatan agar output pendidikan nasional bisa berdaya saing di tingkat global,” tukasnya. 

(mr/mam/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia