Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Mengunjungi SDN Palesanggar 5 yang Ambruk sejak Lima Bulan Lalu

Tiap Hujan Turun Siswa Dipulangkan Lebih Awal

05 November 2019, 13: 51: 18 WIB | editor : Abdul Basri

MEMBAHAYAKAN: Plt Kepala SDN Palesanggar 5 Moh. Kasim berada di ruang kelas yang ambruk kemarin.

MEMBAHAYAKAN: Plt Kepala SDN Palesanggar 5 Moh. Kasim berada di ruang kelas yang ambruk kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan terhadap pendidikan belum memuaskan. Siswa SDN Palesanggar 5 terpaksa belajar di bawah bangunan berbahaya lantaran belum ada perbaikan.

PULUHAN pelajar SDN Palesanggar 5 berhamburan dari ruang kelas. Tas ransel menempel di bahunya. Wajah mereka semringah setelah guru pengajar menyelesaikan kegiatan belajar mengajar (KBM) kemarin (4/11). Saat itu jarum jam menunjukkan angka 11.30.

Sebagian siswa tidak langsung pulang. Mereka bermain di halaman yang ditumbuhi rumput. Ada pula yang duduk santai sembari menunggu siswa sekolah lain yang lokasinya berdekatan.

Nyaris tidak ditemukan kekhawatiran dalam raut wajah siswa itu. Padahal, bahaya selalu mengintai. Mereka belajar di bawah ruang kelas yang kondisinya memprihatinkan. Sejumlah sisi tembok retak. Bahkan, satu ruangan ambruk.

Genting atap berhamburan. Kayu penyangga di bagian atap juga luluh lantak. Ruangan tersebut biasanya digunakan KBM khusus kelas II. Namun, sejak ambruk pada 23 Juni lalu, ruangan itu tidak dipakai.

Murid kelas II diungsikan ke kelas I. Akibatnya, satu ruang kelas berukuran 8 x 7 meter persegi itu digunakan untuk dua rombongan belajar (rombel). Total siswa yang belajar di kelas tersebut 35 siswa. Perinciannya, 13 siswa kelas II dan 22 siswa kelas I.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Palesangger 5 Moh. Kasim mengatakan, kelas tersebut ambruk pada Juni lalu. Beruntung, saat kejadian tidak ada KBM. Sebab, musibah itu terjadi pada Minggu.

Gedung sekolah tersebut dibangun pada 2002. Usianya relatif baru. Tetapi, kontur tanah bergerak. Akibatnya, bangunan kokoh itu retak dan ujungnya ambruk. ”Tanahnya bergerak di sini,” katanya kemarin (4/11).

Kondisi gedung mengkhawatirkan. Sejumlah sisi retak. Tetapi, tidak ada pilihan lain. KBM tetap harus berjalan. Demi menyiasati agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan, pihak sekolah membuat kebijakan.

Yakni, setiap hujan turun, siswa dipulangkan lebih awal. Meski tidak ada atap bocor, tetapi khawatir ambruk seperti yang terjadi pada Juni lalu. ”Kami khawatir terjadi hal yang membahayakan,” tuturnya.

Kondisi gedung ambruk itu dilaporkan ke Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan. Namun, belum ada agenda pembangunan. Kemungkinan, pembangunan digelar tahun depan. ”Kami disuruh menunggu,” ujarnya.

SD tersebut butuh bangunan yang layak ditempati KBM. Total siswa 71 orang. Jumlah tersebut terbilang banyak karena berdekatan dengan madrasah. ”Insyaallah tahun depan dibangun,” harapnya.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala Disdik Pamekasan Prama Jaya mengetahui sekolah tersebut ambruk. Pemerintah berencana merehab sarana pendidikan itu tahun depan. ”Program rehab total 2020,” tegasnya.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mendesak gedung sekolah ambruk itu segera diperbaiki. Sebab, selain mengganggu jalannya KBM, berbahaya bagi siswa.

Pemerintah tidak boleh mengabaikan keselamatan siswa dan guru. Perbaikan harusnya dikerjakan secepat mungkin. Apalagi, gedung tersebut merupakan sarana belajar yang sangat dibutuhkan. ”Gedung sekolah itu sangat dibutuhkan,” katanya.

Sahur menyampaikan, salah satu program prioritas bupati adalah peningkatan mutu pendidikan. Upaya peningkatan mutu itu tidak lepas dari perbaikan sarana dan prasarana. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi pemerintah menunda perbaikan gedung sekolah tersebut.

(mr/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia