Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Pamekasan

IAIN Madura Sukses Gelar Konferensi Internasional III

19 Perguruan Tinggi Ikut Berpartisipasi

04 November 2019, 05: 05: 59 WIB | editor : Abdul Basri

CENDEKIAWAN: Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim (dua dari kiri) memberikan cenderamata kepada para pembicara utama dalam acara ICONIS III & Call for Papers di Auditorium Center IAIN Madura Sabtu (2/11).

CENDEKIAWAN: Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim (dua dari kiri) memberikan cenderamata kepada para pembicara utama dalam acara ICONIS III & Call for Papers di Auditorium Center IAIN Madura Sabtu (2/11). (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menggelar International Conference on Islamic Studies (ICONIS) III dan Call for Papers, Sabtu (2/11). Tema yang diusung The Best Practice of Islamic Moderation in Heterogeneous Society.

Acara tersebut bertujuan untuk terus mengampanyekan Islam moderat di tengah maraknya ekstremisme dan radikalisme berlatar belakang agama. Tema moderasi agama ini adalah tema tetap selama tiga kali berturut-turut ICONIS dilaksanakan.

”Beragam aliran dengan mudah keluar-masuk dari dan ke berbagai negara, tak terkecuali aliran dan gerakan radikalisme dan ekstremisme sehingga kita perlu membentengi diri,” kata Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim.

KHIDMAT: Para pembicara utama ICONIS III (dari kiri) Prof. Dr. Mujiburrahman, MA., Prof. Dr. M. Arskal Salim GP. M.Ag., Dr. Luqman Bin Haji Abdullah, dan moderator Mashur Abadi, M.Fil. saat diskusi.

KHIDMAT: Para pembicara utama ICONIS III (dari kiri) Prof. Dr. Mujiburrahman, MA., Prof. Dr. M. Arskal Salim GP. M.Ag., Dr. Luqman Bin Haji Abdullah, dan moderator Mashur Abadi, M.Fil. saat diskusi. (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Menurut mantan pengurus cabang PMII Pamekasan itu, keragaman adalah niscaya. Tidak mungkin dihilangkan. ”Indonesia, sama juga Malaysia, merupakan negara plural-multikultural, sehingga moderasi beragama menjadi penting dibangun,” terangnya.

Dalam konferensi internasional tersebut, pihak IAIN Madura mendatangkan tiga cendekiawan muslim sebagai pembicara. Yakni, Director of Islamic Higher Education, Ministry of Religious Affairs Prof. Dr. M Arskal Salim GP. M.Ag. Kemudian Rektor UIN Antasari Banjarmasin Prof. Dr. Mujiburrahman, M.A.

Selain itu, tokoh cendekiawan asal Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia turut menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Yakni Head of Department of Fiqih and Usul, Academy of Islamic Studies Dr. Luqman Bin Haji Abdullah.

Acara yang dibuka dengan tarian khas Sumenep, yakni muwang sangkal, tidak serta-merta bisa diikuti oleh semua akademisi. Kendati terbuka untuk umum, acara tersebut hanya boleh diikuti mereka yang makalahnya lulus seleksi.

Dalam acara yang berlangsung mulai 1–3 November itu terdapat 145 pengusul makalah. Namun, hanya 65 pengusul yang lolos seleksi dan dapat mempresentasikan makalahnya di ICONIS III dan Call for Papers tersebut.

Para panelis tersebut berasal dari 19 perguruan tinggi yang tersebar di dalam dan luar negeri. Di antaranya dari IAIN Lhokseumawe, Aceh; Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta; Universitas Muhammadiyah, Malang; UIN Sunan Ampel, Surabaya; Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta; dan lainnya.

Delegasi dari Universitas Malaya juga datang sebanyak tiga orang panelis untuk ikut serta dalam konferensi tersebut. Sementara panelis terbanyak berasal dari IAIN Madura, yakni 26 panelis. Terdiri dari dosen dan mahasiswa.

Acara tersebut dibuka langsung oleh Prof. Dr. M. Arskal Salim. Dia menyampaikan apresiasinya yang begitu tinggi kepada IAIN Madura karena telah berupaya untuk konsisten dalam melaksanakan konferensi internasional.

”Ini tentu tidak serta-merta bisa dilakukan tanpa ada persiapan, tanpa ada kesiapan, dan kesediaan dari pelaksana, dalam hal ini pimpinan IAIN Madura dan segenap civitas academica di dalamnya,” terangnya.

Menurutnya, tema yang diusung dalam konferensi internasional tersebut merupakan tema besar dari Kementerian Agama dan aktivitas di seluruh 4.000 lebih satuan kerja di bawah kementerian. Bagi Kementerian Agama, moderasi beragama sebagai DNA.

”Dalam setiap aktivitas programnya, termasuk bagi seluruh perguruan tinggi yang ada di bawah naungan Kementerian Agama, harus mengikutsertakan visi misi moderasi beragama,” jelasnya.

Prof. Dr. M. Arskal Salim juga menyampaikan bahwa pada 2020–2024, rancangan teknokratik atau rencana strategis kepemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin adalah memasukkan moderasi beragama sebagai kegiatan pokok. ”Moderasi beragama adalah cara untuk menjaga, memelihara, dan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia,” sambungnya.

Dia juga mengarahkan IAIN Madura dengan segala persiapannya untuk segera bertransformasi dari IAIN menjadi UIN Madura. ”Rektor IAIN sudah melakukan upaya-upaya strategis dalam menyiapkan proses ini, dan ini sudah ada tanda-tandanya,” tandasnya. (c2)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia