Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Tari Muwang Sangkal untuk Membuang Sial

Tradisi yang Kita Punya Harus Diperkenalkan

04 November 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TRADISI: Mahasiswi IAIN Madura saat menampilkan tarian muwang sangkal dalam acara penyambutan tamu saat pembukaan ICONIS III di Auditorium Center, Sabtu (2/11).

TRADISI: Mahasiswi IAIN Madura saat menampilkan tarian muwang sangkal dalam acara penyambutan tamu saat pembukaan ICONIS III di Auditorium Center, Sabtu (2/11). (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

Pembicara utama dan peserta International Conference on Islamic Studies (ICONIS) III dan Call for Papers disambut dengan tarian muwang sangkal. Tradisi ini diharapkan bisa membuang sial.

BEBERAPA orang berkopiah hitam berjalan beriringan dari gedung rektorat IAIN Madura menuju Auditorium Center di Sabtu siang (2/11). Tiga di antaranya merupakan cendekiawan.

Kedatangan mereka tidak lain sebagai pembicara utama dalam acara Konferensi Internasional yang digelar IAIN Madura. Sampai di muka pintu gedung auditorium, mereka disambut tiga mahasiswi yang memperagakan tari muwang sangkal. Tarian ini diiringi dengan musik gamelan khas keraton.

Tiga penari memakai kostum khusus untuk memperagakan tarian tradisional khas Sumenep itu. Mereka menggunakan mahkota yang dililit bunga berwarna merah tua. Ada aksesori kembang goyang yang dipasang di atas mahkota.

Tangan merentangkan selendang merah sambil lalu menari mengikuti alunan musik. Para tamu yang disambutnya berjalan di belakang mereka dengan pelan-pelan.

Kostum yang dipakai penari itu tampak menawan. Memadukan warna kuning, merah, hijau, dan hitam. Mereka menari sejak dari pintu. Seperti menyambut tamu besar dan menggiringnya masuk ke auditorium.

Tarian muwang sangkal sendiri memang dikenal untuk membuang sial. Sebagaimana kepercayaan masyarakat Sumenep khususnya. Memang pada dasarnya, tarian ini digunakan dalam acara besar atau acara adat untuk penyambutan tamu.

Menurut Ketua Panitia Acara Konferensi Internasional Abd. Ghofur, penyambutan tamu dalam acara konferensi tersebut tidak boleh melepaskan ciri ke-Madura-an. Bahwa, orang Madura punya kaitan erat dengan beragam adat dan tradisi.

Sebab itu, diperagakanlah tari muwang sangkal tersebut. ”Kita tidak boleh meninggalkan konsep kemaduraannya, bahwa kita ini sebagai Madura,” ujarnya.

Tarian tersebut juga untuk dikenalkan kepada khalayak. Karena dalam acara tersebut juga dihadiri para peserta dari luar Madura. Bahkan, salah satu pembicara dan peserta ada yang datang dari negeri jiran.

Dua kali berturut-turut agenda Konferensi Internasional yang digelar IAIN Madura dibuka dengan tarian muwang sangkal yang langsung diperagakan oleh mahasiswi. Tarian muwang sangkal menurut dosen Pendidikan Bahasa Inggris tersebut sebagai ekspresi tradisi untuk menolak sial dalam sebuah acara.

Peragaan tarian tersebut diharapkan bisa memperlancar acara. ”Nuansa kali ini bernunsa sebuah tradisi. Ketika kita menggelar sesuatu, kita berupaya menyampaikan tarian ini, sebagai upaya menjalani ekspresi tradisi,” terangnya. Karena memang tarian muwang sangkal secara simbolis untuk membuang sangka.

Selain itu, menurut lelaki bertubuh tinggi tersebut, tarian muwang sangkal sendiri bagian dari tradisi yang bisa kita isi esensinya dengan nilai-nilai keislaman. ”Tradisi yang kita punya kita upayakan untuk disampaikan dengan tidak melepas nilai-nilai islamnya,” pungkasnya. (c2)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia