Selasa, 28 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Sampang

Satu Kilogram Rp 200, Petani Garam Kelimpungan

04 November 2019, 01: 28: 20 WIB | editor : Abdul Basri

HARGA LESU: Seorang petani sedang mengeruk garam di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, kemarin.

HARGA LESU: Seorang petani sedang mengeruk garam di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, kemarin. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Tomin, 50, menatap lesu hamparan garam yang siap panen di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, kemarin (3/11). Dia memang senang karena kristal-kristal putih itu sebentar lagi panen. Tetapi, harga yang kurang berpihak kepada petani membuatnya tak bisa tersenyum lebar.

Harga garam saat ini berada di titik paling rendah. Satu kilogram miliknya terjual Rp 200. Jika dia punya satu ton garam, berarti dia hanya bisa memperoleh uang Rp 200 ribu. Harga ini menurutnya membuat para petani kelimpungan.

”Bagaimana tidak kelimpungan, biaya produksinya kan juga mahal,” kata Tomin kepada RadarMadura.id.

Bagi Tomin, harga Rp 200 itu cukup mencekik. Dia tidak bisa mendapatkan keuntungan lebih dari tata niaga garam tersebut. Apalagi jual beli garam tahun ini tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya.

”Tahun lalu juga sudah murah, sekarang tambah murah lagi. Ya petani kecil semacam saya ini tidak berdaya,” keluhnya.

Meski demikian, warga Kelurahan Polagan itu tetap mengaku menggarap tambak garam. Sebab, dari tambak itulah dia bisa mengais rezeki. Meski keuntungan tidak besar, paling tidak dia bisa menggunakan hasil penjualan garam untuk kebutuhan rumah tangga.

”Bagaimanapun kami harus bersyukur. Sebab ini rezeki dari Allah. Tetap patut kita syukuri,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan oleh petani lainnya, Rudi. Dia berharap agar ke depan harga garam bisa kembali tinggi. Sebab menurutnya, ada ribuan orang yang memiliki ketergantungan nasib terhadap hasil penjualan garam.

”Petani garam itu kan ribuan orang. Kalau harga rendah, otomatis ribuan orang itu juga terkena dampaknya,” jelasnya.

Sementara itu, upaya untuk menaikkan harga garam rakyat melalui aspirasi di tingkat pusat belum membuahkan hasil. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pernah mengaspirasikan soal pentingnya harga pokok penjualan (HPP) garam. Tetapi, hingga musim panen garam hampir berakhir, Kementerian Perdagangan belum menerbitkan HPP garam.

(mr/mam/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia