Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

DPRD Ancam Coret Program Wirausaha Muda

Diskop-UM Ajukan Anggaran Rp 4 M pada 2020

01 November 2019, 02: 30: 59 WIB | editor : Abdul Basri

MENJANJIKAN: Salah satu kelompok wirausaha muda membatik di rumah produksi usaha di Jalan dr. Soetomo kemarin.

MENJANJIKAN: Salah satu kelompok wirausaha muda membatik di rumah produksi usaha di Jalan dr. Soetomo kemarin. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Program wirausaha muda yang menjadi salah satu unggulan bupati Sumenep disorot. DPRD menganggap program pengorbitan 1.000 wirausaha muda itu tidak berjalan maksimal.

Sekretaris Komisi II DPRD Sumenep Badrul Aini menuding program yang dijalankan sejak 2016 tersebut gagal. program yang setiap tahun mendapat kucuran dana miliaran itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. ”Gagal menciptakan 1.000 pengusaha muda per tahun,” tudingnya kemarin (31/10).

Badrul mengungkapkan, komisi II telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) beberapa waktu lalu. Dia menyebut banyak temuan dari program unggulan bupati Sumenep itu tidak berjalan maksimal. Salah satunya di bidang program pembinaan kepada wirausaha muda.

”Instruktur pelatihan tidak melibatkan pihak yang kompeten,” ujarnya.

Dewan menemukan banyak sarana dan prasarana yang rusak saat mendatangi rumah produksi wirausaha muda. Bahkan, kata dia, sarana produksi yang harusnya dapat dimiliki masing-masing kelompok dijadikan media latihan kembali kepada kelompok-kelompok baru. ”Hibah kepada kelompok ditahan dan ditumpuk satu tempat,” imbuhnya.

Yang sangat fatal, lanjut Badrul, pengelolaan terhadap wirausaha muda menggandeng salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Sumenep. Padahal, ujar dia, upaya tersebut tidak boleh dilakukan.

”Perguruan tinggi yang dilibatkan adalah swasta yang tidak diperbolehkan,” terang politikus PBB tersebut.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Sumenep Moh. Subaidi membenarkan pihaknya sudah melakukan sidak di rumah produksi surat wirausaha muda. Dia membenarkan banyak temuan yang mengindikasikan progaram yang melekat di dinas koperasi dan usaha mikro (diskop UM) tersebut.

Subaidi menegaskan, sebenarnya program tersebut sangat baik untuk menekan kemiskinan dan pengangguran di Kota Keris. Hanya, kata dia, pengelolaan program itu nmasih jauh dari harapan.

Menanggapi itu, Kepala Diskop-UM Sumenep Fajar Rahman mengatakan, sampai saat ini baru 700 wirausaha muda yang diberi pelatihan selama 2019. Pihaknya mengklaim sering mengikutkan masyarakat pelatihan di luar program 1.000 wirausaha muda.

Fajar menepis tudingan pihak ketiga yang digandeng untuk menyukseskan program wirausaha muda menyalahi aturan. Lembaganya menggandeng yayasan yang membawahi perguruan tinggi swasta di Kota Keris. ”Bukan sama perguruan tingginya, tetapi dengan yayasannya,” tegasnya.

Fajar juga menepis kalau lembaganya tidak memperkenankan sarpras yang diberikan kepada kelompok wirausaha muda untuk dibawa pulang. Menurut dia, masih banyak kelompok yang belum bisa mengoperasikan alat yang sudah diberikan lembaganya. ”Kalau sudah bisa digunakan, silakan dibawa pulang,” imbuhnya.

Dia mengakui, pihaknya mengajukan anggaran Rp 4 miliar pada 2020 untuk program wirausaha muda. Fajar berharap, pengajuan itu mendapat restu dari tim anggaran (timgar) pemerintah dan badan anggaran (banggar) DPRD. ”Kami ajukan Rp 4 miliar untuk tahun depan,” pungkasnya. (jup)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia