Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Berita Kota

Fakta Transaksi Keuangan Masyarakat

Tolak Koin Hanya Karena Tak Tahu

30 Oktober 2019, 07: 59: 42 WIB | editor : Abdul Basri

ALAT TUKAR: Seorang perempuan menunjukkan uang koin yang dianggap sudah tidak laku kemarin.

ALAT TUKAR: Seorang perempuan menunjukkan uang koin yang dianggap sudah tidak laku kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Hari Keuangan harus menjadi momentum perbankan untuk mendidik masyarakat. Tidak sedikit warga yang menolak beberapa pecahan uang koin. Padahal, uang tersebut belum ditarik oleh Bank Indonesia (BI).

ADELIYAH senang bukan kepalang ketika celengannya dibuka oleh sang ayah. Sebab, hasilnya menabung beberapa bulan terlihat banyak. Celengan berbentuk ayam jago itu berisi uang logam pecahan Rp 100, Rp 200, dan Rp 500. Juga ada beberapa lembar uang kertas pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, dan Rp 10.000.

Kegembiraan anak TK itu tidak berlangsung lama. Sebab, beberapa uang tabungannya justru ditolak oleh pemilik toko tetangga. Katanya, uang itu sudah tidak berlaku. Dia pun segera memberitahukan kepada ayahnya untuk minta diganti.

”Uang koin yang ditolak itu pecahan Rp 500 warna emas, Rp 100, Rp 200. Padahal uang itu masih laku,” kata Hakim, ayah Adeliyah.

Karena itu, tiap ada tiga jenis uang pecahan itu dia ambil. Lalu, dibawa ke Bangkalan. Sebab, di daerah tempat dia bekerja itu tetap berlaku seperti biasa. ”Saya pernah bertanya langsung kepada pemilik toko itu karena penasaran. Ternyata benar, dia menolak,” kata warga Desa Cangkeng, Kecamatan Lenteng, Sumenep, itu kemarin (29/10).

Fenomena penolakan beberapa uang logam itu memang meresahkan masyarakat Sumenep. Beberapa jenis mata uang ditolak sebagian pedagang. Tidak hanya alat tukar jenis koin. Tetapi, ada pula mata uang kertas yang tidak diterima oleh pedagang.

Puji Astuti, salah satu pedagang yang memilih-milih dalam urusan alat tukar. Uang yang selalu ditolak pedagang kaki lima di Jalan Veteran Sumenep itu pecahan Rp 100, Rp 500, dan Rp 10 ribu. ”Kalau pecahan Rp 100 dan Rp 500 yang warna emas. Kalau yang kertas uang Rp 10 ribu warna merah cerah,” ucapya.

Perempuan 32 tahun itu tidak menerima uang pecahan Rp 500 logam warna emas dan Rp 10 ribu kertas warna merah cerah karena sudah tidak laku. Jika dipaksakan, dirinya akan merugi karena tidak bisa dijadikan alat transaksi untuk selanjutnya. ”Makanya ditolak,” ungkapnya.

Warga Desa Pamolokan sudah lebih setahun tidak lagi menerima beberapa jenis uang itu. Belakangan ini memang sudah jarang pembayaran konsumen menggunakan uang yang menurutnya tidak berlaku itu. ”Kalau sekarang jarang, bahkan hampir tidak ada. Kalau ada pasti saya tolak,” tutur penjual nasi tersebut.

Sikap Puji ternyata tidak berdasar. Dia mengaku tidak tahu pasti apakah benar uang yang sering ditolaknya itu tidak berlaku. Dia menolak hanya karena kata orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Terutama penolakan uang logam warna emas. ”Tahu dari orang-orang, katanya uang itu sudah tidak berlaku,” ucap perempuan berjilbab tersebut.

Uang Achmad Zaini, 26, pernah ditolak sehabis makan di lapak Puji beberapa waktu lalu. Saat itu dia bayar menggunakan uang pecahan Rp 10 ribu. Zaini heran mengapa uang yang disodorkan ditolak. Padahal sepengetahuannya, uang tersebut belum ditarik dari peredaran. ”Harusnya kalau memang tidak berlaku, kan ditarik dulu,” ungkap warga Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kota Sumenep, itu.

Dia berharap ada edukasi dari lembaga berwenang terkait peredaran uang. Dengan begitu, konsumen tidak dirugikan. ”Perlu ada pemahaman mana yang masih berlaku, mana yang tidak, agar persepsi masyarakat tidak salah dan tidak merugikan masyarakat,” harapnya.

Penolakan uang logam diakui pihak perbankan.Padahal sampai saat ini belum ada perintah dari BI untuk penarikan uang tersebut.

”Masyarakat kok moro-moro tidak mau ketika transaksi menggunakan uang logam Rp 500 warna emas dan Rp 1000 yang di tengah-tengahnya ada warna emas,” kata Pengganti Sementara (Pgs) Pemimpin Bidang Layanan Nasabah BNI Pamekasan Andika Rossandi.

Andika menambahkan, seharusnya masyarakat tidak menolak uang tersebut ketika bertransaksi. Selama belum ada perintah penarikan dari BI, uang tersebut masih sah dijadikan alat tukar. ”Kalau BNI, selama tidak ada perintah penarikan, maka tidak akan menarik uang tersebut. Kalau uang itu masuk ke perbankan tetap akan diterima,” terangnya.

Hanya untuk menukar uang recehan ke BNI ada ketentuan. Khusus uang logam tidak bisa diecer sedikit demi sedikit. Harus berbentuk satu kantong plastik dengan jumlah nominal yang telah ditentukan ”Kalau uang pecahan Rp 500 minimal dalam satu kantong plastik senilai Rp 250 ribu,” terangnya.

Terkait hal ini pihaknya mengaku sudah memberikan sosialisasi kepada nasabah. Uang logam yang beredar di masyarakat masih tetap berlaku. Namun, diakui, pihak bank masih belum menyosialisasikan ke pedagang di pasaran. ”Masih diterima sebagai alat pertukaran yang sah,” tegas Andika.

Penelusuran JPRM, BI hanya mencabut dan penarikan beberapa uang kertas. Yakni pecahan Rp 10.000 sampai pecahan Rp 100.000 tahun emisi (TE) 1998 dan 1999 secara bertahap. Kebijakan itu melalui Peraturan Bank Indonesia 10/33/PBI/2008. Jangka waktu dan tempat penukaran terhadap uang kertas yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran tersebut terhitung sejak 31 Desember 2013 hingga 30 Desember 2018.

Pecahan uang kertas rupiah yang dicabut dan ditarik BI Rp 10.000 TE 1998 (gambar muka: Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien). Kemudian pecahan Rp 20.000 TE 1998 (gambar muka: Pahlawan Nasional Ki Hajar Dewantara). Kemudian, pecahan Rp 50.000 TE 1999 (gambar muka: Pahlawan Nasional WR Soepratman), dan pecahan Rp 100.000 TE 1999 (gambar muka: Pahlawan Proklamator Dr. Ir. Soekarno dan Dr. H. Mohammad Hatta, berbahan polimer).

Hal tersebut dilakukan dengan beberapa pertimbangan. Antara lain, masa edar uang, adanya uang emisi baru dengan perkembangan teknologi unsur pengaman (security features) pada uang kertas. (jup)

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia