Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Menuju Manusia Ontong-Pojur-Bajjra

Oleh Achdiar Redy Setiawan*

27 Oktober 2019, 19: 34: 52 WIB | editor : Abdul Basri

Dari kiri, Achdiar Redy, Hidrochin Sabarudin, KH Muzammil, dan Lukman Hakim AG. jadi pemantik kajian Masyarakat Maiyahan Bangkalan Paddhang Ate Edisi #1 Rabu malam (16/10).

Dari kiri, Achdiar Redy, Hidrochin Sabarudin, KH Muzammil, dan Lukman Hakim AG. jadi pemantik kajian Masyarakat Maiyahan Bangkalan Paddhang Ate Edisi #1 Rabu malam (16/10). (DOK PADDHANG ATE)

Share this      

ONTONG alias untung adalah terma yang sering dilekatkan pada konsep material semata. Manusia modern dihadapkan pada situasi yang menekankan untuk selalu mencari untung terus-menerus. Pada aras kapitalisme yang menghegemoni setiap sendi kehidupan, terma ”untung” adalah bentuk pencarian hasil lebih sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Keserakahan dan ketamakan adalah niscaya.

Namun pertanyaannya, apakah demikian agama mengajarkan itu? Apakah nilai-nilai budaya yang adiluhung, terutama Madura, juga mendidik pola pikir sejenis itu? Bagaimana sains memandang konsep ”ontong”? Rentetan pertanyaan tentang apa dan bagaimana hidup (ber)untung itu? Siapa manusia yang (ber)untung itu? adalah bahan kajian Masyarakat Maiyahan Bangkalan Paddhang Ate Edisi #1.

Acara peng(k)ajian dengan konsep duduk bersama mencari pintu-pintu jawaban persoalan kehidupan ini berlangsung pada Rabu malam (16/10) di Masjid Khayangan Residence, Bangkalan. Hadir sebagai pemantik diskusi KH D. Zawawi Imron (budayawan asal Sumenep), KH Muzammil (ulama asal Arosbaya yang mengasuh ponpes di Bantul), Hidrochin Sabarudin alias Abah Doing (sejarawan Bangkalan), Lukman Hakim AG. (Pemred Jawa Pos Radar Madura), dan Achdiar Redy (akademisi UTM).

Diawali dengan khotmil Quran dan pembacaan salawat bersama. Sekitar 100 jamaah hadir malam itu. Seusai diskusi awal, para peserta menyampaikan pemahamannya terkait ontong. Kiai D. Zawawi Imron didapuk membuka pemaparan awal kajian. Beliau membuka wawasan bahwa konsep ontong segaris dengan lema pojur dan bajjra. Tak ada formulasi dan rumusan yang pasti cara menuju hidup beruntung. ”Oreng penter badha sakolana, tape mon oreng pojur tadha sakola’anna,” tegas beliau menyitir nilai budaya Madura.

Konsep keber(untung)an adalah akumulasi dari ikhtiar dan doa. Gerak horizontal (hablun minannas) setarikan napas dengan laku vertikal (hablun minallah). Manusia se pojur memiliki laku yang ngadek, sodek, parjuga menuju Allah. Pikir, gerak, dan hatinya selalu tersambung dengan Tuhan di setiap gerak kemanusiaannya.

Manusia yang beruntung pada akhirnya melahirkan kabunga’an, kebahagiaan yang terus-menerus mekar dalam hati dan pikir setiap saat. Kebahagiaan (beda dengan kesenangan) adalah proses akumulatif dari pikiran yang sehat (akkal se sokla) serta hati yang jernih dan jembar yang melahirkan laku nan senantiasa tersambung dengan Allah.

Lukman Hakim AG mencoba menarik makna dari salah satu unsur bahasa Madura, yaitu kerata basa. Ontong diartikan e attas eso’on, e baba etontong (di atas diusung, di bawah digandeng). Hal ini bermakna bahwa manusia (Madura) menyunggi keimanan pada Tuhan sebagai dasar perilakunya. Pada saat yang sama, hubungan dengan sesama haruslah saling bergandeng tangan. Manusia yang beruntung memiliki keseimbangan antara jalur ketuhanan, juga mekanisme kemanusiaan, dan alam sekitar.

Pada dimensi horizontal, kemampuan menghargai manusia lain juga termasuk ajaran nilai kemaduraan. Konsep sanggit misalnya, adalah sebentuk penilaian karena berbedanya pengucapan atau pelafalan orang lain dengan dirinya. Oreng temor (Madura bagian timur) ketika (ber)bahasa dapat dibedakan dengan mudah (ber)bahasanya oreng bara’ (bagian barat Madura). Namun, tidak pernah terdengar antar manusia Madura saling menyalahkan cara dan ekspresi bahasa Madura yang berbeda-beda itu.

Pada giliran berikutnya, Abah Doing mendedahkan bahwa tak ada konsep rugi (rogi) pada diri orang Madura. Manusia Madura selalu melihat adanya sisi kebaikan pada sebuah aspek ketidakbaikan. Tatkala tertimpa celaka jarinya terlindas sesuatu, orang Madura akan mengatakan, ”untung hanya jari, bukan lengan”. Hal ini dapat dimaknai bahwa manusia Madura senantiasa bersyukur atas segala yang terberi oleh-Nya. Tak ada kamus mengeluh dan meratap. Yang mereka tahu hanyalah harus bergerak dan berusaha secara optimal, selebihnya pasrahkan pada Allah.

Achdiar Redy lantas menambahkan pengayaan diskursus dari ilmu ekonomi. Dalam kacamata ekonomi konvensional, untung alias laba ditempatkan sebagai unsur yang sebatas materi, angka-angka yang dapat dihitung dengan satuan moneter. Laba adalah agregat dari masuknya pendapatan setinggi-tingginya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya. Mazhab semacam ini akan melahirkan homo economicus, manusia yang selalu mengejar laba bernuansa materi. Kerakusan adalah sebuah prinsip yang melandasi keniscayaan tindakan ekonomi pada aras berpikir ini.

Ketika krisis ekonomi dan sosial kemudian melanda berbagai belahan bumi, lahirlah pertanyaan besar, apakah ekonomi hanya mengejar angka-angka laba? Apakah materi (baca: uang) bisa membeli kebahagiaan? Di mana letak keberkahan?

Maka mau tidak mau, ilmu ekonomi yang semacam itu perlu disucikan. Sekularisme ilmu ekonomi (juga ilmu eksakta dan sosial yang lain) perlu dihentikan. Ilmuwan perlu menoleh pada akar agama dan budaya untuk memberikan ruang bahwa segala hal ikhwal hidup, termasuk keberuntungan, tidak serta-merta hanya urusan material duniawi serta produk akal an sich yang meniadakan aspek rasa dan spiritual.

Sebagai pemungkas pemantik diskusi, Kiai Muzammil menggarisbawahi tentang konsep keberuntungan dalam Islam yang lekat dengan kata ”muflihun” (dilawankan ”khosirun”, merugi). Mengambil saripati Alquran dan uswah Rasulullah, Kiai Muzammil mengingatkan bahwa untung itu tidak semata aspek materi ekonomi nan duniawi. Kita memiliki dimensi perjalanan hingga alam akhirat. Manusia yang ahsani taqwim perlu terus-menerus menegakkan hati dan pikirannya dalam menjalankan hidup hanya semat-mata karena Allah. Istiqomah (mustaqim) menjalankan laku sebagai abdullah dan khalifatullah fil ardh adalah jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan sejati.

Beberapa jamaah kemudian menambahkan beberapa perspektif lain yang memperkaya diskusi. Hanifudin Syukri, misalnya, mengatakan bahwa untuk menjadi (ber)untung tidak boleh keluar dari sunnatullah. Manusia, termasuk ilmuwan hanya bisa memungut ciptaan-Nya dan merumuskannya menjadi teori ilmu tertentu.

Dosen FT-UTM ini kemudian menyitir hukum fisika tentang energi. Setiap benda memiliki energi. Energi hanya bisa diubah dan digerakkan, namun tidak bisa diciptakan. Untung adalah akumulasi antara gerak energi baik secara fisik, mental maupun spiritual. Ia datang pada setiap manusia yang bersiap untuk menjemput kesempatan-Nya.

Hal yang sama diucapkan oleh Andy Moe. Manusia, untuk menjadi (ber)untung perlu melibatkan Tuhan dalam setiap urusannya. Seorang penyair pun hanyalah bisa memungut kata demi kata, tak akan mampu mencipta kata, demikian sastrawan muda Bangkalan memungkasi.

Akhirnya, diskusi melingkar ini menyemaikan perspektif beragam. Mendekati ontong dengan pelbagai sudut pandang semacam ini laksana memberi petunjuk pintu-pintu yang bisa dimasuki. Masing-masing diri akan menemukan jalannya sendiri menjemput keberuntungannya sendiri. Apa pun bentuknya, materi dan nonmateri, keberuntungan senantiasa akan melahirkan kebahagiaan hakiki, fid dunya wal akhirat. 

*)Manusia pembelajar di UTM, jamaah aktif Maiyah.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia