Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Menggelorakan Wisata Syariah

Oleh Imam S. Arizal

22 Oktober 2019, 14: 14: 45 WIB | editor : Abdul Basri

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Share this      

SALAH satu faktor yang sering dianggap menjadi batu sandungan pengembangan pariwisata di Madura adalah kekhawatiran kelompok tertentu akan semakin merosotnya moral generasi muda. Kira-kira mereka beranggapan, semakin banyak pusat wisata yang dibangun, semakin tinggi pula peluang kemaksiatan. Oleh mereka ini pariwisata seakan selalu diidentikkan dengan hal-hal negatif, mesum, atau bertentangan dengan syariah.

Sepintas pandangan tersebut tidak keliru. Sebab, memang tidak sedikit kasus adanya perbuatan mesum terjadi di tempat-tempat wisata. Tetapi, generalisasi bahwa wisata identik dengan pelanggaran terhadap norma-norma agama juga terlalu gegabah, tidak bijaksana, dan kurang objektif.

Tempat wisata sebenarnya sama dengan tempat-tempat lainnya. Seperti pasar, sekolah, masjid, dan lainnya. Bahwa, ada pengunjung atau wisatawan yang berbuat melanggar aturan agama, itu merupakan pengecualian. Sama seperti di pasar ada copet, di masjid ada maling sandal, di sekolah ada perbuatan cabul, dan semacamnya.

Ada ribuan bahkan jutaan orang yang berkunjung ke objek wisata di Madura setiap tahunnya. Dari jutaan wisatawan itu, mungkin ada puluhan atau katakanlah ratusan orang yang berbuat melanggar norma agama di tempat wisata. Dengan demikian, bisa disimpulkan lebih banyak yang tidak melanggar daripada yang cabul.

Lantas pertanyaannya, mengapa sebagian orang justru takut dengan rencana pengembangan pariwisata di Madura? Tentu karena informasi yang mereka terima hanya soal perbuatan mesum yang terjadi di area wisata. Aspek-aspek lainnya, terutama ekonomi, mungkin kurang terjamah.

Terlepas bahwa pariwisata berdampak terhadap terjadinya alih fungsi lahan atau penguasaan tanah oleh kelompok tertentu, itu soal lain. Tulisan ini tidak sedang mengkaji masalah agraria tersebut. Tetapi, semata-mata sebagai respons atas fobia yang berlebihan terhadap wacana pengembangan pariwisata.

Para pemangku kebijakan tentu ingin membangun pariwisata semaksimal mungkin. Apalagi empat kepala daerah di Madura, yang diprakarsai oleh Bakorwil Pamekasan, telah bersepakat untuk melakukan pengembangan pariwisata. Di mana muaranya nanti yakni Visit Madura.

Di saat yang bersamaan, para penjaga moral juga tidak ingin generasi muda semakin jauh dari agama. Mereka punya kepentingan untuk menciptakan generasi yang berwawasan keislaman, berakhlakul karimah, dan menjauhi kemaksiatan. Problemnya adalah, manakala kelompok ini terus-menerus menentang pembangunan pariwisata dengan alasan moralitas itu secara berlebihan.

Jalan Tengah

Di sinilah kemudian wacana wisata syariah menjadi jalan tengah. Dengan mewujudkan wisata syariah, maka dua kepentingan bisa terpenuhi. Pemerintah daerah bisa mengembangkan pariwisata, pada saat yang sama, penjaga moral tidak khawatir generasi muda melakukan asusila di tempat wisata.

Pariwisata syariah merupakan istilah yang relatif baru. Syariah menjadi bungkus pembeda dari wisata konvensional. Konsep wisata ini kerap juga disebut wisata halal, wisata islami, dan lainnya. Meski secara harfiah memiliki makna berbeda, setidaknya dalam aplikasinya menunjukkan kemiripan. Kita tidak perlu berdebat soal itu. Biarlah para akademisi di kampus yang memperdebatkannya serta mengupasnya secara mendalam dalam diktat-diktat.

Secara sederhana, wisata syariah biasa dimaknai sebagai wisata yang seluruh aspeknya tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Mulai dari makanan, minuman, permainan, transportasi, akomodasi, penginapan, kira-kira harus halalan thayyibah. Selain itu, tersedia sarana ibadah, serta pelaku dan penikmat pariwisata harus bisa memperhatikan norma-norma agama dan adat istiadat di area pariwisata tersebut.

Objek wisata syariah tidak harus situs-situs keagamaan seperti makam para wali atau tempat yang identik dengan budaya islami lainnya. Wujudnya bisa wisata pantai, gua, pegunungan, taman bermain, dan lainnya. Yang terpenting ada norma yang perlu dipatuhi. Misalnya, wisatawan dilarang pakai bikini saat mandi di pantai, dilarang berbuat mesum, dan sejenisnya.

Ada beberapa faktor mengapa pariwisata syariah penting digelorakan di Madura. Pertama, penduduk di Pulau Garam ini mayoritas beragama Islam. Masih banyak pula yang menganggap wisata selalu identik dengan kemaksiatan. Dengan demikian, pengembangan wisata syariah menjadi jalan kompromi yang cocok dengan mayoritas warga Madura.

Kedua, sejak lama Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) merencanakan konsep wisata syariah ini di Madura. Termasuk Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga berkomitmen membangun Taman Sains Islam (Islamic Science Park) di kawasan kaki Jembatan Suramadu. Tentu rencana tersebut perlu disambut oleh para kepala daerah di Madura.

Ketiga, Madura memiliki objek wisata religi yang melimpah. Baik di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep tersimpan wisata-wisata yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Islam. Kendati konsep wisata syariah dengan wisata religi cukup berbeda, setidaknya situs-situs religi bisa menopang konsep wisata syariah.

Keempat, pangsa pasar yang cukup menjanjikan. Data Global Muslim Travel Index (GMTI) menunjukkan bahwa secara global pasar wisata halal tumbuh sangat cepat. Pada 2015, terdapat 117 juta wisatawan muslim yang diperkirakan meningkat menjadi 168 juta wisatawan muslim pada 2020 mendatang. Pada 2020, pasar wisata muslim diperkirakan mencapai 220 miliar dolar AS dan diperkirakan meningkat 36 persen menjadi 300 dolar AS selama enam tahun berikutnya.

Kelima, menjadi tren baru pariwisata global. Banyak negara Islam seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Maroko, dan Malaysia yang terus menggelorakan wisata halal. Termasuk negara-negara dengan muslim minoritas seperti Thailand, Singapura, Jepang, hingga Tiongkok juga terus menggalakkan wisata halal.

Di Indonesia, ada tiga wilayah yang dijadikan role model wisata syariah atau wisata halal oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Yakni, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Barat, dan Aceh. Berkat semangat pengembangan wisata halal di daerah tersebut, tahun ini Indonesia dinobatkan sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia standar GMTI.

Bila Madura mampu mengembangkan wisata syariah, tentu akan menjadi daya dongkrak pariwisata tingkat nasional. Kelak Madura tidak hanya dikenal karena carok, karapan sapi, tembakau, atau garam saja. Tetapi, juga dikenal karena wisata syariahnya yang mendunia.

Pada saat yang sama, keinginan empat kabupaten untuk mewujudkan Visit Madura bisa terealisasi dengan lebih cepat. Termasuk, perputaran ekonomi masyarakat sekitar dan pendapatan asli daerah (PAD) akan semakin meningkat. Inilah mimpi yang semoga suatu saat terealisasi. Wallahu a’lam.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia