Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Telepon Gelap Catut Kejaksaan

Sasar Kepala Desa, Minta Sejumlah Uang

21 Oktober 2019, 01: 30: 59 WIB | editor : Abdul Basri

SANTAI: Kades Bajang Mokri (kiri) bersama Kajari Pamekasan Tito Prasetyo beberapa hari lalu.

SANTAI: Kades Bajang Mokri (kiri) bersama Kajari Pamekasan Tito Prasetyo beberapa hari lalu. (MOKRI FOR RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Ada saja cara yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab untuk mencari korban. Modusnya, menelepon calon korban dengan mengatasnamakan instansi tertentu. Baru-baru ini yang menjadi incaran adalah kepala desa (Kades).

Mereka sering ditelepon oleh orang yang mengaku dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan. Seorang yang menjadi sasaran penelepon gelap itu adalah Kepala Desa (Kades) Bajang, Kecamatan Pakong, Mokri.

”Beberapa hari lalu saya menerima telepon dari nomor baru yang mengatasnamakan kepala Kejaksaan Negeri Pamekasan. Barusan saya ditelepon lagi dengan modus yang sama dan puluhan Kades juga mendapatkan telepon serupa,” ungkap Mokri kemarin (20/10).

Mokri mengungkapkan, penelepon bernomor 082337859082 meminta sumbangan dengan alasan ada acara untuk akomodasi tamu-tamu penting dari Jakarta. Seperti BPK RI, KPK, Kejati Jatim, dan instansi lain. Tidak tanggung-tanggung, penelepon meminta sumbangan hingga puluhan juta rupiah.

”Katanya butuh Rp 30 juta, tapi penelepon tidak memaksa meski tidak menyumbang dengan jumlah sebanyak itu. Uang itu disuruh transfer ke istrinya,” terangnya.

Ulah penelepon gelap itu tidak berhasil. Mokri paham jika itu hanya modus penipuan. Karena itu, dia mengajak bertemu penelepon dengan pura-pura untuk menyerahkan uang yang diminta. Setelah ditunggu-tunggu, yang besangkutan tidak datang.

”Saya ajak ketemuan di rumah makan. Kalau saya ketemu dengan penelepon, memang akan saya amankan,” terangnya.

Persoalan yang meresahkan tersebut sudah dilaporkan ke Kejari Pamekasan. Berdasarkan keterangan kejaksaan, telepon tersebut bukanlah dari instansi atau orang dari kejaksaan. ”Itu benar-benar penipuan,” kata mantan wartawan tersebut.

Kasi Intel Kejari Pamekasan Sutriyono membenarkan jika banyak kepala desa yang ditelepon orang tidak bertanggung jawab. Ironisnya, penelepon tersebut mengatasnamakan korps adhyaksa. Modusnya, mereka meminta untuk ditransfer uang dengan alasan akomodasi. 

”Sekitar seminggu yang lalu saya juga mendapatkan informasi kepala Desa Kadur, Pelalang, Tanjung, Pademawu, dan dari Kades Bajang,” terangnya.

Karena itu, dia mewanti-wanti kepada seluruh pejabat atau Kades agar tidak percaya dengan modus tersebut. Sebab, pihaknya tidak mungkin meminta apa pun kepada pejabat atau Kades dengan alasan apa pun. ”Jika ada telepon yang mengatasnamakan kejaksaan, silakan konfirmasi ke kami. Saya berharap masyarakat tidak percaya itu,” tandasnya.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia