Selasa, 10 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Sadar Kegunaan, Warga Sumenep Ajak Peserta JKN-KIS Tertib Bayar Iuran

18 Oktober 2019, 17: 25: 32 WIB | editor : Haryanto

BERMANFAAT: Efendi saat memperlihatkan KIS.

BERMANFAAT: Efendi saat memperlihatkan KIS. (Misbahul Ulum/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN - Sampai saat ini, masih banyak warga yang tidak patuh membayar iuran Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Padahal, itu berguna untuk dirinya sendiri kelak.

Erfandi, warga Desa Kolor, Kecamatan/Kabupaten Sumenep mengajak kerabat, tetangga dan masyarakat tertib membayar iuran JKS-KIS.

Pria 42 tahun itu menuturkan, dirinya pernah mendapat keluhan dari tetangganya. Sebab, harus membayar iuran bulanan pasca menjalani pelayanan medis di salah satu rumah sakit.

"Saya bilang, sampeyan tempo hari di rumah sakit habis berapa biayanya andai tidak pakai BPJS? (JKN-KIS, Red). Ternyata, habisnya sekitar Rp 20 juta," katanya.

Lelaki yang akrab dipanggil Epang itu lalu membandingkan, iuran sebesar Rp 25.500 per bulan yang telah dibayarkan peserta JKN-KIS dengan biaya medis sebesar Rp 20 Juta.

"Saya ajak berhitung. Agar dapat Rp 20 juta dengan membayar 25.500 itu berapa lama? Gak akan cukup kalau dari iuran kita sendiri. Setelah dijelaskan, akhirnya berjanji mau rutin membayar iuran," ujarnya.

Erfandi menambahkan, peserta enggan membayar iuran JKN-KIS karena merasa terbebani. "Katanya mahal. Ternyata dia merokok. Saya sarankan tidak merokok. Uangnya disisihkan membayar iuran," usulnya.

Dijelaskan, penyakit yang menyerang seseorwng datangnya mendadak alias tiba-tiba. "Kalau punya BPJS kan tidak perlu takut berobat," imbuh ayah satu anak tersebut.

Erfandi berharap BPJS Kesehatan semakin gencar melakukan sosialisasi kepada peserta dan masyarakat tentang pentingnya membayar iuran secara rutin.

"Kadang, orang itu tidak mau membayar iuran bukan karena tidak mampu. Tapi, karena merasa rugi harus membayar iuran setiap bulan," terangnya.

Dia menyakini sebagian warga belum paham pentingnya rutin membayar iuran. "Padahal kalau kita hitung, iuran yang dibayar itu bisa dibilang tabungan untuk kita juga," ingatnya.

Erfandi meningatkan, nominal iuran tidak seberapa dengan manfaat yang diperoleh. "Masyarakat seharusnya paham dan rutin membayar iuran agar program ini tetap eksis," pungkasnya. (Misbahul Ulum)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia