Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Sejarawan, Budayawan, dan Fotografer Edhi Setiawan di Mata Keluarga

Dahulukan Kepentingan Orang Banyak

18 Oktober 2019, 08: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

BERDUKA: Budayawan Ibnu Hajar (tengah) memberikan penghormatan terakhir kepada Edhi Setiawan di Yayasan Karya Mulia Peluk, Pamolokan, Sumenep, didampingi istri almarhum, Trisna Dewi, Rabu (16/10).

BERDUKA: Budayawan Ibnu Hajar (tengah) memberikan penghormatan terakhir kepada Edhi Setiawan di Yayasan Karya Mulia Peluk, Pamolokan, Sumenep, didampingi istri almarhum, Trisna Dewi, Rabu (16/10). (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Duka mendalam sangat dirasakan keluarga Edhi Setiawan. Sejarawan, budayawan, dan fotografer itu mengembuskan napas terakhir Rabu (16/10). Sanak saudara, kerabat, seniman, wartawan, silih berganti melayat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Artist of FPSI (A.FPSI) bintang empat itu.

LAMPU di gedung Yayasan Karya Mulia Peluk, Pamolokan, Sumenep, Rabu (16/10), bersinar terang. Orang-orang berdatangan silih berganti ke gedung yang berada di sebelah timur Pasar Pamolokan itu. Kedatangan mereka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh berjasa Edhi Setiawan.

Edhi lahir di Sumenep, 13 Januari 1946. Meski keturunan Tionghoa, hidup Edhi didedikasikan kepada Madura. Kecintaannya kepada Madura dilakukan dengan berbagai cara. Seperti dengan fotografi, mempelajari sejarah, dan pelestarian seni dan budaya.

Berbagai penghargaan diraihnya hingga tingkat internasional. Semasa hidupnya dia dikenal dekat dengan siapa pun, terbuka, dan suka berbagi ilmu. Rumahnya di Jalan Panglima Sudirman selalu menjadi tempat belajar banyak kalangan, sehingga Edhi dikenal sebagai orang tua, guru, dan sahabat lintas generasi dan lintas profesi.

Edhi mengembuskan napas terakhir di usia 73 tahun. Dia meninggalkan seorang istri yang setia mendampingi hingga akhir hayat, Trisna Dewi. Selain itu, meninggalkan dua putri, Ike Setiawan dan Ira Setiawan. Duka kepergian sosok Edhi sangat dirasakan enam cucu lulusan fakultas hukum Universitas Brawijaya, Malang itu.

Enam cucu Edhi itu masing-masing bernama Randy Martin, Vanessa Audi, Cliff Reagan, Marcelino, Kayla Karenina, dan Clarisa Cecelia. ”Dapat berbagai penghargaan dan apresiasi atas karya dan usaha papa. Sosial banget, tidak pernah money oriented,” kenang Ike Setiawan kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Rabu malam (16/10).

Bagi Ike, sosok Edhi merupakan ayah yang luar biasa. Menginspirasi bagi keluarga. Di tengah rasa berduka, perempuan tiga anak ini menceritakan jika Edhi sempat dirawat selama empat hari di ruang ICU RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep sejak Sabtu (12/10).

Hingga akhir hayatnya, Edhi tetap tidak melepas rasa cinta pada Madura. Dia merasa memiliki Madura. Hampir semua usaha dan segala sesuatu yang dikerjakan, kata Ike, menyangkut orang banyak.

Penyabet juara pertama Piala Presiden 1992 dalam lomba foto pariwisata itu tiada henti mengajarkan nilai-nilai positif kepada anaknya. Terutama untuk selalu memberi dan selalu membela nama besar orang Madura. Papa –panggilan Ike pada almarhum– getol memperkenalkan seni dan tradisi Madura di tingkat nasional dan internasional dengan berbagai cara. Salah satunya melalui hobi fotografinya.

Semua yang dilakukan dicurahkan semata-mata untuk memperkenalkan pariwisata, adat istiadat, budaya, kesenian, dan segala hal tentang Madura. Bahkan, penyabet Upakarti dari Presiden Soeharto atas jasa pengabdian dan kepeloporan reportasenya terhadap budaya lokal Sumenep pada 29 Desember 1993 itu pernah membawa grup topeng dalang Sumenep pentas keliling di sejumlah belahan dunia.

Sebelum meninggal, Edhi menyampaikan harapannya terhadap para generasi muda agar selalu menjaga dan melestarikan segala sesuatu di Madura. Meski terbaring sakit, peraih medali emas salon foto jurnalistik 1993 itu tetap meluangkan waktu bagi tamu yang bertanya mengenai kebudayaan dan kesenian Madura. Padahal dokter menyarankan kepada pemilik Rumah Makan 17 Agustus itu agar fokus pada kondisi kesehatannya.

Tidak hanya itu, pada momen peringatan Hari Jadi Ke-750 Kabupaten Sumenep, Edhi masih memiliki keinginan besar. Peraih medali emas salon foto cetak warna dan grand prix lomba foto A.C.C.U, se-Asia Pasifik yang diselenggarakan UNESCO 1994 itu masih ingin terlibat langsung pada perayaan tahunan tersebut.

Keinginan itu bukan tanpa alasan. Sepenuh hidupnya didedikasikan kepada Madura. Bahkan, dia termasuk salah satu Tim Perumus Hari Jadi Sumenep. Juga menjadi salah satu tim penulis buku Sejarah Sumenep (Disparbud Sumenep, 2003).

Sejarawan, budayawan, dan fotografer itu mengembuskan napas terakhir Rabu (16/10) sekitar pukul 10.45. Jenazah Edhi disemayamkan di Yayasan Karya Mulia Peluk, Pamolokan, Sumenep. Jenazah akan dikebumikan di Pemakaman Keluarga Taposan, Sumenep, Minggu (20/10). ”Karena bagi papa, kepentingan orang banyak harus didahulukan. Itulah papa,” pungkas Ike.

(mr/luq/bad/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia