Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Penembak saat Pemilu Diganjar 8 Tahun

18 Oktober 2019, 06: 49: 16 WIB | editor : Abdul Basri

DIJAGA KETAT: Muarah bergegas keluar dari ruang sidang usai majelis hakim PN Sampang membacakan vonis kemarin.

DIJAGA KETAT: Muarah bergegas keluar dari ruang sidang usai majelis hakim PN Sampang membacakan vonis kemarin. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sampang menjatuhkan vonis delapan tahun kepada Muarah kemarin (17/10). Pria 44 tahun asal Desa/Kecamatan Banyuates itu dinyatakan melakukan tindak pidana penganiayaan serta memiliki senpi dan amunisi.

Sidang dipimpin Ketua PN Sampang Irianto Prijatna Utama. Sidang vonis dilaksanakan secara terbuka untuk umum. Namun, dijaga ketat aparat kepolisian. Empat orang dari keluarga terdakwa hadir dan mengikuti sidang hingga selesai.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Anton Zulkarnaen mengatakan, majelis hakim sebenarnya sepakat dengan tuntutannya. Bahwa, terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan serta memiliki senjata api (senpi) dan amunisi.

Namun, majelis hakim tidak bersepakat atas tuntutan hukuman pidana 15 tahun. Majelis hakim memutus perkara pidana kasus tersebut 8 tahun penjara. ”Lebih rendah tujuh tahun dari tuntutan kami,” katanya.

Terdakwa terbukti melanggar pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan serta pasal 1 ayat 1 UU Darurat 12/1951. Seluruh barang bukti atas pasal yang digunakan untuk menuntut terdakwa sudah diserahkan ke pengadilan.

”Kami akan pikir-pikir dulu. Kami diberi waktu tujuh hari ke depan oleh majelis hakim untuk memutuskan apakah menerima atau tidak,” imbuhnya.

Sementara itu, Irianto Prijatna Utama mengatakan, vonis 8 tahun itu mengacu terhadap fakta di persidangan dan alat bukti. ”Kami beri waktu untuk pikir-pikir selama tujuh hari terhitung mulai besok kepada jaksa penuntut umum dan penasihat hukum terdakwa,” singkatnya.

Muarah selaku terdakwa saat diwawancarai usai menjalani sidang vonis atas perbuatannya mengatakan akan pikir-pikir dulu. Namun, dia mengatakan, kemungkinan besar akan melakukan banding. ”Saya akan pikir dulu. Insyaallah banding,” ucapnya.

Perkara ini bermula saat pemilihan umum (pemilu) di Desa Tapaan, Kecamatan Banyuates, Sampang, diwarnai keributan Rabu (17/4). Sekitar pukul 10.15, seorang simpatisan salah satu calon DPRD Sampang tertembak. Lokasinya tak jauh dari tempat pemungutan suara (TPS) 08.

Insiden tersebut bermula saat Muarah bersama rekan-rekannya mengintimidasi dan mencoba merebut mandat saksi Moh. Farfar di sejumlah TPS Desa Tapaan. Kejadian itu lalu disampaikan kepada tim dan keluarga Farfar.

Mereka dikomando Moh. Wijdan, yang tak lain adalah keponakan Farfar, langsung mendatangi lokasi. Kedatangan Wijdan ke lokasi untuk mengklarifikasi terhadap tindakan Muarah. Sebab, berdasarkan laporan saksi, yang melakukan intimidasi dan mau merebut mandat saksi adalah Muarah.

Wijdan bertemu Muarah di tengah jalan. Muarah kemudian mengeluarkan senjata api (senpi) dan ditembakkan kepada Wijdan. Tapi, tembakannya meleset. Peluru malah mengenai pergelangan tangan kanan Mansur, simpatisan Farfar. Mansur merupakan warga Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia