Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Berita Kota
Bapak Rujukan Itu Berpulang

Fotografer Andal, Sejarawan dan Budayawan Madura

17 Oktober 2019, 04: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

HIDUP: Salah satu karya foto Edhi Setiawan berjudul Senam Rambut.

HIDUP: Salah satu karya foto Edhi Setiawan berjudul Senam Rambut. (JANUAR HERWANTO FOR RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Bicara topeng dalang tidak lengkap tanpa menyebut nama Edhi Setiawan. Pasalnya, pria keturunan Tionghoa itu yang membawa kesenian tradisi Madura itu pentas keliling dunia. Kini, sosok yang menjadi guru banyak kalangan itu telah berpulang sekitar pukul 10.45 kemarin (16/10).

Pria kelahiran Sumenep, 13 Januari 1946 itu dikenal sebagai sosok yang getol merawat seni budaya dan tradisi Madura. Budayawan yang erat dengan bacaan buku-buku sosial, budaya, dan sejarah itu mulai berkecimpung di dunia kesenian dan kebudayaan sejak 1974. Nama Edhi kemudian kerap menjadi jujukan dalam hal kesenian dan kebudayaan Madura. Meski keturunan Tionghoa, kecintaannya kepada sejarah, seni budaya, dan tradisi Madura tidak perlu dipertanyakan.

Jejak pengabdiannya pada tanah kelahiran dibuktikan dengan membawa keliling seni budaya topeng dalang Sumenep ke Eropa dan Jepang. Semua itu dilakukan sebagai wujud kecintaan kepada Madura.

BUKTI KARYA: Foto pariwisata jepretan Edhi Setiawan juara pertama Piala Presiden 1992. Modelnya Ike (ibunda bintang sinetron Randy Martin), anaknya sendiri.

BUKTI KARYA: Foto pariwisata jepretan Edhi Setiawan juara pertama Piala Presiden 1992. Modelnya Ike (ibunda bintang sinetron Randy Martin), anaknya sendiri. (JANUAR HERWANTO FOR RadarMadura.id)

Edhi menuntaskan studi strata 1 di fakultas hukum Universitas Brawijaya, Malang. Namun, dia memilih jalan seni dan budaya hingga akhir hayat. Tidak hanya menggandrungi seni budaya Madura, dia juga kerap menyabet penghargaan bergengsi di dunia fotografi. Terlebih jepretan bertema seni budaya lokal.

Edhi pernah meraih penghargaan juara pertama Piala Presiden Soeharto untuk lomba foto pariwisata 1992. Edhi juga tercatat pernah menerima penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto atas jasa pengabdian dan jasa kepeloporan terhadap budaya lokal Sumenep pada 29 Desember 1993.

Pada tahun yang sama ayah dua anak ini mendapat medali emas salon foto jurnalistik. Kemudian, medali emas salon foto cetak warna dan grand prix lomba foto A.C.C.U se-Asia Pasifik yang diselenggarakan UNESCO pada 1994. Tahun berikutnya, dia kembali meraih grand prize lomba slide se-ASEAN yang diselenggarakan Kodak Film.

Penghargaan lainnya pada 1999, Edhi meraih medali emas salon foto dan Juara II Fuji Award kategori seni budaya. Termasuk fotonya yang berjudul Exotic Bali Terrace Field membawa Edhi menjadi pemenang pertama lomba foto bertema Bali International Photo Competition (BIPC) 1999.

Fotografer Januar Herwanto menganggap Edhi sebagai bapak rujukan. Rujukan berkenaan kebudayaan dan fotografi. ”Makanya di dalam rumah beliau ada meja bundar yang menjadi inner circle para pegiat kebudayaan dan seni,” kata salah satu murid fotografi Edhi ini.

Dari diskusi di meja bundar itu, Edhi selalu memberi saran dan masukan yang bisa diterima semua pihak. Almarhum, kenang Januar, senang berbagi ilmu pada siapa pun yang mau belajar dan maju. Bahkan, sebelum ada gagasan Kongres Kebudayaan Madura, Edhi merupakan tokoh pertama yang memberikan semangat.

”Om Edhi memang pintar sebagai motivator dengan banyak pengalaman-pengalaman internasionalnya. Spiritnya saat membawa Topeng Dalang Sumenep keliling Eropa dan Jepang,” kenang Manajer Madura FC itu.

Januar masih ingat ajaran almarhum mengenai trik-trik membuat foto human interest yang menyentuh. Alhasil, foto dengan trik dan konsep-konsep yang diajarkan Edhi mampu membawa foto Januar dimuat di katalog buku Salon Foto Indonesia. ”Itu pengalaman pertama karya foto saya dicetak dalam katalog. Beliau sangat disiplin soal waktu dan dedikasi,” ucapnya.

”Saya pernah bilang ke Om Edhi, ’saya malu sama Sampean, saya yang asli Madura, tapi tak seserius dan gigih memperjuangkan kebudayaan dan potret Madura’,” sambung Januar.

Budayawan Syaf Anton Wr juga merasa kehilangan atas wafatnya Edhi Setiawan. Edhi pernah cerita, kata Anton, pada saat ia kuliah, mahasiswa asal Madura dibilang jarang. Edhi dari segelintir mahasiswa Madura yang ketika itu mengambil jurusan hukum.

Sebagai etnis Madura, Edhi kerap di-bully karena dianggap kampungan. Namun, dia tetap mempertahankan dan membanggakan orang Madura. Tidak pernah menyerah menggelorakan semangat Madura.

Dalam pergaulannya, kakek bintang sinetron Randy Martin itu semakin paham adanya persepsi yang salah terhadap orang Madura. Madura selalu diidentikkan dengan carok, kekerasan, kebodohan, kemiskinan, dan sejenisnya. Setamat kuliah bertekad membenahi dan mendalami tentang semua hal yang berkaitan dengan Madura. Keluar masuk dari dari kampung ke kampung di penjuru pelosok Madura. ”Semakin dalam kekagumannya kepada Madura semakin yakin bahwa budaya Madura adalah tumpuan hidupnya,” kata Anton.

Anton menuturkan, Edhi pernah mengeluh karena yang paling mengecewakan justru dari orang Madura sendiri yang merasa berhasil di luar Madura, khususnya kalangan berpendidikan. Edhi melihat tak sedikit kalangan terdidik asal Madura mengaburkan identitas kemaduraannya karena adanya penetrasi persepsi negatif itu. ”Mereka malu menjadi orang Madura. Kondisi ini makin mengukuhkan tekadnya untuk mencerahkan Madura,” katanya.

Edhi, jelas Anton, sungguh khawatir bila nanti nilai kemaduraan di Madura hilang. Kekhawatiran ini lantaran orang Madura yang peduli terhadap budayanya sangat sedikit. 

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia