Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Berita Kota

Dampak Gadget terhadap Kesehatan Mata Anak dan Cara Menanggulanginya

Dalam Jangka Panjang Bisa Merusak Retina

14 Oktober 2019, 04: 15: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TIDAK MAU DIGANGGU: Anak-anak fokus bermain gadget di ruangan Perpustakaan Sampang kemarin.

TIDAK MAU DIGANGGU: Anak-anak fokus bermain gadget di ruangan Perpustakaan Sampang kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

Sekarang ini, lepas dari gadget seperti tak mungkin. Demam gawai tak pandang usia. Bahkan, banyak anak yang kecanduan. Para orang tua juga harus bijak memanfaatkan teknologi ini.

PENGGUNAAN gawai dalam waktu terlalu lama sangat membahayakan kesehatan mata anak. Kontak mata dengan gawai, otomatis frekuensi berkedip berkurang.

Akibatnya, mata kering, terasa perih, dan nyeri. Kemudian, mata memerah dan terasa gatal. Bahkan, anak mual dan pusing. ”Kalau keseringan (menggunakan gadget) sangat mengganggu (kesehatan) mata,” kata dr Fazarrahmah, Sp.M. kemarin (13/10).

Dampak jangka panjang, retina mata anak bisa rusak akibat penggunaan gawai yang berlebihan. Kondisi tersebut mengakibatkan mata anak buram dan minus.

Orang tua harus membatasi penggunaan gawai pada anak. Maksimal dalam sehari hanya satu jam. Itu pun harus ada jeda. Yakni, tiap 20 menit harus istirahat. ”Boleh gadget, tapi dibatasi. Maksimal satu jam sehari,” jelas dokter spesialis mata itu.

Fazza menyampaikan, terapi yang bisa dilakukan untuk mencegah kerusakan mata di antaranya, melihat objek jarak jauh yang berwarna hijau. Frekuensi penggunaan gawai tidak boleh melebihi satu jam setiap hari.

Menurut Fazza, tidak ada asupan khusus untuk meningkatkan kesehatan mata. Masyarakat cukup mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A seperti biasa.

Dokter Spesialis Mata RSUD dr Mohammad Zyn Sampang Radyo Wiranto menambahkan, dalam proses penglihatan terdapat dua kategori. Yakni melihat dekat dan jauh.

Melihat dekat yaitu, jarak antara mata dengan objek sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Sementara melihat jauh berkisar 5 sampai 6 meter.

Pada saat melihat dekat, otot-otot mata sedang bekerja. Berbeda dengan melihat jauh, pada saat itu kondisi otot mata sedang istirahat. ”Kalau anak menggunakan gadget, otot mata sedang bekerja. Melihat dekat itu ibarat mobil dalam kondisi berjalan. Tapi kalau mata dalam kondisi terpejam atau melihat jarak jauh, kondisinya sedang istirahat,” jelasnya.

Usia anak merupakan masa pertumbuhan. Jika terlalu lama menggunakan gadget bisa berpengaruh pada penglihatan. Pada kondisi seperti itu rentan terjadi astenopia atau mata lelah. Jika tidak segera diantisipasi, hal itu bisa merusak saraf retina.

”Dampak penggunaan gadget yang berlebihan menyebabkan mata lelah. Selain itu, efek radiasi HP juga berpengaruh besar pada saraf mata. Kalau sudah terkena retina berbahaya. Ibarat lampu, kabel dop putus,” terangnya.

Untuk mendeteksi astenopia biasanya mata berair, merah, dan pusing karena kelelahan. Menurutnya, hal itu masih bisa diantisipasi dengan pengobatan. Di samping itu, asupan makanan yang kaya gizi juga penting untuk menunjang mata lelah.

Menurutnya, dampak negatif penggunaan gadget bisa diatur oleh orang tua. Radyo membeberkan ada tiga hal yang harus dihindari. Pertama, orang tua harus bisa mengatur penggunaan gadget. Kedua, dalam satu jam penglihatan, mata diistirahatkan selama 20 menit. Hal itu bisa dilakukan dengan melihat jarak jauh atau memejamkan mata.

Ketiga, jangan biarkan anak main gadget sambil tiduran. Pasalnya, hal itu akan mempercepat proses astenopia. ”Kalau sambil tiduran, jarak bacanya berubah-ubah, otomatis fokusnya akan berubah-ubah juga,” terangnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSUD dr Mohammad Zyn Sampang dr Fera Diastyarini menyampaikan, gadget bisa dimanfaatkan dengan baik pada perkembangan motorik halus anak. Di antaranya, kemampuan kognitif seperti mengingat, memproses informasi, kemampuan bahasa, reasoning.

Namun, jika terlalu berlebihan, hal itu bisa menjadi senjata makan tuan. Anak yang terlalu fokus pada gadget akan memakan waktu untuk berinteraksi dan berbicara dengan orang lain berkurang. Akibatnya, mereka akan mengalami gangguan bicara dan bahasa.

”Kemudahan teknologi juga bisa membantu anak, remaja, dan pemuda dalam proses belajar karena lebih mudah mendapatkan informasi. Misalnya video tutorial, buku-buku edukasi, presentasi pelajaran, dan lain lain. Tapi, orang tua juga perlu mewaspadai dampaknya,” sarannya. (bil)

(mr/onk/pen/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia