Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Program Asuransi Nelayan Dinilai Tidak Penting

13 Oktober 2019, 18: 33: 44 WIB | editor : Abdul Basri

PEJUANG LAUTAN: Sejumlah nelayan berada di tambat labuh Pelabuhan Desa/Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, kemarin.

PEJUANG LAUTAN: Sejumlah nelayan berada di tambat labuh Pelabuhan Desa/Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Program asuransi nelayan belum berjalan sesuai harapan. Sejak 2018 hingga Oktober 2019 baru 4.707 nelayan yang mendaftar. Padahal, jumlah nelayan di Kabupaten Sumenep mencapai 42.000 orang.

Kasi Perlindungan Nelayan Dinas Perikanan Sumenep Iwan Darmanzah tidak menampik hal itu. Menurut dia, belum separo nelayan di Sumenep mengikuti program. Tahun ini terdapat 976 nelayan yang mendaftar. Sementara pada 2018 ada 3.731 nelayan.

Iwan Darmanzah menjelaskan, asuransi dinilai bukan hal penting oleh nelayan. Saat pihaknya melakukan sosialisasi mengenai program tersebut, banyak nelayan tidak berpartisipasi. Mereka lebih memilih bekerja mencari ikan di laut.

Intansinya hanya sebagai fasilitator untuk menyampaikan kepada nelayan. Keputusan akhir tetap ada pada nelayan yang bersangkutan. Untuk tahun pertama program itu digratiskan. Baru tahun berikutnya ada biaya perpanjangan sebesar Rp 175 ribu per tahun.

Manfaat asuransi tersebut sangat besar. Ketika kecelakaan di laut mendapat tunjangan Rp 200 juta untuk yang meninggal dunia. Sementara yang dirawat di rumah sakit menyesuaikan dengan usia nelayan. Pada usia 45 tahun ke atas mendapat Rp 40 juta. Lalu, untuk usia 45 ke bawah mendapat Rp 160 juta.

Apabila nelayan merasa kesulitan mengurus bisa melalui penyuluh perikanan bantu (PPB) di lapangan dan pemerintah desa. ”Yang menentukan itu Jesindo, perusahaan asuransinya. Terkadang ada sebagian nelayan baru mengurus asuransi ketika ada kejadian kecelakaan laut,” jelasnya.

Sementara, Suyitno, 52, nelayan Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, menyampaikan, tidak mengetahui tentang asuransi tersebut. Dirinya sibuk bekerja di laut, tidak pernah mengikuti sosialisasi yang dilakukan pemerintah. ”Saya tidak tahu apa itu asuransi dan semacamnya,” ungkapnya. (c3)

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia