Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Puisi

Surat untuk Bapak Presiden

Oleh: MUHAMMAD JIBRIL*

12 Oktober 2019, 16: 04: 32 WIB | editor : Abdul Basri

Surat untuk Bapak Presiden

Share this      

Suara saya mungkin tak sampai di telinga para petinggi negara. Jadi saya tulis ini di koran dengan harap banyak yang baca.

Tiap pulang sekolah gawai saya selalu dipenuhi berita-berita tentang demo, menolak kebijakan- kebijakan baru. Untuk ukuran hati manusia siapa yang tak terenyuh melihat para aktivis mendapat perilaku menyimpang?

Tugas aparat yang katanya mengayomi malah jadi meluapkan emosi. Siapa yang tidak emosi melihat Negara ini?

Mereka turun karena tak terima

Mereka ingin diperhatikan pemimpin Negara

Mereka ingin menyuarakan ketersiksaan mereka

Siapa yang tidak marah?

Semua marah, kami, mereka, kalian.

Ibu pertiwi kami terjarah

Suara kami dijajah

Yang terhormat Bapak Presiden

Adakah engkau menyaksikan Negara ini sedang porak-poranda?

Adakah sepintas jalan untuk menemukan resolusi dari kompilkasi ini?

Adakah engkau terenyuh mendapati para mahasiswa, bahkan siswa, turun untuk memerdekakan diri?

Adakah yang lebih penting dari damai?

RUU KPK yang sekarang telah menjelma UU membuat kami kembali berduka, air mata untuk Bapak Habibie belum usai, namun revisi itu membuat kami lagi-lagi nelangsa.

Belum juga RKUHP, banyak kontra di atasnya, apa tidak sebaiknya diurungkan saja?

Adakah yang lebih penting dari damai?

Rakyat banyak dibuat kecewa dengan kebijakan yang katanya bijak, rakyat dirajam renjana oleh kebakaran di mana-mana

Karhutla butuh air!

Apakah air mata dari rakyat juga dibutuhkan?

Kebakaran ataukah kepercayaan rakyat yang harus padam?

Satu per satu masalah datang, ada wewenang darimu yang mampu menguranginya satu per satu pula, kami rakyat sedang berduka.

Wahai pemerintah

Suara siapa gerangan yang tengah kau dengar?

Sehingga bisa-bisanya suara rakyat sendiri tidak sampai

Kami melakukan aksi agar kau pandang

Setidaknya mata dapat menyaksikan jika telinga tak lagi mampu mendengar

Huft...

Keluh kami

Peluh kami

Mana satu yang sampai di sudut hatimu?

Katanya untuk mencapai sesuatu harus ada yang dikorbankan, apakah itu nyawa kami?

Agar penyelewengan dapat kembali hidup di negeri ini?

Bukan denda atau sel penjara yang kami takuti, namun demokrasi yang tak lagi mampu berdiri

Ketika keputusan dibuat semena-mena

Ketika hukuman dijatuhkan seenaknya

Letakkan yang di atas pada tanah bawah

Niscaya mereka paham bahwa tak ada yang baik-baik saja di sini

Bukankah manusia itu takkan mafhum jika belum mengalami?

Bukankah empati itu perlu?

Mengentaskan perasaan memang tak bagus

Tapi apakah itu artinya kita harus entaskan peri kemanusiaan?

Banyak adu argumen

Bahkan adu hantam

Sepertinya kurang mempan jika kau tak sesegera mungkin mengambil keputusan

Wahai Bapak Presiden yang terhormat

Saya Pelajar, masih SMA

Tiap malam terkenang akan jasa para pahlawan membentuk Indonesia damai

Sekarang Ibu Pertiwi sedikit demi sedikit harumnya luntur

Apa perubahan harus dilakukan ketika semuanya membusuk?

Dokter bilang mencegah lebih baik daripada mengobati.

Sebab sudah susah melepas apa yang telanjur terikat

Kita semua tahu itu

Kami, engkau, dokter.

Saya hidup untuk merdeka

Mati pun sama

Maka dari itu, saya menulis

Sebab suara saya tak sampai

Barangkali tulisan saya terlirik

Kami ingin merdeka sekali lagi di zaman reformasi ini

Kembalikan hak KPK

Urungkan RKUHP

Padamkan kebakaran

Biarkan kami duduk tenang di kursi belajar

Wahai Bapak Presiden yang terhormat

Semoga tetap sehat

Indonesia butuh diperhatikan

Sekian.

*)Siswa SMAN 3 Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia