Minggu, 15 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Puluhan Warga Sampang Masih Terpasung

Semua Puskesmas Memiliki Pasien ODGJ

11 Oktober 2019, 04: 20: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TATAPAN KOSONG: Rasud, petugas RPS Trunojoyo, Sampang, mencoba mengajak bicara Rara di kamarnya Rabu (9/10).

TATAPAN KOSONG: Rasud, petugas RPS Trunojoyo, Sampang, mencoba mengajak bicara Rara di kamarnya Rabu (9/10). (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Pemasungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Sampang masih tinggi. Saat ini ODGJ yang masih dibelengggu itu 52 orang. Pemkab Sampang dituntut lebih serius menangani mereka hingga kembali pulih.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sampang Hanian Maria Farouq menerangkan, angka kasus pasung fluktuatif. Bergantung pada kondisi kejiwaan ODGJ. Terkadang pasien yang dinyatakan bebas pasung belum sembuh total sehingga beberapa bulan kemudian dipasung lagi.

Dalam menangani masalah tersebut, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri. Sebab, hal itu perlu dukungan keluarga dan lingkungan. Jika kedua faktor tersebut tidak terpenuhi, kasus pasung sulit terentaskan.

”Yang dipasung itu biasanya gangguan kejiwaannya sudah kritis. Keluarga melakukan pemasungan karena khawatir mengganggu lingkungan sekitar,” katanya Rabu (9/10).

Tidak mudah menyembuhkan gangguan jiwa. Ada tiga faktor yang paling menunjang kesembuhan pasien. Namun, terkadang hal itu kurang diperhatikan oleh keluarga pasien.

Pertama, pasien diberi pengobatan intensif dengan obat-obatan. Kedua, keluarga pasien membantu memberikan sentuhan moral. Dan terakhir, lingkungan yang mendukung terhadap pemulihan kejiwaan pasien.

”Kalau misalnya sudah sembuh, jangan sampai ada yang mem-bully pasien. Sebab, itu bisa mengganggu kejiwaan pasien. Makanya, ini perlu pengawasan dari pihak keluarga dan lingkungan,” ujarnya.

Hani mengungkapkan, saat ini semua puskesmas memiliki pasien ODGJ. Penanganan pasien yang dipasung berbeda dengan yang dilepas. Pasien yang tidak dipasung bisa diobati di puskesmas terdekat. Tiap puskesmas sudah menerapkan posyandu jiwa khusus untuk mendampingi pasien ODGJ.

Di samping itu, dalam setahun dinkes melakukan monitoring ke beberapa desa yang terdapat pasien ODGJ. Terutama, pasien yang dipasung. Melalui monitoring tersebut, dinkes mengecek kondisi pasien. Hal itu dibantu oleh dokter spesialis jiwa RSUD Mohammad Zyn Sampang.

”Yang memberikan rekomendasi apakah pasien ODGJ itu perlu dipasung atau tidak bergantung rekomendasi dokter Mira. Begitu juga sebaliknya. Kalau kondisinya semakin parah bisa dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Menur,” ungkapnya.

RSUD Mohammad Zyn Sampang memiliki poli jiwa yang khusus menangani pasien ODGJ. Dalam penanganan kasus tersebut, RSUD menyiapkan dokter spesialis jiwa. Namun, pelayanannya hanya berbentuk pasien rawat jalan.

Direktur RSUD Mohammad Zyn Sampang Titin Hamidah menyampaikan, pihaknya belum memiliki fasilitas dan SDM memadai. Sementara RSUD melayani pasien ODGJ dengan rawat jalan. Jika ada pasien yang perlu rawat inap dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya.

”Kami mengobati pasien yang datang ke poli jiwa. Dokter kami stand by menangani pasien di rumah sakit,” tuturnya.

Banyaknya jumlah pasung di Sampang tidak menjadi perhatian serius. Buktinya, dinas sosial (dinsos) tidak memiliki anggaran khusus untuk membantu pasien ODJG. Dalam pelaksanaannya, instansi itu hanya mengandalkan bantuan pemerintah provinsi (pemprov).

Pihaknya menyalurkan bantuan kepada delapan pasien ODGJ yang dipasung. ”Hanya bantuan dari provinsi. Kalau dari kabupaten tidak ada,” terang Kasi Pelayanan dan Rehabilitasi Disabilitas Dinsos Sampang Hoirul Anwaruddin. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia