Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Obat Berbahaya Masih Beredar

Dewan Minta Pemerintah Segera Bertindak

11 Oktober 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Obat Berbahaya Masih Beredar

Share this      

PAMEKASAN – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta seluruh obat lambung yang mengandung ranitidin ditarik dari peredaran. Sebab, obat tersebut mengandung pemicu kanker.

Koran ini menelusuri keberadaan obat tersebut kemarin (10/10). Hasilnya, obat itu belum sepenuhnya ditarik dari peredaran. Sampel pertama diambil di salah satu apotek di Kecamatan Larangan. Apotek tersebut masih menjual obat lambung jenis ranitidin.

Penelusuran dilanjutkan ke apotek di Kecamatan Pademawu. Hasilnya sama. Obat berbahaya itu ada. Koran ini membeli ranitidin yang dijual di apotek itu. Harganya murah. Satu tablet berisi sepuluh butir hanya dijual Rp 3 ribu.

Petugas apotek menyampaikan bahwa yang dijual hanya jenis tablet. Sementara ranitidin berupa sirup dan jenis lain tidak ada stok. Petugas apotek beralasan masih menjual untuk menghabiskan stok.

”Untuk sirup sebelumnya ada, tapi sekarang sudah habis stoknya,” kata apoteker berhijab itu.

Apotek lain yang dijadikan sampel koran ini di Kecamatan Kota Pamekasan. Toko penjual obat-obatan itu juga masih menyediakan obat yang dinilai mengandung pemicu kanker. Masyarakat bisa bebas membeli obat itu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Farid Anwar mengakui belum melakukan pengawasan dan kroscek ke apotek. Sebab, dinas belum menerima surat resmi dari BPOM terkait instruksi penarikan itu. ”Kami tunggu surat resmi, baru kita lakukan pengawasan pada apotek,” katanya.

Anggota DPRD Pamekasan Moh. Ali mengatakan, instruksi penarikan obat yang diduga memicu kanker itu dikeluarkan BPOM sejak 4 Oktober lalu. Seharusnya obat berbahaya itu tidak lagi beredar.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan harus segera turun tangan. Semua apotek harus dikroscek. Obat terlarang itu harus segera dikembalikan kepada distributor. ”Jangan anggap sepele, obat berbahaya itu harus ditarik dari peredaran,” imbaunya.

Ali menyampaikan, keputusan BPOM menarik obat berbahaya itu melalui proses panjang. Kajian dan penelitian dilakukan. Dengan demikian, pemerintah harus mendukung keputusan penarikan itu.

Jika dibiarkan, khawatir berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Mengingat, ranitidin itu biasa dikonsumsi warga ketika mengalami penyakit lambung. ”Harus segera ditarik, jangan ditunda,” desaknya.

Ali berharap dinkes proaktif dalam persoalan tersebut. Obat-obatan menyangkut kesehatan warga. Jangan sampai karena sifat acuh pemerintah, masyarakat kecil menjadi korban.

(mr/onk/pen/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia