Minggu, 15 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

6 Desa Ajukan Tambahan Dropping Air Bersih

11 Oktober 2019, 00: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

MENGECIL: Seseorang warga berada di tepi sumber yang airnya kian menyusut di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, kemarin.

MENGECIL: Seseorang warga berada di tepi sumber yang airnya kian menyusut di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, kemarin. (JUNAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Kekeringan terus melanda beberapa daerah di Sumenep. Namun, bantuan dropping air bersih dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dihentikan sementara karena anggaran tahap pertama habis. Kini, ada enam desa yang kembali mengajukan penambahan penyaluran air bersih tahap dua.

 Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi menyampaikan, saat ini pihaknya sedang proses pengajuan kepada bupati untuk penambahan dropping air bersih. Pasalnya, sejumlah daerah kategori kering kritis kembali mengajukan penambahan. Di antaranya, Desa Montorna, Desa Prancak, Desa Badur, Desa Larangan Barma, Desa Langsar, dan Desa Kombang.

Menurutnya, musim kemarau tahun ini terjadi di luar perkiraan. Prediksi sebelumnya,  pertengahan September sudah memasuki musim penghujan. Sementara hingga pertengahan Oktober belum juga turun hujan.

Waktu musim kemarau yang panjang berdampak pada kekeringan di sejumlah daerah. Baik yang tergolong kering langka maupun kering kritis. Oleh karenanya, BPBD Sumenep harus merespons cepat bencana kekeringan yang terjadi.

Rahman berharap proses pengajuan bisa lebih cepat agar kekeringan segera ditangani. Pihaknya tidak menampik bahwa saat ini pendistribusian air masih dihentikan.

Namun, instansinya selalu memfasilitasi apabila ada relawan yang ingin membantu desa terdampak bencana kekeringan. ”Seperti kemarin, NU Sumenep kerja sama dengan BPBD menyalurkan bantuan air bersih di Desa Montorna dan Desa Prancak. Dua desa itu tergolong kering kritis,” terangnya.

Perlu diketahui, penanggulangan bencana kekeringan tahap pertama menghabiskan dana sekitar Rp 80 juta. Jumlah air yang diterima masyarakat sesuai jumlah kepala keluarga (KK) di desa tersebut. Jadi, antara desa satu dengan yang lain tidak sama, bergantung jumlah penduduknya.

Sebelumnya, BPBD Sumenep memetakan bencana kekeringan terjadi di 10 kecamatan. Ada 30 desa mengalami kekeringan.  Yakni,  11 desa kering kritis dan 19 desa kering langka. Desa yang menjadi prioritas adalah desa kering kritis.

Air diberikan secara gratis yang didistribusikan dengan mobil tangki. Setiap tangki berisi 6 ribu liter. Saat ini, BPBD hanya memiliki dua armada tangki. Untuk menjangkau luas wilayah Kabupaten Sumenep pihaknya bekerja sama dengan PDAM Sumenep. (c3)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia