Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

40.723 Nelayan Tak Dapat Kusuka

10 Oktober 2019, 00: 51: 32 WIB | editor : Abdul Basri

DISANDARKAN: Perahu nelayan berjejer di Desa Kertasada, Kecamatan Kalianget, kemarin.

DISANDARKAN: Perahu nelayan berjejer di Desa Kertasada, Kecamatan Kalianget, kemarin. (JUNAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengganti program kartu nelayan menjadi kartu pelaku usaha kelautan dan perikanan (Kusuka). Program yang dijalankan sejak awal 2018 itu belum sepenuhnya bisa dinikmati nelayan di Sumenep.

Kasi Perlindungan Nelayan dinas Perikanan Sumenep Iwan Darmanzah menyebutkan,  selama 2018 ada 1.277 Kusuka yang tersebar. Angka ini belum mencapai separo jumlah nelayan di Kota Keris yang tembus 42.000 orang. Dengan demikian, 40.723 belum tersentuh program tersebut.

 Pihaknya berkoordinasi dengan BNI berkaitan dengan pembagian Kusuka. Kartu tersebut juga bisa menjadi persyaratan administrasi untuk nelayan memperoleh bantuan. Bantuan yang diberikan biasanya berupa jaring atau perahu.

Pendataannya dilakukan oleh penyuluh perikanan bantu (PPB) di lapangan. Mereka biasanya langsung berkoordinasi dengan kelompok nelayan atau perangkat desa.

Iwan menegaskan bahwa Kusuka tidak hanya diperuntukkan kepada nelayan. Kartu kusuka diperuntukkan kepada masyarakat yang memiliki usaha kelautan.

Persyaratan untuk mendapatkan Kusuka hanya dengan mengisi formulir, fotokopi KK, dan fotokopi KTP.

Ada verifikasi untuk mengetahui usaha yang bersangkutan. Semisal pengepul, pembudi daya, dan nelayan. ”Dalam waktu dekat kita juga akan salurkan 1.600 Kusuka,” janjinya.

Abdul Mannan, 53, nelayan asal Desa Kertasada, Kecamatan Kalianget menuturkan, meski pernah mendengar istilah kartu nelayan, selama ini dia tidak begitu memperhatikan. Pasalnya, penyaluran bantuan nelayan dirasa juga tidak merata.

Diakui ada nelayan di desanya yang mendapat bantuan. Namun, bantuan itu kurang tepat sasaran. Padahal, banyak nelayan yang lebih layak mendapatkan bantuan, tapi tidak kebagian.

”Kalau begitu kan kasihan, bagaimana perasaan mereka yang benar-benar tidak punya (kurang mampu) tapi tidak mendapat bantuan,” tandasnya. (c3)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia