Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Disdik Akan Beri Bantuan Hukum

09 Oktober 2019, 02: 37: 10 WIB | editor : Abdul Basri

Disdik Akan Beri Bantuan Hukum

Share this      

SAMPANG – Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang tidak lepas tangan dengan kasus yang menimpa Hairul Anam. Organisasi perangkat daerah (OPD) yang dinakhodai Nur Alam itu akan memberi pendampingan hukum pada salah satu guru agama di SDN Gunung Sekar 1 tersebut.

Hairul Anam harus menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sampang setelah menjewer muridnya yang tidak membawa buku pelajaran hingga dua kali. Telinga siswa bernama Ah itu mengalami luka gores. Diduga terkena kuku sang guru karena meronta saat dijewer pada 11 Januari 2019 lalu.

Orang tua siswa tidak terima anaknya dijewer gurunya. Lalu, melaporkan Hairul Anam ke polisi. Kamis (10/9) besok Hairul Anam kembali menjalani sidang PN Sampang. Sebelumnya, dia juga mengikuti sidang pembacaan dakwaan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik Sampang Nur Alam menegaskan, pihaknya tentu akan memberikan pendampingan sekaligus bantuan hukum kepada guru tersebut. Selain itu juga akan melakukan pembinaan.

”Ini pelajaran. Tentu kami akan berikan pendampingan secara hukum,” ujarnya kemarin (8/10).

Disdik sebenarnya telah melakukan mediasi atas kasus tersebut. Namun, mediasi tak berhasil sehingga tindakan guru tersebut diproses secara hukum oleh orang tua siswa.

”Kami melalui PGRI telah berupaya, selain itu dari Korpri juga. Itu dilakukan dalam rangka memberikan perlindungan hukum,” terangnya.

Sementara itu, Hairul Anam selaku terlapor yang saat ini sudah menjadi terdakwa tetap bersikukuh supaya permasalahan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. Dia menegaskan tidak ada unsur kesengajaan untuk melukai telinga anak didiknya.

Pada saat itu siswa lainnya juga dijewer. Tetapi, tidak sampai luka karena tidak memberontak sehingga tidak terkena kukunya.

”Benar tak disengaja, saya juga sudah minta maaf kepada keluarganya. Tapi, tetap diproses secara hukum,” ungkap dia.

Hairul Anam menambahkan, tindakannya tersebut dilakukan karena siswanya sudah dua kali tidak membawa buku pelajaran. Sanksi jewer dianggap sebagai salah satu cara supaya siswanya tidak nakal lagi.

”Orang tuanya tidak terima, lalu saya dilaporkan. Saya sudah dua kali silaturahmi ke rumah orang tua siswa, tapi tetap tak berhasil,” tandasnya.

(mr/rus/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia